2 Februari 2026KOMINFO, Sidoarjo - Di banyak desa di Kabupaten Sidoarjo—dari kampung pesisir hingga wilayah agraris pedalaman—waktu tidak hanya diukur oleh kalender dan jam. Waktu juga ditandai oleh ritus kolektif: slametan desa, bersih desa, tahlilan, hingga selamatan gunungan. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan spiritual, solidaritas warga, dan identitas Islam Nusantara yang hidup di tengah masyarakat.Di tengah modernisasi dan industrialisasi yang cepat, ritual-ritual ini tetap bertahan—bahkan menemukan relevansi barunya.Slametan Desa: Kebersamaan yang Senyap tapi KuatIstilah slametan berasal dari kata Jawa slamet, yang berarti selamat, tenteram, dan sejahtera. Di desa-desa Sidoarjo, slametan digelar pada momen-momen penting: awal musim tanam, panen, peristiwa desa, hingga doa keselamatan bersama.Antropolog Koentjaraningrat menempatkan slametan sebagai inti kehidupan sosial Jawa.“Slametan adalah upacara terpenting dalam sistem religi masyarakat Jawa karena berfungsi menjaga keseimbangan sosial dan harmoni hidup bersama.”— Koentjaraningrat, Kebudayaan JawaDalam praktiknya, semua warga duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, dan memanjatkan doa yang sama. Tidak ada jarak status sosial. Kebersamaan itu tidak riuh, tetapi justru kuat karena dilakukan berulang kali lintas generasi.Bersih Desa: Merawat Ruang, Merawat HubunganRitual bersih desa di Sidoarjo menggabungkan kerja bakti, doa bersama, dan makan kolektif. Lingkungan fisik dibersihkan, tetapi yang lebih penting adalah relasi sosial yang dirawat.Sejarawan budaya Jawa Timur Agus Sunyoto melihat tradisi semacam ini sebagai bentuk etika sosial masyarakat Nusantara.“Tradisi bersih desa bukan sekadar ritual simbolik, melainkan cara masyarakat membangun tanggung jawab kolektif terhadap ruang hidupnya.”— Agus Sunyoto, sejarawan & budayawanBersih desa menjadi ruang temu lintas generasi. Anak-anak belajar bahwa desa bukan milik individu, tetapi milik bersama—dan karena itu harus dijaga bersama.Tahlilan Kolektif: Empati Sosial dalam Waktu DukaSaat duka datang, desa tidak membiarkan warganya sendirian. Tahlilan menjadi ruang kolektif untuk berdoa sekaligus menunjukkan empati sosial. Warga hadir, membantu, dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.Cendekiawan Muslim KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegaskan makna sosial dari tradisi semacam ini:“Agama di Indonesia hidup bukan hanya di kitab, tetapi di tradisi sosial yang menguatkan kemanusiaan.”— KH. Abdurrahman WahidDi desa-desa Sidoarjo, tahlilan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mekanisme sosial untuk menjaga kohesi komunitas.Gunungan Tempe Sedengan–Mijen–Krian: Simbol Syukur dan Identitas RakyatDi wilayah Sedengan, Mijen, dan Krian, slametan menemukan ekspresi khas melalui Selamatan Gunungan Tempe. Tempe—pangan rakyat—disusun menjadi gunungan, didoakan, lalu dibagikan kepada warga.Tokoh budaya Sidoarjo, (alm.) Mbah Sastro, sesepuh desa Sedengan, pernah menyebut makna gunungan tempe dengan sederhana:“Gunungan tempe itu doa yang bisa dimakan bersama. Supaya rezeki tidak berhenti di satu tangan.”Pernyataan ini mencerminkan filosofi dasar tradisi: syukur, kebersamaan, dan keadilan sosial. Tempe dipilih karena ia merakyat, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menjadi simbol ketahanan pangan lokal.______________Islam Nusantara yang Hidup di DesaRitual slametan, bersih desa, tahlilan, dan gunungan tempe menunjukkan wajah Islam Nusantara—Islam yang tumbuh bersama budaya lokal, bukan meniadakannya.Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menegaskan:“Islam Nusantara adalah Islam yang ramah budaya, tidak memutus tradisi, tetapi memaknainya.”Di Sidoarjo, Islam hadir di masjid, pesantren, sekaligus di dapur warga, balai desa, dan halaman tempat gunungan tempe dibagikan.Makna bagi Generasi MudaBagi generasi muda, tradisi desa mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya terdapat nilai-nilai besar:• Kebersamaan di tengah individualisme• Empati sosial di era digital• Identitas kolektif di tengah perubahan cepatTradisi desa bukan romantisme masa lalu, melainkan arsitektur sosial yang membuat masyarakat tetap utuh.Referensi & Sumber• Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa• Clifford Geertz, The Religion of Java• Arsip & kajian Islam Nusantara – PBNU• Dokumentasi budaya desa Sedengan–Mijen–Krian, Sidoarjo• Wawancara dan penuturan tokoh budaya lokal• Dinas Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026 diwarnai beragam kegiatan sosio-kultural yang sarat nilai tradisi. Salah satunya tradisi ruwat desa atau sedekah bumi yang kembali digelar meriah oleh masyarakat Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.Ikon utama dalam kegiatan ini adalah tumpeng tempe raksasa setinggi sekitar 13–14 meter yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus identitas Sedengan Mijen sebagai desa sentra penghasil tempe. Tumpeng tersebut dibuat dari kurang lebih tiga kuintal kedelai dan disusun secara gotong royong oleh warga.Usai didoakan, ribuan warga yang sejak pagi memadati Lapangan Desa Sedengan Mijen langsung berebut potongan tempe. Suasana penuh kegembiraan tampak mewarnai prosesi tersebut, karena tempe yang dibagikan diyakini membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkannya.Tidak hanya sedekah tumpeng tempe raksasa, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa masing-masing RT. Beragam hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan tersaji dan turut diperebutkan warga, menambah semarak kebersamaan.Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan dan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi budaya lokal.“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi. Tradisi seperti ini sangat positif karena tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata daerah,” ujar Nawari saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu (1/2/2026).Ia menambahkan, apabila terus dilestarikan, kegiatan budaya seperti sedekah tumpeng tempe dapat masuk dalam agenda wisata daerah.Sementara itu, Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, menegaskan bahwa sedekah tumpeng tempe bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wujud rasa syukur dan kebersamaan warga.“Alhamdulillah seluruh rangkaian ruwat desa berjalan lancar. Ini adalah bentuk syukur masyarakat sekaligus sarana mempererat persatuan. Kami mengucapkan terima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang turut bekerja keras menyukseskan acara ini,” ungkapnya.Rangkaian ruwat desa telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, mulai dari istighosah, barikan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit, hingga pasar jajanan tradisional. Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi doa bersama dan perebutan tumpeng di lapangan desa. Antusiasme warga terlihat hingga acara berakhir.Tradisi tumpeng tempe raksasa ini pun terus menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat Sedengan Mijen, sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Kabupaten Sidoarjo. (Mar)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Animo masyarakat pada Car Free Day (CFD) di Jalan A. Yani Sidoarjo sangat tinggi. Ribuan warga Sidoarjo menyambut gembira dimulainya kembali pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor tahun ini. Berbagai komunitas masyarakat terlihat hadir. Mulai komunitas senam yang memanfaatkan monumen Jayandaru untuk senam bersama maupun komunitas sepada angin yang terlihat memadati area Car Free Day sisi Barat Jalan A. Yani Sidoarjo. Pemkab Sidoarjo juga memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menggerakkan para pelaku UMKM Sidoarjo. Sisi sebelah Timur Jalan A. Yani Sidoarjo dikhususkan bagi para pelaku UMKM Sidoarjo untuk berjualan. Tidak hanya komunitas masyarakat maupun para pelaku UMKM saja yang memanfaatkan Car Free Day yang dimulai pukul 06.00 sampai 09.00 WIB tersebut. Instansi pemerintah juga ikut memanfaatkannya untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Seperti pelayanan cek kesehatan yang dilakukan RSUD Sidoarjo Barat maupun PMI Sidoarjo yang menggelar donor darah. Badan Pelayanan pajak Daerah/BPPD Sidoarjo juga ikut mendirikan tenda pelayanan pembayaran pajak. Tidak ketinggalan Dinas Kominfo Sidoarjo ikut menggelar pelayanan jemput bola terkait pengaduan masyarakat.Pagi tadi, Car Free Day itu resmi dibuka oleh Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati di depan monumen Jayandaru Alun-alun Sidoarjo, Minggu, (1/2). Ia menyampaikan pelaksanaan Car Free Day menjadi komitmen bupati dan wakil bupati Sidoarjo untuk meningkatkan indeks kualitas lingkungan hidup. Diharapkannya kegiatan yang digelar setiap Minggu tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga. “Ini bentuk komitmen beliau untuk memberikan ruang kepada masyarakat agar indeks kualitas lingkungan hidup Kabupaten Sidoarjo lebih baik, supaya kita semua sehat, setiap pagi senam,”ucapnya.Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati juga meminta masyarakat yang hadir untuk ikut menjaga kebersihan disetiap pelaksanaan Car Free Day. Dikatakanya kesuksesan pelaksanaan Car Free Day tergantung pada masyarakat itu sendiri. Bukan tidak mungkin area Car Free Day akan diperluas jika masyarakat yang hadir mampu menjaga kebersihan dan lingkungan. “Saya berharap bapak ibu semua yang ikut Car Free Day semuanya sehat, tetap menjaga kebersihan, tepat menjaga lingkungan,”pintanya.Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo Budi Basuki melihat animo masyarakat begitu tinggi untuk hadir di Car Free Day kali ini. Pasalnya sudah cukup lama pelaksanaan Car Free Day tidak diselenggarakan Pemkab Sidoarjo. Ia bersyukur diawal pelaksanaannya dapat berjalan lancar. Namun ia tidak menampik masih banyak masyarakat yang kebingungan rute jalan pengalihan arus saat Car Free Day.“Nanti kami akan perbanyak sosialisasi dan rambu terkait dengan pengalihan arus, tetapi secara umum menurut kami ini berjalan lancar,” ucapnya. Budi Basuki juga menyampaikan dengan dibukanya Car Free Day di Jalan A. Yani Sidoarjo, arus Jalan Ponti Sidoarjo sisi Barat kembali dibuka. Pasalnya UMKM Street Market yang setiap Minggu pagi berjualan di Jalan Ponti Sidoarjo tersebut digeser berjulan di area Car Free Day di Jalan A. Yani Sidoarjo. “UMKM ini banyak yang dari Street Market yang ada di Jalan Ponti, jadi alhamdulillah Jalan Raya Ponti lancar, tidak ada UMKM yang berjualan di Jalan Ponti,” ucapnya. Dalam kesempatan itu Wakil Bupati Hj. Mimik Idayana menyempatkan berkeliling melihat pelaksanaan Car Free Day Jalan A. Yani Sidoarjo. Mulai dari penataan stan UMKM maupun pelayanan pemerintah yang dihadirkan. Ia juga meninjau kesiapan sarana dan prasarana Alun-alun Sidoarjo dalam menghadirkan ruang terbuka hijau yang nyaman dan aman bagi masyarakat. Git
Selengkapnya
Kominfo, Sidoarjo - Dalam rangkaian Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo yang ke-167 Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo kembali menggelar Doa Bersama 1000 Anak Yatim di Pendopo Delta Wibawa, Minggu 01/02/2026.Tampak hadir diantara Jama`ah Sholawatan dan Doa Bersama Sekretaris Daerah Fenny Apridawati, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan SDM Mochammad Hudori, P3AKB Kab. Sidoarjo Heni Kristiani, Kepala Disporapar Yudhi Irianto, Kabag Hukum Setda. Kab. Sidoarjo Komang Rai Darmawan, Kabag. Kesra Setda Kab.Sidoarjo Musfofi Al Mahalli, LKSA, Baznas serta pengasuh Yayasan Yatim-Piatu se Kabupaten SidoarjoDalam sambutannya Sekretaris menyampaikan permohonan lantunan doa bersama untuk kemlasahatan di Kabupaten Sidoarjo serta untuk Sidoarjo yang lebih baik. Dengan usia ke 167 Kabupaten Sidoarjo bukan usia yang muda lagi untuk itu dengan usia yg cukup matang ini hendaknya masyarakat Sidoarjo untuk lebih kokoh serta kompak lagi dalam membangun Kabupaten Sidoarjo."Mari kita sepakati bersama untuk membangun Kabupaten Sidoarjo, untuk itu diperlukan sumberdaya manusia yang luar biasa, sehingga jangan sampai ditemukan anak-anak di Sidoarjo yang tidak bersekolah, atau anak yang dalam kondisi sakit tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan karena di Kabupaten Sidoarjo hanya dengan membawa KTP saja sudah bisa mendapatkan layanan kesehatan dengan gratis", ucapnyaIa pun menambahkan pada moment peringatan ini bukan sekadar memperingati sebuah momen bersejarah, melainkan untuk mengingatkan kepada semua tentang nilai kemanusiaan yang harus terus terpelihara, perlu bersama-sama untuk hijrah dari baik menjadi lebih baik, lebih baik menjadi sangat baik. Selain itu sebagai masyarakat yang berhubungan langsung dengan masyarakat hendaknya mau menegur atau mengingatkan orang yang berperilaku kurang bagus."Mari ingatkan jika mungkin ditemukan orang yang melakukan tindak perusakan fasilitas umum, membuang sampah tidak pada tempatnya maka saya mohon kepada masyarakat saling mengingatkan", tandasnyaKegiatan ini juga diisi dengan penyerahan secara simbolis bantuan dan sumbangan dari berbagai elemen masyarakat kepada anak-anak yatim piatu yang hadir yang mana bukan hanya sekedar memberikan donasi, namun menjadi wujud nyata dari rasa syukur dan tanggung jawab sosial bersama terhadap generasi penerus.Dan pada acara yang berlangsung dengan penuh khidmat ini berakhir dengan penuh pengharapan akan setiap doa yang dipanjatkan akan membawa berkah dan kemakmuran bagi Kabupaten Sidoarjo.
Selengkapnya
Kominfo, Sidoarjo - Bupati Sidoarjo H. Subandi meresmikan Masjid Al Ikhlas yang berada di Perumahan Pabean Asri, Kecamatan Sedati, Sabtu (31/01/2025). Peresmian masjid tersebut disambut antusias oleh ratusan jamaah yang turut hadir dan memanjatkan doa bersama demi keberkahan Masjid Al Ikhlas Pabean Asri.Acara peresmian ini turut dihadiri jajaran Forkopimda Kabupaten Sidoarjo, para tokoh agama, serta warga masyarakat Pabean Asri. Kehadiran berbagai elemen tersebut menunjukkan kuatnya dukungan dan kebersamaan dalam pembangunan sarana ibadah di lingkungan masyarakat.Dalam sambutannya, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kemakmuran masjid serta mengisinya dengan berbagai kegiatan keagamaan yang bermanfaat. Ia menegaskan bahwa masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, namun juga sebagai sarana mempererat silaturahmi antarwarga.“Masjid ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan yang baik dan tempat silaturahmi yang membawa manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar H. SubandiLebih lanjut, H. Subandi menyampaikan bahwa berdirinya Masjid Al Ikhlas sejak peletakan batu pertama pada tahun 2021 hingga dapat diresmikan saat ini merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara takmir masjid dan masyarakat yang terlibat secara aktif."Allhamdulillah, apa yang kami awali sejak 2021 kini menjadi kenyataan. Masjid ini adalah milik seluruh warga Pabean Asri tanpa terkecuali," ujarnya.Di akhir sambutannya, Bupati Sidoarjo berharap agar Masjid Al Ikhlas Pabean Asri dapat terus dijaga dan dirawat bersama, sehingga manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh masyarakat saat ini, tetapi juga oleh generasi yang akan datang. (Son)
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo — Tahun 2026 ini Kabupaten Sidoarjo sudah menapaki usianya yang ke-167. 31 Januari 1859 menjadi tonggak perjalanan panjang dalam membangun daerah. Komitmen Kabupaten Sidoarjo untuk bertransformasi menjadi daerah yang maju dan berkembang terus diperlihatkan. Usia lebih dari satu setengah abad tersebut menjadi bukti kerja keras, kebersamaan, serta kuatnya semangat gotong royong masyarakat Sidoarjo dalam mewujudkan pembangunan daerah. Kamis malam, (30/1), sebagai ucapan rasa syukur digelar tasyakuran Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo/Harjasda ke 167 tahun 2025 di Pendopo Delta Wibawa. Tasyakuran dengan suasana penuh syukur itu dihadiri Forkopimda Sidoarjo. Antara lain Bupati Sidoarjo H. Subandi, Kapolresta Sidoarjo Kombespol Christian Tobing serta Dandim 0816/Sidoarjo Letkol Czi Shobirin Setio Utomo dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo Warih Andono. Hadir pula Danpasmar 2 Mayor Jenderal TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, Kas Sub Kogartap 0816/Sda Mayor Laut (PM) Aan Hendrawan serta Kepala BNNK Sidoarjo Kombespol Gatot Soegeng Soesanto. Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati dan seluruh pejabat Sidoarjo juga hadir dalam kesempatan tersebut. Selain itu hadir pula para kyai Sidoarjo. Diantaranya Ketua MUI Kabupaten Sidoarjo KH. DR. Ahmad Muhammad, KH. Abdul Aziz Munif, KH. Rofiq Siroj serta KH. Abdi Manaf dan Habib Najib Al Hadad. Para kyai Sidoarjo tersebut saling bergantian mendoakan untuk kebaikan Kabupaten Sidoarjo.Dalam sambutannya Bupati Sidoarjo H. Subandi menyampaikan bahwa Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremoni tahunan saja. Namun juga sebagai momentum refleksi atas capaian pembangunan yang telah diraih. Selain itu, peringatan tersebut menjadi ajang untuk menata langkah ke depan dengan visi pembangunan yang lebih jelas dan terarah. “Sudah saatnya kita saling bergandeng tangan, bahu-membahu, dan bekerja cerdas demi mewujudkan Kabupaten Sidoarjo yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera,” ucapnya. Bupati H. Subandi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga harmonisasi kehidupan sosial dengan saling menghargai dan memperkuat persaudaraan. Menurutnya persatuan dan kesatuan bangsa merupakan fondasi utama agar masyarakat terhindar dari politik adu domba yang dapat menghambat pembangunan. Ia juga meminta untuk terus menumbuhkan nilai-nilai gotong royong, guyub rukun, dan kebersamaan di tengah masyarakat. "Dengan kebersamaan, saya yakin Sidoarjo akan lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,"ujarnya. Pada kesempatan tersebut Bupati H. Subandi mengajak seluruh undangan yang hadir untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT agar Kabupaten Sidoarjo senantiasa dijaga dari segala macam bahaya dan bencana. Ia juga mengajak semuanya untuk berdoa agar Kabupaten Sidoarjo selalu dilimpahi keberkahan dalam setiap langkah pembangunan. Ia juga berharap Kabupaten Sidoarjo dapat terus berkembang menjadi daerah yang lebih baik, harmonis, dan sejahtera menuju kabupaten yang baldatun thayyibatun warobbun ghofur. "Saya ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan panjang pembangunan Kabupaten Sidoarjo, mari kita terus melangkah bersama demi Sidoarjo yang semakin maju dan sejahtera,"ucapnya. Git
Selengkapnya
KOMINFO, Sidoarjo - Ketika sejarah Majapahit dibicarakan, ingatan publik hampir selalu tertuju pada Trowulan—bekas ibu kota kerajaan besar itu. Candi-candi bata merah, kolam Segaran, dan kisah raja-raja agung seolah mengunci pusat perhatian di satu titik. Namun di balik kemegahan itu, ada wilayah lain yang diam-diam menopang denyut kehidupan Majapahit: Sidoarjo.Pada abad ke-14, wilayah yang kini bernama Sidoarjo bukan sekadar daerah pinggiran. Letaknya yang strategis di pesisir timur Jawa, dekat muara sungai-sungai besar seperti Brantas, menjadikannya simpul penting antara pedalaman agraris dan jalur perdagangan laut. Dalam konteks kerajaan maritim-agraris seperti Majapahit, posisi semacam ini bernilai vital.Wilayah Penyangga: Logistik, Pangan, dan SpiritualitasMajapahit bukan hanya kerajaan politik, melainkan juga sistem ekonomi dan budaya yang kompleks. Untuk menopang pusat kekuasaan di pedalaman, dibutuhkan daerah penyangga yang mampu menyediakan kebutuhan dasar kerajaan: pangan, hasil tambak, hingga jalur distribusi.Sidoarjo memenuhi semua fungsi itu. Kawasan ini sejak lama dikenal subur dan kaya sumber daya air. Sistem pertanian sawah dan tambak berkembang berdampingan, memungkinkan produksi beras, ikan, dan hasil pesisir secara berkelanjutan. Inilah fondasi ekonomi yang menopang kehidupan istana dan kota-kota kerajaan.Selain fungsi logistik, wilayah penyangga juga memiliki peran spiritual. Dalam kosmologi Hindu–Buddha Jawa, keseimbangan antara pusat dan pinggiran sangat penting. Daerah-daerah di luar ibu kota menjadi ruang ritual, tempat pendharmaan, dan simbol penjaga harmoni alam.Candi Pari: Penanda Sejarah yang TegasJejak peran strategis Sidoarjo pada masa Majapahit paling jelas terlihat dari keberadaan Candi Pari. Candi ini berdiri di Desa Candipari, Kecamatan Porong, dan bertarikh tahun 1371 M—masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.Dibangun dari bata merah khas Majapahit, Candi Pari menunjukkan gaya arsitektur Hindu dengan pengaruh kuat India namun telah beradaptasi dengan tradisi lokal Jawa Timur. Candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan atau pendharmaan, bukan sekadar bangunan ibadah biasa.Keberadaan Candi Pari menegaskan satu hal penting: Sidoarjo bukan wilayah kosong yang kebetulan tersentuh pengaruh Majapahit, melainkan bagian integral dari sistem kekuasaan kerajaan. Tidak sembarang daerah dibangun candi resmi pada masa itu—hanya wilayah yang memiliki nilai politik, spiritual, dan ekonomi.Candi Sumur dan Pamotan: Fragmen Sejarah yang TercecerSelain Candi Pari, Sidoarjo juga menyimpan situs lain seperti Candi Sumur dan Candi Pamotan. Meski tidak seutuh dan sepopuler Candi Pari, keberadaan kedua situs ini memperkuat gambaran bahwa wilayah Sidoarjo merupakan lanskap religius pada masa Hindu–Buddha.Candi Sumur, dengan struktur yang sederhana dan terkait dengan sumber air, menunjukkan pentingnya unsur air dalam ritual keagamaan Majapahit. Air tidak hanya dimaknai sebagai kebutuhan hidup, tetapi juga sarana penyucian dan simbol kesuburan.Sementara itu, Candi Pamotan—meski kini tinggal jejak—menjadi penanda bahwa aktivitas keagamaan dan pemukiman kuno tersebar luas di wilayah ini. Fragmen-fragmen bata dan temuan arkeologis mengisyaratkan adanya jaringan situs yang lebih besar, sebagian hilang oleh waktu dan perubahan lanskap.Sidoarjo dalam Jaringan Perdagangan MajapahitLetak Sidoarjo yang dekat dengan pesisir menjadikannya penghubung antara jalur sungai dan laut. Dari wilayah ini, hasil bumi dan tambak dapat dialirkan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir, lalu diperdagangkan ke wilayah Nusantara lain.Majapahit dikenal sebagai kerajaan dengan jaringan perdagangan luas, dan Sidoarjo berperan sebagai salah satu simpul distribusi itu. Perahu-perahu kecil menyusuri sungai, membawa hasil pertanian dan perikanan dari desa-desa penyangga menuju pusat perdagangan.Dengan demikian, Sidoarjo bukan hanya penopang pasif, tetapi bagian aktif dari ekonomi maritim Majapahit.Jejak yang Tertutup ZamanSayangnya, peran penting Sidoarjo dalam sejarah Majapahit sering luput dari narasi besar. Industrialisasi, urbanisasi, dan perubahan alam—termasuk bencana modern—telah menutupi banyak jejak masa lalu.Namun candi-candi yang masih berdiri dan situs-situs yang tersisa menjadi pengingat bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang sebagai ruang strategis kerajaan besar. Membaca Sidoarjo hanya sebagai kota industri modern berarti mengabaikan lapisan sejarah yang membentuk identitasnya.Membaca Ulang SidoarjoJejak Majapahit di Sidoarjo mengajarkan satu hal penting: sejarah tidak hanya ditulis di pusat kekuasaan, tetapi juga di wilayah penyangga yang bekerja dalam senyap. Tanpa daerah seperti Sidoarjo, kejayaan Majapahit tak akan berdiri kokoh.Hari ini, ketika Sidoarjo terus tumbuh dan berubah, jejak-jejak itu layak dibaca ulang—bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai fondasi identitas wilayah yang pernah menjadi bagian penting dari salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. (irw/Diskominfo)Referensi• Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia, Balai Pustaka• Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur• Data dan kajian arkeologi Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan• Prasasti Majapahit abad ke-14 (era Hayam Wuruk)
Selengkapnya
Sidoarjo, 29 Januari 2026Antara Sejarah, Identitas Lokal, dan Potensi Wisata BudayaDi tengah hiruk-pikuk pemukiman Desa Pamotan, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, berdiri dua reruntuhan batu bata merah yang tampak sederhana, namun menyimpan jejak penting dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Situs ini dikenal sebagai Candi Pamotan I dan Candi Pamotan II — bagian dari sejarah awal peninggalan peradaban Hindu-Buddha di Jawa Timur yang kerap terlupakan. Ket foto: Candi Pamotan IJejak Arkeologi: Apa Itu Candi Pamotan?Candi Pamotan bukan monumen besar seperti Borobudur atau Prambanan, melainkan dua struktur candi kecil yang kini sebagian besar telah runtuh. Candi Pamotan I memiliki ukuran sekitar 4,8 × 4,8 meter dengan sisa dinding dan fondasi batu bata merah, sementara Candi Pamotan II sedikit lebih kecil dan dalam kondisi lebih rusak, bahkan terdapat arca tanpa kepala di atasnya. Dua bangunan ini hanya menyisakan tumpukan batu bata merah, kolam-kolam yang meninggi saat musim hujan, dan dikelilingi vegetasi serta alang-alang — pemandangan yang mungkin tampak sederhana, bahkan biasa, tapi justru itulah yang menyimpan cerita panjang masa lalu. Ket. Foto: Candi Pamotan IIKapan dan Siapa yang Membangun Candi Pamotan?Ini bagian sejarah yang paling menarik sekaligus paling tidak pasti:Karena tidak ditemukan prasasti, naskah, atau dokumen sejarah tertulis tentang Candi Pamotan, para peneliti sulit sekali menetapkan tahun pembangunan atau nama raja yang memerintahkan pembangunannya. Namun, dari gaya arsitektur yang tersisa — terutama penggunaan batu bata merah yang menjadi ciri khas candi-candi di Jawa Timur — para ahli sejarah menyimpulkan bahwa Candi Pamotan berasal dari era Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga ke-15). Gaya bata merah juga ditemui di banyak situs lain di Sidoarjo dan sekitarnya, seperti Candi Pari dan Candi Sumur, yang merupakan bagian dari kompleks candi Majapahit di Porong. Kerajaan Majapahit sendiri merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara. Didirikan oleh Raden Wijaya pada akhir abad ke-13, kerajaan ini mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Meskipun Candi Pamotan tidak dikaitkan langsung dengan nama raja tertentu, keberadaannya kental dengan periode sejarah ini. Ket. Foto: Plakat Masuk Candi Pamotan Fungsi dan Makna Sosial BudayaBerbeda dengan candi besar yang jelas berfungsi sebagai tempat ibadah atau pusat ritual keagamaan, interpretasi tentang fungsi Candi Pamotan berasal dari cerita lisan dan kajian lokal:Tempat Penampungan atau Transaksi PadiMenurut warga sekitar, Pamotan dulunya merupakan tempat strategis bagi agraris di wilayah tersebut untuk menyimpan padi atau hasil bumi sebelum dikirim ke pusat kekuasaan Majapahit. Sepanjang sejarah Jawa kuno, wilayah Porong dikenal sebagai lahan subur penghasil padi. Istilah “Pamotan” sendiri konon berasal dari kata pamuatan — yakni kegiatan memuat hasil panen. Meski ini belum terbukti secara ilmiah atau tercatat dalam dokumen sejarah klasik, cerita ini tetap menjadi bagian dari identitas lokal yang hidup dari generasi ke generasi. Kondisi Saat Ini dan Tantangan PelestarianDua candi dari Pamotan kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan:Banyak bagian tubuh bangunan yang sudah runtuhStruktur candi tertutup lumut, sering terendam air hujanTidak ada atap atau ukiran yang masih berdiri utuhSitus tersembunyi di area kampung yang belum memiliki akses wisata formal Kondisi ini membuat banyak orang yang tidak menyadari keberadaan Candi Pamotan, bahkan warga lokal pun sering mengira situs itu hanya sekadar “tumpukan bata tua”. Namun sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah telah menetapkan Candi Pamotan sebagai struktur cagar budaya tingkat kabupaten. Ada upaya pelestarian dan peningkatan fungsi edukatif melalui kolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan, sekolah-sekolah, serta komunitas sejarah. Ket. Foto: Candi Pamotan IICandi Pamotan dalam Peta Warisan MajapahitMeski kecil, Candi Pamotan tetap bagian dari jaringan peninggalan Majapahit yang tersebar di Kabupaten Sidoarjo. Menurut catatan sumber sejarah budaya, sejumlah candi di wilayah Porong — termasuk Candi Pari, Candi Sumur, serta dua Candi Pamotan — menegaskan betapa daerah ini pernah menjadi pusat kegiatan monumental pada masa lalu. Peluang dan Arah Pengembangan Wisata BudayaBukan hanya sekadar batu bata tua, Candi Pamotan punya potensi menjadi destinasi wisata sejarah dan edukatif:Menjadi saksi akulturasi budaya Hindu-Buddha NusantaraTempat pembelajaran tentang teknik bangunan kunoDapat dikembangkan sebagai bagian dari rute wisata sejarah Majapahit di SidoarjoBisa menjadi tempat pelayanan edukasi sekolah dan tur sejarah masyarakat Dengan pendekatan yang mencakup pelestarian, penataan kawasan, pelibatan masyarakat lokal, serta edukasi digital, Candi Pamotan dapat menjadi ikon kekayaan budaya yang hidup berdampingan dengan perkembangan zaman tanpa mengorbankan kenyamanan warga setempat. Kesimpulan: Jejak Masa Lalu yang Belum Selesai DiceritakanCandi Pamotan adalah contoh nyata bagaimana sebuah situs kecil pun bisa menjadi gerbang masuk ke masa lalu besar peradaban Indonesia. Walau tidak tersohor, kondisinya yang sederhana justru membuat situs ini unik secara arkeologis dan menarik secara historis.Tidak ada informasi pasti tentang siapa raja yang membangunnya atau tahun pembangunannya, tetapi ciri arsitektur bata merah jelas mengaitkannya dengan era Kerajaan Majapahit, sebuah periode sejarah yang menjadi simbol kejayaan Nusantara. (irw/Diskominfo)Sumber Data dan Rujukan UtamaKompas: Sejarah Candi Pamotan di Sidoarjo — ciri arsitektur Majapahit dan kesulitan penentuan sejarah pasti. Dinas Pariwisata Sidoarjo (2025) — cagar budaya dan pengembangan wisata. Perintis.co.id — deskripsi fisik dua candi dan keadaan situs. IndoZone Feature — catatan ukuran, kondisi, dan sejarah penemuan objek. Kompas: daftar candi Majapahit termasuk Pamotan.
Selengkapnya
KOMINFOSidoarjo - Bupati Sidoarjo H. Subandi menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk mempercepat pelaksanaan pendirian Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di seluruh desa dan kelurahan. Hal itu disampaikan dalam rapat koordinasi bersama pimpinan DPRD, Forkopimda, camat, dan kepala desa yang digelar di ruang OPS Room Setda Sidoarjo, Rabu (28/1/2026).Subandi menyampaikan bahwa percepatan KDKMP merupakan bentuk atensi pemerintah daerah dalam mendukung program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Ia menekankan, keberhasilan pemerintah daerah tidak lepas dari sinergi semua pihak, mulai dari DPRD, camat, hingga kepala desa.“Kita sebagai pimpinan daerah mempertegas kembali target KDKMP ini. Program ini harus segera dimaksimalkan, terutama karena menjadi bagian dari program Bapak Presiden,” tegas Subandi.Subandi secara khusus meminta para camat untuk aktif melakukan pendampingan kepada desa dan kelurahan. Ia menekankan pentingnya pemetaan persoalan di lapangan, terutama terkait desa yang belum memiliki anggaran Bantuan Keuangan (BK) atau memiliki BK dengan nilai terbatas.“Saya minta Pak Camat betul-betul menjalankan tugas pendampingan. Data yang sudah masuk portal harus terus di-update minimal tiga hari sekali. Sampaikan apa kendalanya, kenapa bisa jalan atau tidak bisa jalan,” ujarnya.Dalam pemetaan sementara, terdapat sekitar 47 lokasi KDKMP di Kabupaten Sidoarjo yang masih terkendala pengurukan. Dari jumlah tersebut, 27 lokasi belum memiliki dukungan yang memadai, sementara 20 lokasi lainnya perlu pemetaan lebih lanjut terkait kondisi lahannya.Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Pemkab Sidoarjo menyiapkan solusi alternatif, termasuk pemanfaatan lahan yang memungkinkan untuk digali. Pemerintah daerah juga menyiapkan alat berat dan armada pengangkut.“Kita punya sembilan backhoe. Truk dari pemda juga kita siapkan. Desa nanti tinggal membantu pelaksanaan di lapangan agar pengurukan bisa berjalan,” jelasnya.Subandi juga membuka peluang agar hasil galian dapat dimanfaatkan oleh desa, misalnya untuk kolam ternak lele atau kebutuhan lainnya, sehingga tetap memberikan nilai tambah bagi masyarakat.Selain KDKMP, Subandi turut menyoroti persoalan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang masih menjadi pekerjaan rumah serius. Saat ini, Kabupaten Sidoarjo masih kekurangan LP2B sekitar 4.000, yang berdampak pada terhambatnya penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan iklim investasi.“Kalau RDTR terhambat, investasi juga ikut terhambat. Padahal investor butuh kepastian hukum. Minggu depan saya akan ke Jakarta untuk mengawal langsung persoalan ini,” ungkapnya.Ia berharap, dengan selesainya penetapan LP2B dan RDTR, arah peruntukan wilayah di desa dan kelurahan menjadi jelas sehingga tidak lagi menghambat pembangunan dan investasi di Sidoarjo.Menutup arahannya, Subandi mengajak seluruh camat dan kepala desa untuk bekerja bersama dan saling mendukung demi menyukseskan visi dan misi Presiden serta memastikan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.“Mari kita kerja bareng-bareng. Ini program pusat dan menjadi atensi kita bersama. Kalau kita solid, saya yakin kesejahteraan masyarakat Sidoarjo bisa benar-benar terwujud,” pungkasnya. (Mar)
Selengkapnya
KOMINFO, SIDOARJO - Bupati Sidoarjo H. Subandi menyerahkan satu mobil pickup beserta satu unit stamper atau alat pemadat aspal kepada masing-masing kecamatan. Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada tiga kecamatan. Yakni Kecamatan Sidoarjo, Kecamatan Candi, Kecamatan Gedangan. Penyerahan dilakukan di Pendopo Delta Wibawa kepada Camat Sidoarjo M. Aziz Muslim, Camat Candi Yuni Rismawati dan Camat Gedangan Asmara Hadi, Selasa pagi, (27/1/2026). Penyerahan mobil pickup beserta unit stamper digunakan untuk mendukung program anggaran Pagu Indikatif Wilayah Kecamatan (PIWK) yang difokuskan perbaikan jalan. Program PIWK tersebut memberikan kewenangan setiap kecamatan untuk melakukan sendiri perbaikan jalan rusak diwilayahnya. Dengan program PIWK tersebut diharapkan penanganan jalan rusak dapat segera dilakukan.Bupati Sidoarjo H. Subandi mengatakan mobil pickup beserta satu unit stamper akan dipakai masing-masing kecamatan untuk perbaikan infrasturktur jalan diwilayahnya. Jalan berlubang dapat ditangani langsung oleh setiap kecamatan. Tidak menunggu Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo yang selama ini menjadi tanggung jawabnya.“Ini tadi sudah saya sampaikan kepada pak camat semuanya, dengan PIWK ini sebelum lebaran tidak ada jalan berlubang di Sidoarjo,”ucap bupati usai penyerahan.Namun sebelumnya Pemkab Sidoarjo akan memetakan kewenangan jalan dalam perbaikannya. Perbaikan jalan mana saja yang menjadi kewenangan Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo dan kecamatan.“Nanti kita petakan, mana urusan PU, kalau PU kita pakai swakelola, nanti kecamatan semuanya pakai PIWK,”ujarnya.Bupati H. Subandi mengatakan pendampingan akan dilakukan Dinas PU Bina Marga dan SDA Sidoarjo. Pihak kecamatan dan pemerintah desa diharapkan saling berkoordinasi dalam penanganan perbaikan jalan. Dengan begitu percepatan perbaikan jalan rusak yang ada di desa segera tertangani. “Nanti kecamatan berkoordinasi dengan desa untuk percepatan penanganan jalan-jalan rusak yang ada di desa, jadi nanti komunikasinya desa dengan camat, kalau camat dan desa tidak mampu kita limpahkan ke PU,”pungkasnya. Git
Selengkapnya2.12.2025
2.12.2025
12.11.2025
28.10.2025
14.10.2025
9.10.2025
29.09.2025
17.09.2025
16.09.2025
8.09.2025
4.09.2025
3.09.2025
30.07.2025
23.07.2025
23.07.2025
17.07.2025
10.07.2025
10.07.2025
7.07.2025
7.07.2025
4.07.2025
12.06.2025
12.06.2025
19.05.2025
24.04.2025
11.04.2025
19.03.2025
17.03.2025
28.02.2025
26.02.2025
17.02.2025
3.02.2025
3.02.2025
23.01.2025
23.01.2025
20.01.2025
17.12.2024
13.12.2024
13.12.2024
19.11.2024
17.10.2024
17.10.2024
2.10.2024
17.09.2024
9.09.2024
30.08.2024
27.08.2024
25.07.2024
11.07.2024
27.05.2024
8.05.2024
1.04.2024
28.02.2024
25.01.2024
21.01.2024
18.01.2024
15.01.2024
10.01.2024
9.01.2024
9.01.2024
2.01.2024
22.12.2023
18.12.2023
3.12.2023
24.11.2023
20.11.2023
13.11.2023
9.11.2023
27.10.2023
10.10.2023
3.10.2023
13.09.2023
25.08.2023
22.08.2023
22.08.2023
26.07.2023
24.07.2023
28.06.2023
9.01.2026 - 31.01.2026
8.01.2026 - 15.01.2026
15.01.2026 - 22.01.2026
8.01.2026 - 11.01.2026
6.01.2026 - 25.01.2026
6.01.2026 - 11.01.2026
21.12.2025 - 28.12.2025
18.12.2025 - 21.12.2025
18.12.2025 - 22.01.2026
16.12.2025 - 18.12.2025
15.12.2025 - 16.12.2025
1.12.2025 - 15.12.2025
19.12.2025 - 20.12.2025
24.10.2025 - 28.10.2025
22.09.2025 - 19.10.2025
2.11.2025 - 2.11.2025
15.09.2025 - 12.10.2025
9.09.2025 - 14.10.2025
3.09.2025 - 4.09.2025
4.09.2025 - 30.09.2025
10.06.2025 - 17.06.2025
10.06.2025 - 24.06.2025
5.06.2025 - 16.06.2025
4.06.2025 - 10.06.2025
3.06.2025 - 10.06.2025
3.06.2025 - 10.06.2025
2.06.2025 - 5.06.2025
27.05.2025 - 28.05.2025
26.05.2025 - 28.05.2025
26.05.2025 - 3.06.2025
23.05.2025 - 2.06.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 26.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
22.05.2025 - 25.05.2025
19.05.2025 - 25.05.2025
16.05.2025 - 18.05.2025
13.05.2025 - 20.05.2025
16.05.2025 - 18.05.2025
15.05.2025 - 16.05.2025
14.05.2025 - 24.05.2025
9.05.2025 - 22.05.2025
9.05.2025 - 11.05.2025
9.05.2025 - 9.06.2025
8.05.2025 - 15.05.2025
8.05.2025 - 19.05.2025
5.05.2025 - 11.05.2025
5.05.2025 - 20.05.2025
5.05.2025 - 24.05.2025
23.04.2025 - 2.05.2025
21.04.2025 - 28.04.2025
17.03.2025 - 10.04.2025
14.03.2025 - 17.03.2025
14.03.2025 - 16.03.2025
12.03.2025 - 13.03.2025
12.03.2025 - 20.03.2025
11.03.2025 - 16.03.2025
10.03.2025 - 13.03.2025
7.03.2025 - 9.03.2025
6.03.2025 - 24.03.2025
6.03.2025 - 11.03.2025
8.03.2025 - 23.03.2025
3.03.2025 - 17.03.2025
1.03.2025 - 20.03.2025
27.02.2025 - 26.03.2025
24.02.2025 - 24.03.2025
24.02.2025 - 24.02.2025
23.02.2025 - 26.02.2025
8.03.2025 - 22.03.2025
21.02.2025 - 23.02.2025
19.02.2025 - 21.02.2025
18.02.2025 - 21.02.2025
18.02.2025 - 19.02.2025
18.02.2025 - 19.02.2025
18.02.2025 - 27.02.2025
18.02.2025 - 28.02.2025
28.02.2025 - 28.02.2025
14.02.2025 - 26.02.2025
14.02.2025 - 28.02.2025
13.02.2025 - 23.02.2025
10.02.2025 - 12.03.2025
10.02.2025 - 11.02.2025
6.02.2025 - 6.03.2025
6.02.2025 - 6.03.2025
6.02.2025 - 23.02.2025
5.02.2025 - 5.03.2025
5.02.2025 - 22.02.2025
4.02.2025 - 5.02.2025
4.02.2025 - 5.02.2025
3.02.2025 - 8.02.2025
29.01.2025 - 30.01.2025
29.01.2025 - 30.01.2025
30.01.2025 - 28.02.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
22.01.2025 - 22.02.2025
22.01.2025 - 26.01.2025
17.01.2025 - 22.01.2025
20.01.2025 - 25.01.2025
24.01.2025 - 26.02.2025
20.01.2025 - 27.02.2025
9.01.2025 - 22.02.2025
8.01.2025 - 8.02.2025
7.01.2025 - 11.02.2025
7.01.2025 - 7.02.2025
7.01.2025 - 28.01.2025
6.01.2025 - 6.02.2025
6.01.2025 - 6.02.2025
3.01.2025 - 23.01.2025
3.01.2025 - 3.02.2025
30.12.2024 - 31.12.2024
31.12.2024 - 31.01.2025
30.12.2024 - 31.12.2024
27.12.2024 - 27.01.2025
25.12.2024 - 29.12.2024
19.12.2024 - 27.12.2024
19.12.2024 - 19.01.2025
19.12.2024 - 19.01.2025
18.12.2024 - 24.12.2024
17.12.2024 - 17.01.2025
17.12.2024 - 23.12.2024
13.12.2024 - 15.12.2024
15.12.2024 - 21.12.2024
4.12.2024 - 5.12.2024
29.11.2024 - 3.12.2024
1.12.2024 - 28.03.2025
1.12.2024 - 15.12.2024
29.11.2024 - 1.12.2024
2.12.2024 - 8.12.2024
30.11.2024 - 1.12.2024
28.11.2024 - 29.11.2024
27.11.2024 - 30.11.2024
26.11.2024 - 28.11.2024
24.11.2024 - 25.11.2024
21.11.2024 - 21.11.2024
22.11.2024 - 24.11.2024
29.11.2024 - 4.12.2024
21.11.2024 - 26.12.2024
20.11.2024 - 20.12.2024
14.11.2024 - 16.11.2024
14.11.2024 - 22.12.2024
13.11.2024 - 15.11.2024
13.11.2024 - 17.11.2024
14.11.2024 - 16.11.2024
13.11.2024 - 14.11.2024
14.11.2024 - 14.11.2024
5.11.2024 - 5.11.2024
1.11.2024 - 3.11.2024
31.10.2024 - 1.11.2024
30.10.2024 - 30.11.2024
3.11.2024 - 3.11.2024
29.10.2024 - 29.11.2024
25.10.2024 - 27.10.2024
31.10.2024 - 8.11.2024
28.10.2024 - 1.11.2024
18.10.2024 - 20.10.2024
18.10.2024 - 20.10.2024
26.10.2024 - 27.10.2024
13.10.2024 - 13.10.2024
14.10.2024 - 14.11.2024
13.10.2024 - 13.10.2024
9.10.2024 - 11.10.2024
8.10.2024 - 25.10.2024
2.10.2024 - 30.10.2024
2.10.2024 - 8.10.2024
1.10.2024 - 1.11.2024
30.09.2024 - 1.10.2024
27.09.2024 - 30.09.2024
30.09.2024 - 2.10.2024
27.09.2024 - 29.09.2024
30.09.2024 - 1.10.2024
27.09.2024 - 29.09.2024
27.09.2024 - 27.10.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
26.09.2024 - 27.09.2024
24.09.2024 - 25.09.2024
24.09.2024 - 25.09.2024
23.09.2024 - 23.10.2024
20.09.2024 - 22.09.2024
19.09.2024 - 24.09.2024
31.12.2024 - 31.12.2024
18.09.2024 - 22.09.2024
18.09.2024 - 18.09.2024
13.09.2024 - 14.09.2024
13.09.2024 - 20.09.2024
11.09.2024 - 22.09.2024
10.09.2024 - 12.09.2024
10.09.2024 - 11.09.2024
8.09.2024 - 9.09.2024
6.09.2024 - 8.09.2024
5.09.2024 - 6.09.2024
4.09.2024 - 5.09.2024
30.08.2024 - 1.09.2024
29.08.2024 - 1.09.2024
2.09.2024 - 25.09.2024
1.09.2024 - 3.09.2024
26.08.2024 - 28.08.2024
27.08.2024 - 1.09.2024
6.09.2024 - 15.09.2024
23.08.2024 - 24.08.2024
23.08.2024 - 25.08.2024
23.08.2024 - 24.08.2024
26.08.2024 - 1.09.2024
23.08.2024 - 23.08.2024
20.08.2024 - 8.09.2024
14.08.2024 - 16.08.2024
13.08.2024 - 14.08.2024
9.08.2024 - 11.08.2024
12.08.2024 - 21.08.2024
10.08.2024 - 12.08.2024
9.08.2024 - 14.08.2024
7.08.2024 - 9.08.2024
7.08.2024 - 7.08.2024
12.08.2024 - 17.08.2024
1.08.2024 - 4.08.2024
1.08.2024 - 4.08.2024
1.08.2024 - 3.08.2024
1.08.2024 - 18.08.2024
31.07.2024 - 8.08.2024
30.07.2024 - 15.08.2024
30.07.2024 - 21.08.2024
26.07.2024 - 28.07.2024
24.07.2024 - 26.07.2024
29.07.2024 - 29.07.2024
25.07.2024 - 28.07.2024
19.07.2024 - 23.07.2024
18.07.2024 - 21.07.2024
16.07.2024 - 25.07.2024
16.07.2024 - 16.07.2024
28.07.2024 - 1.08.2024
15.07.2024 - 30.07.2024
16.07.2024 - 31.07.2024
17.07.2024 - 1.08.2024
11.07.2024 - 12.07.2024
11.07.2024 - 19.07.2024
10.07.2024 - 31.12.2024
13.07.2024 - 16.07.2024
5.07.2024 - 14.07.2024
1.07.2024 - 28.10.2024
28.06.2024 - 30.06.2024
27.06.2024 - 28.06.2024
24.06.2024 - 25.06.2024
20.06.2024 - 23.06.2024
21.06.2024 - 24.06.2024
21.06.2024 - 23.06.2024
24.06.2024 - 29.06.2024
13.06.2024 - 14.06.2024
12.06.2024 - 18.06.2024
11.08.2024 - 11.08.2024
10.06.2024 - 11.06.2024
6.06.2024 - 8.06.2024
20.03.2024 - 20.03.2024
4.06.2024 - 27.09.2024
3.06.2024 - 7.06.2024
3.06.2024 - 30.06.2024
2.06.2024 - 3.06.2024
3.06.2024 - 14.06.2024
31.05.2024 - 10.06.2024
1.06.2024 - 6.06.2024
29.05.2024 - 30.05.2024
30.05.2024 - 9.06.2024
27.05.2024 - 29.05.2024
17.05.2024 - 19.05.2024
14.05.2024 - 16.05.2024
14.05.2024 - 19.05.2024
13.05.2024 - 15.05.2024
13.05.2024 - 30.06.2024
13.05.2024 - 31.07.2024
7.05.2024 - 8.05.2024
8.05.2024 - 1.12.2024
7.05.2024 - 8.05.2024
3.05.2024 - 1.07.2024
30.04.2024 - 30.04.2024
29.04.2024 - 7.05.2024
29.04.2024 - 30.04.2024
29.04.2024 - 7.05.2024
28.04.2024 - 29.04.2024
27.05.2024 - 29.05.2024
25.04.2024 - 26.04.2024
25.04.2024 - 26.04.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
27.04.2024 - 30.04.2024
25.04.2024 - 11.05.2024
22.04.2024 - 5.05.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
23.04.2024 - 25.04.2024
14.04.2024 - 14.05.2024
23.04.2024 - 24.04.2024
20.04.2024 - 24.04.2024
14.05.2024 - 15.05.2024
5.04.2024 - 7.04.2024
13.04.2024 - 14.04.2024
23.04.2024 - 24.04.2024
29.04.2024 - 30.04.2024
16.04.2024 - 15.05.2024
27.03.2024 - 28.03.2024
27.03.2024 - 31.03.2024
23.03.2024 - 25.03.2024
24.03.2024 - 26.03.2024
25.03.2024 - 26.03.2024
22.03.2024 - 25.03.2024
21.03.2024 - 31.03.2024
17.03.2024 - 2.04.2024
22.03.2024 - 6.04.2024
19.03.2024 - 21.03.2024
18.03.2024 - 31.03.2024
16.03.2024 - 19.03.2024
18.03.2024 - 21.03.2024
18.03.2024 - 19.03.2024
6.03.2024 - 26.03.2024
7.03.2024 - 8.03.2024
6.03.2024 - 8.03.2024
6.03.2024 - 7.03.2024
6.03.2024 - 6.04.2024
6.03.2024 - 7.03.2024
6.03.2024 - 8.03.2024
5.03.2024 - 7.03.2024
1.02.2024 - 1.02.2024
4.03.2024 - 4.03.2024
4.03.2024 - 8.03.2024
27.02.2024 - 28.02.2024
2.03.2024 - 8.03.2024
29.02.2024 - 1.03.2024
23.02.2024 - 25.02.2024
24.02.2024 - 9.03.2024
23.02.2024 - 27.02.2024
21.02.2024 - 26.02.2024
24.02.2024 - 24.02.2024
29.02.2024 - 4.03.2024
19.02.2024 - 25.02.2024
19.02.2024 - 20.02.2024
20.02.2024 - 20.02.2024
21.02.2024 - 22.02.2024
16.02.2024 - 16.02.2024
12.02.2024 - 8.04.2024
12.02.2024 - 20.02.2024
1.02.2024 - 7.03.2024
5.02.2024 - 7.02.2024
2.02.2024 - 8.02.2024
2.02.2024 - 17.02.2024
1.02.2024 - 24.02.2024
28.01.2024 - 28.01.2024
30.01.2024 - 7.02.2024
26.01.2024 - 26.01.2024
28.01.2024 - 28.01.2024
26.01.2024 - 27.01.2024
24.01.2024 - 24.01.2024
23.01.2024 - 4.02.2024
17.01.2024 - 17.02.2024
18.01.2024 - 31.01.2024
18.01.2024 - 31.01.2024
13.01.2024 - 21.01.2024
20.01.2024 - 21.01.2024
22.01.2024 - 23.01.2024
12.01.2024 - 14.01.2024
11.01.2024 - 25.02.2024
11.01.2024 - 12.01.2024
10.01.2024 - 8.02.2024
5.01.2024 - 7.01.2024
29.12.2023 - 29.01.2024
28.12.2023 - 30.12.2023
22.12.2023 - 31.12.2023
22.12.2023 - 24.12.2023
30.11.2023 - 20.01.2024
11.12.2023 - 12.12.2023
30.11.2023 - 3.12.2023
10.11.2023 - 12.11.2023
8.11.2023 - 10.11.2023
8.11.2023 - 9.11.2023
3.11.2023 - 5.11.2023
9.11.2023 - 10.11.2023
29.10.2023 - 1.11.2023
27.10.2023 - 22.11.2023
23.10.2023 - 5.11.2023
23.10.2023 - 29.11.2023
20.10.2023 - 21.10.2023
17.10.2023 - 29.10.2023
16.10.2023 - 22.10.2023
11.08.2023 - 11.08.2023
16.09.2023 - 17.09.2023
19.06.2023 - 18.07.2023
30.06.2023 - 30.06.2023
1.07.2023 - 2.07.2023
Visitors : 936579