Berita

12 Feb 2026

Stabilisasi Harga pangan Menjelang Bulan Ramadhan, Pemkab Sidoarjo Akan Gelar Gerakan Pangan Murah

KOMINFO, Sidoarjo - Kenaikan harga pangan pokok seringkali terjadi menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional/HBKN. Pemkab Sidoarjo mengantisipasi fenomena tersebut dengan rencana Gerakan Pangan Murah/GPM. Penjualan kebutuhan pokok bersubsidi akan dilakukan. Pemkab Sidoarjo berharap harga kebutuhan pangan pokok selama bulan Ramadhan tetap stabil. Pagi tadi, Tim Pengendali Inflasi Daerah/TPID Kabupaten Sidoarjo menggelar High Level Meeting/HLM menghadapi HBKN dan inflasi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H, Kamis, (12/2). HLM digelar di pendopo Delta Wibawa. Berbagai instansi pemerintah hadir. Selain instansi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, juga hadir Perum Bulog Cabang Surabaya, BPS Sidoarjo, anggota DPRD Sidoarjo, Kejari Sidoarjo serta Polresta Sidoarjo dan Kodim 0816 Sidoarjo. Pihak Bank Indonesia/BI juga turut hadir.  Bupati Sidoarjo H. Subandi memimpin langsung pertemuan penting tersebut.Bupati H. Subandi meminta seluruh pihak untuk menjaga inflasi di Kabupaten Sidoarjo. Upaya menjaga stabilisasi harga pangan pokok menjelang bulan Ramadhan dimintanya. Ia berharap harga kebutuhan pangan pokok menjelang bulan Ramadhan tetap stabil. Tidak terjadi kenaikan yang akan memberatkan masyarakat untuk membelinya.“Nanti kita mengadakan Gerakan Pangan Murah, dari Bulog dengan penjualan beras SPHP, teman-teman DPRD Sidoarjo juga gitu, memanfaatkan masa resesnya untuk menggelar kegiatan penjualan Sembako murah, saya yakin dengan kebersamaan seperti ini, inshaalloh harga-harga yang biasanya naik ini bisa kita tekan,”ucapnya.Bupati H. Subandi juga meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo untuk kembali melakukan operasi pasar murah penjualan beras SPHP. Ia juga meminta seluruh OPD Sidoarjo mendukung penyaluran beras SPHP. Begitu pula dengan Polresta Sidoarjo dan Kodim 0816 Sidoarjo yang dimintanya kembali melakukan penjualan beras SPHP kepada masyarakat. “Pak Bulog tolong dibantu biar beras SPHP dapat dirasakan masyarakat Sidoarjo,”pintanya.Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Sidoarjo Eni Rustianingsih mengatakan instansinya akan melakukan berbagai upaya menghadapi inflasi menjelang HBKN. Selain engadakan Gerakan Pangan Murah, dirinya juga akan membentuk kios pangan. Selain itu Satgas Pangan akan dioptimalkan untuk melakukan pemantauan stok dan harga beras di retaill modern maupun pasar tradisional. Untuk menjaga stok ketersediaan beras di Sidoarjo, dirinya juga akan membuat MoU antara BUMDes dengan Lembaga Penggilingan Gabah/LPG. MoU tersebut mengharuskan BUMDes membeli gabah petani.“Kita juga membuat surat edaran bupati kepada para petani untuk tunda jual sebanyak 10 persen dari hasil pertaniannya, terutama petani yang mendapatkan bantuan bibit, pupuk dan Alsintan, dengan cara itu petani tidak merasakan dampak inflasi jika terjadi,”ucapnya.Kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Widiyantoro Basuki mengatakan upaya pengendalian harga dan ketersedian bahan pokok juga akan dilakukannya. Salah satunya dengan melakukan operasi pasar dan pasar murah. Ia akan melaksanakan empat kegiatan pendistribusian bahan pokok murah sampai bulan Maret besok. Salah satunya distribusi minyak goreng merk Minyak Kita di tiga pasar tradisional. "Distribusi Minyak Kita akan lakukan di pasar-pasar besar seperti Pasar Larangan, Pasar Porong dan Pasar Krian," ucapnya. Widiyantoro juga menyampaikan beberapa bahan pangan pokok saat ini mengalami kenaikan dari Harga Eceran Tertinggi/HET. Diantaranya beras premium dan medium, minyak goreng Minyak Kita serta cabe rawit merah. Untuk harga rata-rata pasar di bulan Februari ini, HET beras premium Rp. 14.900 menjadi Rp. 15.326 per kg. Sedangkan HET beras medium Rp. 13.500 menjadi Rp. 13.785. Sedangkan pada minyak goreng Minyak Kita, HET dipatok Rp. 15.700 perliter menjadi Rp. 16.916 untuk kemasan pouch dan Rp. 17.172 kemasan botol. Cabe rawit merah sendiri mengalami kenaikan yang cukup besar. Dari HET Rp. 40.000 sampai Rp. 57.000 menjadi Rp. 76.810."Khusus beras medium, kami sudah membuat edaran kepada kecamatan yang dilanjutkan kepada desa-desa agar beras medium tidak dijual lebih dari Rp. 13.500," ucapnya. Namun secara keseluruhan lanjut Widiyantoro, harga rata-rata pasar untuk bahan pangan pokok di bulan Februari ini banyak mengalami penurunan dari HET. Seperti yang terjadi pada harga gula pasir dalam negeri, daging ayam broiler, telur ayam ras, daging sapi serta cabe merah besar keriting. "Untuk Sembako yang lain fluktuatif, naik turun, khususnya harga gula turun," ucapnya. Git/mas

Selengkapnya
11 Feb 2026

Pemkab Sidoarjo Kembali Gulirkan Program Renovasi Warung Rakyat 2026

KOMINFO, Sidoarjo - Program Renovasi Warung Rakyat kembali digulirkan. Tahun 2026 ini ada 400 unit warung rakyat yang akan mendapatkan bantuan perbaikan. Pagi tadi, Rabu, (11/2), salah satu program prioritas bupati dan wakil bupati Sidoarjo itu disosialisasikan kepada ratusan kepala desa. Sosialisasi dilakukan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo di pendopo Delta Wibawa. Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati hadir langsung untuk membuka kegiatan tersebut.  Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati mengatakan Program Renovasi Warung Rakyat menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan perekonomian rakyat. Dikatakannya sejak awal digulirkan, program renovasi warung rakyat telah melampaui target sasarannya. Ia juga akan pastikan salah satu program unggulan bupati dan wakil bupati Sidoarjo itu akan terus berlanjut untuk lima tahun kedepan hingga mencapai 2 ribu warung rakyat yang direnovasi.“Program yang menjadi janji bupati dan wakil bupati Sidoarjo inshaalloh hadir untuk lima tahun kedepan,”ucapnya.Sementara itu Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Sidoarjo Edi Kurniadi mengatakan pelaksanaan Program Renovasi Warung Rakyat tahun ini sedikit berbeda. Pelaksanaanya dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah Timur dan Barat. Tahun ini akan dikerjakan diwilayah Barat di 9 Kecamatan. Antara lain Kecamatan Waru, Sedati, Gedangan, Buduran, Sidoarjo, Candi, Tanggulangin, Porong dan Jabon. “Sisa sembilan kecamatan akan dilaksanakan ditahun 2027,”ucapnya.Edi juga mengatakan 400 warung rakyat yang akan renovasi tahun ini tersebar di 9 kecamatan. Per warung disiapkan anggaran maksimal sebesar Rp. 10 juta untuk perbaikannya. Anggaran tersebut meningkat dua kali lipat jika dibandingkan tahun 2025 kemarin yang hanya sebesar Rp. 5 juta. Untuk desa alokasi anggaran perbaikannya memakai anggaran desa melalui Bantuan Keuangan Khusus/BKK. Sedangkan kelurahan dialokasikan melalui anggaran kecamatan.“Yang juga membedakan pelaksanaan renovasi warung rakyat dengan tahun kemarin adalah terkait dengan penganggaran, anggaran yang disedian tahun ini adalah Rp. 10 juta untuk setiap warungnya,”ucapnya.Edi menyampaikan tambahan biaya perbaikan tersebut untuk mencover tambahan biaya perbaikan lainnya. Seperti untuk perbaikan instalasi listrik, atap maupun plavon warung. Ia berharap pelaksanaan program renovasi warung rakyat tahun ini benar-benar dapat dirasakan masyarakat. Salah satunya meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat didesa.“Nilai Rp. 10 juta itu sudah mencover keseluruhan,”ucapnya. Ia juga menyampaikan pelaksanaan renovasi warung rakyat dilakukan di triwulan 3. Nantinya akan ada pendampingan oleh instansinya terkait pelaksanaannya. Ia akan turun langsung ke kecamatan-kecamatan agar pelaksanaan program tersebut berjalan lancar. Edi juga menyampaikan program renovasi warung rakyat tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik saja. Nantinya akan ada pembekalan lanjutan kepada pemilik warung agar usahanya lebih berdaya saing. Ia juga mengatakan Pemkab Sidoarjo juga berencana mencover penerima  program renovasi warung rakyat dengan BPJS Ketenagakerjaan. Termasuk pekerja warung tersebut untuk bisa diikut sertakan dalam kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan.“Nantinya ada pelatihan-pelatihan dan kami juga akan memfasilitasi mereka untuk memperoleh bantuan permodalan usaha lewat Kurda,”ujarnya. Git

Selengkapnya
11 Feb 2026

Pemkab Sidoarjo Luncurkan Program Belanja di Sidoarjo Bisa Dapat Hadiah

KOMINFO, Sidoarjo - Pemkab Sidoarjo melalui Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Kabupaten Sidoarjo bekerja sama dengan Bank Jatim meluncurkan program undian berhadiah bertajuk Dijapri (Digital Jayandaru Tax Prize). Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk bertransaksi di objek pajak yang telah menggunakan alat perekam transaksi sebagai upaya mendukung transparansi pajak daerah.Bupati Sidoarjo H. Subandi menyampaikan bahwa program tersebut merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah melalui pembayaran pajak. “Pajak daerah menjadi salah satu sumber utama pembangunan di Kabupaten Sidoarjo. Karena itu saya mengajak masyarakat untuk semakin sadar pajak, salah satunya dengan bertransaksi di tempat usaha yang sudah menggunakan alat perekam transaksi,” ujar Subandi.Melalui program Dijapri, masyarakat cukup mengunggah struk belanja untuk memperoleh poin undian. Poin yang terkumpul dapat digunakan untuk mengikuti undian berhadiah dengan berbagai hadiah menarik.Adapun cara mengikuti program Dijapri cukup mudah. Pertama, masyarakat memastikan transaksi dilakukan di objek pajak yang telah terpasang X-Banner alat perekam transaksi. Selanjutnya, masyarakat dapat memindai QR Code pada X-Banner atau mengakses tautan bit.ly/sdastruk. Setelah itu, peserta memilih objek pajak, mengunggah foto struk, serta melengkapi data yang diminta.Dalam ketentuannya, setiap transaksi belanja dengan nominal yang tercantum pada struk hingga Rp50.000 akan mendapatkan 1 poin undian dan berlaku kelipatan. Sebagai contoh, struk belanja sebesar Rp121.000 akan mendapatkan 2 poin, sedangkan transaksi belanja sebesar Rp771.000 akan memperoleh 15 poin undian. Struk yang dapat diikutsertakan dalam undian merupakan struk transaksi pembelanjaan dengan periode transaksi mulai 25 Desember 2025 hingga 30 April 2026.Subandi berharap program tersebut dapat menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berbelanja di tempat usaha yang taat pajak sekaligus memperkuat budaya transparansi pencatatan transaksi. “Saya berharap masyarakat ikut berpartisipasi dalam program ini. Selain berkesempatan mendapatkan hadiah, partisipasi ini juga menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan Sidoarjo,” ungkapnya.Bagi masyarakat yang ingin melihat daftar objek pajak yang telah terpasang alat perekam transaksi sekaligus mengetahui detail ketentuan poin undian, dapat mengakses tautan bit.ly/undiandijapri1. (Mar)

Selengkapnya
10 Feb 2026

Gus Iqdam Ajak Masyarakat Sidoarjo Berdoa Untuk Kemaslahatan Dan Keselamatan Kabupaten Sidoarjo

KOMINFO, Sidoarjo - Sidoarjo Bersholawat dan Tabligh Akbar Bersama Gus Iqdam digelar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-167 Kabupaten Sidoarjo/Harjasda, selasa malam, (10/2). Kegiatan yang digelar di halaman parkir Mal Pelayanan Publik/MPP Lingkar Timur dihadiri ribuan jamaah. Sejak sore jamaah Gus Iqdam yang menyebut dirinya sebagai ST Nyell sudah datang kelokasi. Meski sempat hujan, antusias jamaah yang khas dengan jargon Dekengan Pusat itu memenuhi pelataran MPP. Staf Ahli Bupati Mochammad Hudori yang hadir mewakili Bupati H. Subandi mengucapkan selamat datang kepada Gus Iqdam di Bumi Delta Sidoarjo. Menurutnya kehadiran pemimpin majelis ta`lim Sabilu Taubah itu menjadi kado istimewa peringatan Harjasda ke-167 tahun ini.“Kehadiran panjengengan Gus Iqdam ditengah-tengah peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167 adalah kado yang luar biasa bagi kami dan masyarakat Sidoarjo,”ucapnya.Mochammad Hudori juga menyampaikan kegiatan seperti ini tidak hanya untuk merayakan usia Kabupaten Sidoarjo yang semakin matang. Namun juga ikhtiar untuk mengetuk pintu langit agar Kabupaten Sidoarjo semakin maju dan berkembang. “Lewat pengajian dan sholawat ini, kita berharap Sidoarjo tidak hanya maju infrastrukturnya, tidak hanya lancar fly overnya atau megah gedungnya, tapi adem rakyanya dan berkah daerahnya,”ucapnya. Mochammad Hudori juga menyampaikan perayaan Harjasda ke 167 tahun 2026 ini dapat digunakan sebagai momentun ngaji diri. Lewat kegiatan peringatan seperti ini, Ia ingin Kabupaten Sidoarjo menjadi rumah yang nyaman bagi siapa saja. Termasuk merangkul semua kalangan tanpa ada perbedaan seperti filosofi yang selalu dibawa Gus Iqdam dalam setiap pengajiannya. “Sidoarjo adalah daerah yang dinamis, di usianya yang ke 167 tahun ini, tantangan kedepan tentu tidak mudah, oleh karena itu kami memohon doa dari Gus Iqdam dan seluruh jamaah agar pemimpin Sidoarjo diberi kekuatan, kesabaran, kejujuran dan kerukunan dalam melayani masyarakat,”ujarnya.Mochammad Hudori juga berharap lewat kegiatan keagamaan seperti ini, Kabupaten Sidoarjo senantiasa diberkahi dan dijauhkan dari segala musibah. Menjadi daerah yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghofur. Daerah yang baik, subur, makmur, dengan masyarakat yang beriman dan diridai Allah SWT.“Ikan bandeng asli Sidoarjo, dimasak presto enak rasanya, bersama Gus Iqdam kita berdoa, Sidoarjo semakin jaya dan mulia,” tutup bupati lewat pantun yang disampaikan Mochammad Hudori. git

Selengkapnya
10 Feb 2026

Peringati HUT ke 51 IWAPI Komitmen Perkuat Ekonomi Lintas Sektor

KOMINFO, Sidoarjo - Hadir mewakili Bupati Sidoarjo, Sekretaris Daerah dr. Fenny Apridawati, M.Kes memberikan apresiasi yang luar biasa atas peran serta IWAPI dalam membangunan perekonimian, hal ini di sampaikan saat memberikan sambutan pada HUT ke 51 Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, Selasa 10/02/2026 di Pendopo Delta Wibawa."Memperkuat Pondasi Transformasi Digital Ekonomi Perempuan Melalui Sinergi Lintas Sektor Menuju Indonesia emas 2045" diangkat sebagai tema yang mempunyai makna yang menegaskan bahwa IWAPI untuk terus beradaptasi dengan perkembangan zaman khususnya dalam menghadapi era digital, mengembangkan inovasi serta berkolaborasi.Dalam usia yang sudah matang ini diharapkan IWAPI mampu menggerakkan dan menjadi contoh kepada wanita-wanita yang lain sebagai pengusaha handal agar bisa berdaya, untuk itu apresiasi yang luar biasa kepada IWAPI mudah-mudahan makin berdaya dan mampu memberikan yang terbaik bagi masyarakat Sidoarjo."Dengan tema yang diangkat  ini memiliki arti  bahwa IWAPI harus sejalan dan senafas dengan program strategis nasional serta program dari Pemkab Sidoarjo," katanyaFenny pun menambahkan dalam penerapan percepatan digitalisasi daerah ini telah memperoleh rangking dua di tingkat kabupaten se-indonesia dan perolehan ranking ini tentunya tidak lepas dari peran IWAPI, hal ini terbukti dari capaian-capaian pembangunan di Sidoarjo yang menunjukkan sesuatu hal yang menggembirakan dan ini tentunya tidak akan tercapai tanpa peran dari IWAPI.Seperti  capaian Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index Sidoarjo memiliki rating tinggi Kabupaten se-jawa timur dengan angka 83,35 persen dan peningkatan Human Index Development ini memiliki tolak ukur salah satunya peran serta IWAPI yang luar biasa dalam bidang pendidikan, kesehatan serta pembangunan perekonomian "Monggo dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam mengambil peran serta untuk pembangunan Kabupaten Sidoarjo manfaatkan akses ini sebaik mungkin seperti akses permodalan, pengentasan kemiskinan, perkrutan tenaga kerja, karena ini akan menjadi peran IWAPI yang luar biasa, dengan seperti akomodir  tenaga-tenaga kerja yang ada di kabupaten Sidoarjo khususnya bagi yang ber KTP Sidoarjo itu juga jadi perang penting anggota IWAPI di Kabupaten Sidoarjo"Sementara itu Ketua DPC IWAPI Sidoarjo yang juga merupakan Wakil Ketua IWAPI Jawa Hj. Shofiyah menyampaikan sebagai bagian dari IWAPI, DPD IWAPI Jawa Timur memiliki peran penting dalam mendorong pengusaha perempuan agar mampu bersaing di era digital melalui pelatihan pendampingan UMKM serta kerjasama lintas sektor, serta siap menyokong program pemerintah dalam penyediaan jasa serta produk lokal, selain itu diharapkan anggota IWAPI semakin maju dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah."IWAPI berkomitmen akan terus bersinergi dengan pemerintah maupun sektor swasta, selain itu dengan duaelengggarakan secara hyvrid ini mendorong seluruh anggota agar melek teknologi digital dalam pembangunan usahanya,"katanya.Sebagai penanda bertambahnya usia IWAPI ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Fenny Apridawati yang diserahkan kepada Ketua DPC IWAPI Sidoarjo Hj. Shofiyah.yu

Selengkapnya
10 Feb 2026

Sidoarjo: Jejak Air, Islam, dan Kuasa Waktu (2)

Perlawanan Wong Cilik, Pesantren, dan Filosofi Negeri Air10 Februari 2026Sejarah Sidoarjo tidak hanya dibentuk oleh raja dan adipati, tetapi juga oleh rakyat biasa dan ulama pesantren. Dari perlawanan sporadis wong cilik hingga pendidikan agama yang meneguhkan identitas lokal, kota ini menampilkan dua jalur perlawanan berbeda yang saling melengkapi, membentuk ketahanan sosial dan kultural masyarakat.Sarip: Suara Wong Cilik yang MelawanSarip tidak meninggalkan arsip resmi, tidak pula memimpin pasukan besar. Namun namanya hidup lama dalam ingatan rakyat Sidoarjo. Ia dikenang sebagai simbol perlawanan wong cilik terhadap ketidakadilan kolonial.“Dalam arsip kolonial, Sarip memang dicatat sebagai pengacau. Tetapi dalam tradisi lisan masyarakat Sidoarjo, ia justru dipandang sebagai simbol perlawanan rakyat kecil terhadap pajak tanah, kerja paksa, dan lurah-lurah yang menjadi perpanjangan tangan kolonial,”kata sejarawan lokal Sidoarjo, Drs. M. Mashuri, dalam kajian sejarah sosial Sidoarjo.Mashuri menjelaskan, perlawanan Sarip bersifat personal dan sporadis, namun memiliki makna simbolik yang kuat.“Sarip tidak melawan negara kolonial secara terbuka, tetapi ia melawan ketidakadilan yang dirasakan langsung oleh rakyat desa. Karena itu kisahnya hidup dalam ludruk, cerita tutur, dan memori kolektif,” ujarnya.Dalam perspektif sejarah sosial, Sarip mewakili bentuk perlawanan rakyat yang tidak tercatat secara resmi, tetapi justru berakar kuat dalam budaya lokal.Kyai Hasan Mukmin: Perlawanan Lewat PesantrenBerbeda dengan Sarip, Kyai Hasan Mukmin bergerak melalui jalur yang lebih sunyi, tetapi berdampak panjang: pendidikan dan agama.“Pesantren pada masa kolonial bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi ruang aman pembentukan kesadaran sosial dan identitas umat,” ujar Prof. Azyumardi Azra dalam kajiannya tentang Islam Nusantara.Kyai Hasan Mukmin dikenal sebagai ulama yang menanamkan nilai kemandirian, etika sosial, dan keteguhan iman di tengah tekanan kolonial. Melalui pengajian dan jaringan santri, ia membangun daya tahan masyarakat dari bawah.“Perlawanan seperti yang dilakukan Kyai Hasan Mukmin ini tidak frontal, tetapi berumur panjang. Ia membentuk mental masyarakat agar tidak tunduk sepenuhnya pada kekuasaan kolonial,” jelas KH. Ahmad Mun’im DZ, peneliti sejarah pesantren Jawa Timur.Model perjuangan ini kerap disebut sebagai perlawanan kultural—tidak tercatat dalam laporan militer, tetapi nyata dalam ketahanan sosial masyarakat.Dua Jalan, Satu TujuanSarip dan Kyai Hasan Mukmin menempuh jalan yang berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama: menjaga martabat rakyat Sidoarjo.“Jika Sarip adalah suara perlawanan spontan wong cilik, maka Kyai Hasan Mukmin adalah arsitek ketahanan kultural masyarakat. Keduanya sama-sama penting dalam sejarah lokal,”kata Budayawan Jawa Timur, Radhar Panca Dahana.Mereka menunjukkan bahwa sejarah Sidoarjo tidak hanya dibentuk oleh raja, adipati, dan kebijakan kolonial, tetapi juga oleh keberanian rakyat desa dan keteguhan ulama pesantren.Jayandaru: Simbol Filosofi Negeri AirJayandaru bukan sekadar monumen lalu lintas di jantung Kota Sidoarjo. Ia adalah simbol yang lahir dari ingatan kolektif masyarakat tentang air, kehidupan, dan keberlanjutan.Nama Jayandaru berasal dari dua kata bahasa Jawa Kuno:jaya, yang berarti kejayaan atau kemakmuran, dan daru, yang dimaknai sebagai anugerah, cahaya kehidupan, atau sesuatu yang memberi keselamatan. Dalam konteks Sidoarjo—wilayah delta, rawa, dan tambak—makna itu berpaut langsung dengan air.“Sejak masa kerajaan hingga kolonial, kehidupan Sidoarjo selalu bergantung pada air. Maka simbol daerahnya pun tidak bisa dilepaskan dari ekosistem perairan,” jelas Drs. M. Mashuri, sejarawan lokal Sidoarjo.Monumen Jayandaru menampilkan dua ikon utama: udang dan bandeng. Keduanya bukan simbol yang dipilih secara acak. Udang dan bandeng telah menjadi komoditas utama wilayah Sidoarjo sejak berabad-abad lalu, jauh sebelum istilah “industri tambak” dikenal.Dalam prasasti dan catatan sejarah Jawa Timur, wilayah delta Brantas—termasuk Sidoarjo—disebut sebagai kawasan penghasil hasil perairan yang menopang kerajaan, mulai dari masa Kahuripan hingga Majapahit. Tradisi tambak berlanjut pada masa Islam, kolonial, hingga Indonesia modern.“Udang dan bandeng adalah metafora ketahanan masyarakat pesisir. Hidup di antara air asin dan tawar, tetapi tetap tumbuh,” kata Budayawan Jawa Timur, Radhar Panca Dahana, dalam kajian simbol budaya daerah.Secara filosofis, Jayandaru merepresentasikan pandangan hidup Sidoarjo: kejayaan tidak lahir dari penaklukan alam, melainkan dari harmoni dengannya. Air diperlakukan bukan sebagai musuh yang harus dikeringkan, tetapi sebagai sahabat yang dikelola.Makna ini menjadi semakin relevan pasca-bencana lumpur Porong 2006. Di tengah luka ekologis dan sosial, Jayandaru berdiri sebagai pengingat bahwa Sidoarjo adalah negeri air—dan air selalu membawa dua sisi: kehidupan dan tantangan.“Jayandaru mengajarkan bahwa identitas Sidoarjo bukan pada gedung atau pabriknya, melainkan pada kemampuannya bertahan dan bangkit di tengah perubahan alam,” ujar peneliti budaya lokal BPK Jawa Timur.PenutupSidoarjo adalah kota yang terus bergerak. Dari peradaban sungai, wilayah agraris Islam, kabupaten kolonial, hingga kawasan industri modern. Sejarahnya bukan nostalgia, melainkan arah. Selama air masih mengalir, Sidoarjo akan terus bertahan—dan mencari jati dirinya. (irwan/diskominfo Sidoarjo)Sumber Referensi:Arsip Kolonial Hindia Belanda (ANRI), laporan kolonial Jawa Timur abad XIXMashuri, M., Sejarah Sosial Sidoarjo, Pemerintah Kabupaten SidoarjoBalai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur

Selengkapnya
9 Feb 2026

Sidoarjo: Jejak Air, Islam, dan Kuasa Waktu (1)

Dari Negeri Delta hingga Kabupaten KolonialSidoarjo, 9 Februari 2026Di mata banyak orang, Sidoarjo hari ini hanyalah deretan pabrik, perumahan padat, jalan tol, dan kawasan industri yang menempel rapat pada Surabaya. Ia sering dibaca sebagai kota penyangga—ruang antara yang fungsional, bukan identitas. Namun di balik wajah modern itu, Sidoarjo menyimpan lapisan sejarah panjang, jauh lebih tua dari republik, bahkan lebih tua dari banyak kota di Jawa Timur.Sidoarjo bukan kota yang lahir dari meja birokrasi kolonial semata. Ia tumbuh dari air. Dari sungai yang mengalir pelan, rawa yang luas, tambak yang menghidupi, dan delta Sungai Brantas yang sejak berabad-abad lalu menjadi ruang hidup manusia. Air bukan sekadar latar geografis, melainkan inti peradaban. Sejarah Sidoarjo adalah sejarah negeri air—wilayah yang tak pernah benar-benar diam, selalu bergerak, beradaptasi, dan berubah mengikuti zaman.Awal Segalanya: Mpu Sindok dan Perpindahan Dunia Jawa (abad X)Sejarah panjang Sidoarjo dapat ditarik ke sebuah peristiwa besar pada abad ke-10. Sekitar tahun 929 Masehi, Mpu Sindok memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Peristiwa ini kerap dipahami sebagai respons terhadap bencana alam, tetapi sejarawan Slamet Muljana menekankan bahwa ini adalah perubahan besar arah peradaban Jawa:“Perpindahan Mataram ke Jawa Timur menandai lahirnya kebudayaan baru, di mana sungai dan laut menjadi poros kehidupan, bukan sekadar pelengkap.”Wilayah Jawa Timur menawarkan sesuatu yang tak dimiliki Jawa Tengah: tanah aluvial yang luas, jaringan sungai besar, serta jalur perdagangan air yang terhubung langsung ke pesisir. Delta Sungai Brantas—yang kini mencakup wilayah Sidoarjo—menjadi bagian penting dari lanskap baru itu. Sejak masa inilah terbentuk pola kehidupan agraris-perairan yang kelak menjadi identitas dasar Sidoarjo.Airlangga dan Negara yang Dikelola oleh Air (abad XI)Peran wilayah Sidoarjo semakin nyata pada masa Raja Airlangga (1019–1049). Bukti terpentingnya adalah Prasasti Kamalagyan (1037 M) yang mencatat pengaturan lalu lintas sungai, pelabuhan, dan perdagangan di wilayah hilir Brantas. Negara hadir bukan dengan menutup sungai, tetapi mengaturnya. Sungai adalah infrastruktur utama. Sejarawan R. Soekmono menyebut sistem ini sebagai ciri negara Jawa Timur awal yang sangat bergantung pada pengelolaan air dan pertanian delta:“Negara Jawa Timur awal sangat bergantung pada pengelolaan air dan pertanian delta. Sungai bukan sekadar jalur transportasi, tetapi infrastruktur utama.”Jenggolo: Wilayah yang Bertahan (abad XI–XIII)Setelah pembagian kerajaan Airlangga, wilayah Sidoarjo berada di bawah pengaruh Kerajaan Jenggolo. Prasasti-prasasti abad ke-11 mencatat keberadaan permukiman seperti Waru, menandakan kesinambungan kehidupan lokal. Sidoarjo berkembang sebagai wilayah penyangga: stabil, produktif, dan relatif jauh dari konflik elite.Jejak Majapahit di Negeri Air: Makna Historis dan Filosofis Candi-Candi SidoarjoMasa Majapahit (abad XIV–XV) meninggalkan jejak yang tidak selalu berupa bangunan megah seperti di Trowulan, tetapi justru tersebar dalam bentuk candi-candi kecil, situs ritual, dan prasasti administratif di wilayah penyangga kerajaan. Sidoarjo—sebagai bagian dari delta Sungai Brantas—menjadi salah satu wilayah penting dalam lanskap ini.Keberadaan candi-candi di Sidoarjo menegaskan bahwa wilayah ini bukan pinggiran pasif, melainkan ruang hidup religius, agraris, dan administratif yang menopang pusat kekuasaan Majapahit.Arkeolog Edi Sedyawati menekankan bahwa:“Situs-situs kecil di luar ibu kota Majapahit menunjukkan bagaimana kehidupan religius dan administratif kerajaan berlangsung secara merata hingga ke wilayah penyangga.”Candi Pari dan Candi Sumur (Porong): Sakralitas Air dan KeselamatanCandi Pari, yang terletak di Desa Candipari, Porong, dibangun sekitar tahun 1371 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Secara arsitektural, Candi Pari berbeda dari candi-candi Jawa Timur lainnya karena bentuknya lebih menyerupai candi di Champa (Vietnam sekarang), menunjukkan adanya kontak budaya maritim internasional.Secara filosofis, Candi Pari mencerminkan kosmologi Hindu-Siwais yang menempatkan candi sebagai miniatur alam semesta. Letaknya di wilayah rawa dan delta menunjukkan bahwa kesucian tidak hanya berada di pegunungan, tetapi juga di wilayah air—sebuah konsep penting bagi masyarakat Sidoarjo.Tak jauh dari sana berdiri Candi Sumur, yang diyakini berfungsi sebagai pelengkap ritual Candi Pari. Keberadaan sumur dalam konteks candi memiliki makna filosofis sebagai sumber kehidupan dan penyucian.Dalam tradisi Hindu-Jawa, air adalah sarana tirtha—media pemurnian lahir dan batin. Penempatan Candi Sumur di wilayah Porong menegaskan bahwa masyarakat Majapahit telah memahami air bukan sekadar sumber ekonomi, tetapi juga entitas spiritual.Dengan demikian, Candi Pari dan Candi Sumur dapat dibaca sebagai simbol harmoni antara manusia, air, dan kekuatan kosmis—sebuah nilai yang terus hidup dalam identitas Sidoarjo sebagai negeri delta.Candi Dermo (Wonoayu): Kesuburan dan Ruang Ritual DesaCandi Dermo, yang terletak di Wonoayu, memiliki ukuran relatif kecil dan bentuk sederhana. Situs ini diyakini berfungsi sebagai candi pendharmaan tingkat desa, bukan candi negara.Secara historis, keberadaan Candi Dermo menunjukkan bahwa praktik keagamaan Majapahit tidak bersifat elitis dan terpusat, melainkan mengakar hingga komunitas desa. Inilah ciri khas Majapahit: kerajaan besar yang ditopang oleh jaringan desa agraris yang stabil.Secara filosofis, candi desa seperti Dermo berkaitan erat dengan kultus kesuburan dan perlindungan wilayah. Ia menjadi titik sakral tempat masyarakat memohon keselamatan panen, keseimbangan alam, dan perlindungan dari bencana.Arkeolog melihat situs seperti Candi Dermo sebagai bukti bahwa masyarakat Jawa Timur masa Majapahit hidup dalam kesadaran kosmologis yang kuat: desa bukan sekadar unit ekonomi, tetapi ruang sakral yang terhubung dengan alam dan dewa-dewa.Candi Pamotan I & II (Porong): Ritualitas Lokal dan Jejak KomunitasCandi Pamotan I dan II, yang juga berada di wilayah Porong, merupakan situs candi kecil yang kini sebagian besar tinggal reruntuhan. Meski demikian, nilai historisnya tetap penting.Candi Pamotan diduga berfungsi sebagai tempat ritual lokal yang melayani komunitas tertentu, mungkin berkaitan dengan kelompok petani, nelayan tambak, atau pengelola air. Hal ini selaras dengan karakter Porong sebagai wilayah perairan dan pertanian delta.Secara filosofis, keberadaan dua candi dalam satu kawasan mencerminkan konsep kesinambungan dan dualitas—sebuah gagasan yang lazim dalam kosmologi Jawa-Hindu: keseimbangan antara lahir–batin, darat–air, manusia–alam.Candi-candi kecil seperti Pamotan menunjukkan bahwa spiritualitas Majapahit bersifat inklusif dan berlapis, tidak hanya terpusat pada istana atau candi agung.Prasasti Keboan Anom: Negara, Tanah Sima, dan Keadilan SosialJika candi-candi adalah simbol spiritual, maka Prasasti Keboan Anom adalah bukti konkret bagaimana negara Majapahit mengatur kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Sidoarjo.Prasasti ini menetapkan wilayah tertentu sebagai tanah sima—tanah perdikan yang dibebaskan dari pajak kerajaan. Penetapan sima biasanya diberikan kepada desa atau wilayah yang berjasa, sering kali untuk menopang bangunan suci atau kegiatan keagamaan.Secara historis, Prasasti Keboan Anom menunjukkan bahwa wilayah Sidoarjo memiliki peran administratif penting dalam struktur negara Majapahit.Secara filosofis, konsep sima mencerminkan gagasan keadilan sosial versi Jawa Kuno: negara tidak hanya menarik pajak, tetapi juga memberi perlindungan dan penghargaan kepada komunitas yang menjaga keseimbangan sosial dan spiritual.Sejarawan R. Soekmono menilai sistem sima sebagai ciri khas negara Jawa Timur:“Negara hadir tidak hanya sebagai penguasa, tetapi sebagai pengatur keseimbangan antara kekuasaan, agama, dan kehidupan desa.”Makna Besar bagi Sejarah SidoarjoKeseluruhan situs ini—Candi Pari, Sumur, Dermo, Pamotan, dan Prasasti Keboan Anom—menunjukkan bahwa Sidoarjo pada masa Majapahit adalah ruang hidup yang sakral, produktif, dan terorganisasi.Majapahit tidak meninggalkan istana di Sidoarjo, tetapi meninggalkan sesuatu yang lebih mendasar: sistem nilai. Nilai tentang harmoni dengan air, penghormatan pada desa, dan keseimbangan antara kekuasaan dan kehidupan rakyat.Warisan inilah yang menjelaskan mengapa hingga kini, Sidoarjo tetap bertahan sebagai negeri air—selalu berubah, tetapi tidak tercerabut dari akarnya.Menurut arkeolog Edi Sedyawati, situs-situs kecil seperti ini menunjukkan fungsi vital wilayah non-ibu kota Majapahit sebagai penyokong logistik dan pangan kerajaan:“Wilayah non-ibu kota Majapahit berfungsi sebagai penyokong logistik dan pangan kerajaan. Meski kecil, perannya vital.”Islam Datang Tanpa Memutus Masa Lalu (abad XV–XVI) – SidoarjoIslam datang ke Sidoarjo bukan sebagai kekuatan yang menghapus masa lalu, melainkan sebagai lapisan baru yang menyatu dengan sejarah panjang wilayah delta ini. Sejak abad XV–XVI, wilayah Sidoarjo—yang berada di jalur hilir Sungai Brantas—menjadi ruang perjumpaan antara tradisi agraris-perairan warisan Hindu-Buddha dan nilai-nilai Islam yang dibawa para pedagang, ulama, serta jaringan pesantren.Sejarawan Azyumardi Azra menyebut pola ini sebagai Islamisasi dialogis:“Islam di Jawa tumbuh melalui dialog budaya, bukan pemutusan sejarah. Tradisi lokal tidak dihapus, melainkan diserap dan diberi makna baru.”Di Sidoarjo, proses dialog ini berlangsung relatif tenang. Tidak ditemukan jejak penaklukan bersenjata atau pemaksaan agama. Islam menyebar melalui perdagangan sungai, ikatan keluarga, dan terutama pendidikan pesantren. Sungai Brantas dan anak-anak sungainya berfungsi sebagai jalur dakwah sekaligus jalur ekonomi—menghubungkan desa-desa tambak, sawah, dan permukiman pesisir.Sejarawan lokal Drs. M. Mashuri menjelaskan:“Islam diterima masyarakat Sidoarjo tanpa konflik besar karena ia tidak datang sebagai kekuatan yang merusak tatanan lama. Struktur desa, tradisi agraris, dan budaya air tetap bertahan, bahkan diperkuat oleh nilai etika Islam.”Siwalanpanji dan Sono: Dua Pesantren Tua Penopang Awal Islam SidoarjoPerkembangan Islam di Sidoarjo tidak dapat dilepaskan dari peran pesantren-pesantren tua yang tumbuh di wilayah Buduran. Dua di antaranya—Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah Siwalanpanji dan Pondok Pesantren Sono—menjadi simpul penting penyebaran Islam sejak abad ke-18, jauh sebelum Sidoarjo ditetapkan sebagai kabupaten pada masa kolonial.Pondok Pesantren Al-Hamdaniyah SiwalanpanjiPondok Pesantren Al-Hamdaniyah berlokasi di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan tradisi pesantren dan catatan sejarah lokal, pesantren ini berdiri pada 1787, didirikan oleh KH Khamdani. Angka ini menempatkan Siwalanpanji sebagai salah satu pesantren tertua di kawasan hilir Sungai Brantas.Sejak akhir abad ke-18, Siwalanpanji berkembang sebagai pusat pengajaran kitab kuning, fikih, dan tasawuf. Pesantren ini menjadi rujukan masyarakat desa-desa agraris dan tambak di sekitarnya, sekaligus persinggahan santri dari berbagai wilayah Jawa Timur.Dalam jaringan ulama Nusantara, Siwalanpanji memiliki posisi penting. KH Hasyim Asy’ari—pendiri Nahdlatul Ulama—tercatat pernah mondok dan belajar di Pesantren Siwalanpanji pada masa mudanya, sebagai bagian dari rihlah keilmuan sebelum mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899. Selain KH Hasyim Asy’ari, sejumlah ulama Jawa Timur generasi abad ke-19 juga tercatat pernah menimba ilmu atau berguru di Siwalanpanji, meskipun tidak seluruhnya terdokumentasi secara tertulis.Ulama yang Belajar / Mondok di Siwalanpanji (bukan hanya dari keluarga pendiri)Selain lini keluarga KH. Khamdani sendiri, pesantren Siwalanpanji juga dikenal karena menjadi tempat mondok sejumlah ulama besar Nusantara. Dalam tradisi pesantren dan catatan sanad keilmuan, sejumlah ulama besar disebut pernah mondok atau berguru di Siwalanpanji, antara lain: KH. M. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama), KH. Abdul Wahab Hasbullah (NU, Tambakberas), KH. Nasir (Bangkalan), KH. Umar (Jember), KH. Nawawi (Pendiri Pesantren Ma’had Arriyadl Ringin Agung, Kediri), KH. Usman Al Ishaqi (Al-Fitrah Kedinding, Surabaya), KH. Abu Mansur, KH. Zarkasyi, KH. Said, KH. Ma’shum, KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo), KH. Ali Mas’ud (Sidoarjo)Kompleks makam ulama Pesantren Siwalanpanji terletak di area pemakaman desa Siwalanpanji, tidak jauh dari lokasi pesantren. Di tempat ini dimakamkan, diantaranya: KH. Khamdani (pendiri pesantren), KH. Abdurrohim, KH. Ya’qub, KH Raden Khozin Khoiruddin. Serta beberapa kiai penerus pesantren dari generasi berikutnya (abad XIX–awal abad XX). Makam-makam tersebut hingga kini diziarahi dan menjadi penanda kesinambungan tradisi keilmuan Islam di Buduran.Pondok Pesantren Sono BuduranTak jauh dari Siwalanpanji berdiri Pondok Pesantren Sono, berlokasi di Desa Sono, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Pesantren ini diperkirakan berdiri sekitar pertengahan abad ke-18 (±1750-an) dan didirikan oleh KH Muhayyin. Tidak adanya prasasti pendirian bukan hal yang asing bagi pesantren tua; eksistensinya justru terkonfirmasi melalui silsilah ulama, tradisi lisan, dan jaringan santri.Pesantren Sono dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tradisional di Jawa Timur. Dari pesantren inilah lahir dan berkembang jaringan ulama besar Nusantara. Sejumlah tokoh penting tercatat pernah mondok atau belajar di Pesantren Sono, antara lain: KH Hasyim Asy’ari Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Karim (Mbah Manab), pendiri Pesantren Lirboyo, Kediri, KH Djazuli Utsman, pendiri Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri.Peran Pesantren Sono sebagai simpul jaringan ulama menjadikannya salah satu fondasi penting Islam pesantren di wilayah delta Brantas.Kompleks makam ulama Pesantren Sono berada di sekitar area pesantren dan permukiman Desa Sono. Di sana dimakamkan: KH Muhayyin (pendiri pesantren), KH Abu Mansur, KH Zarkasyi, KH Said, KH Ma’shum, serta para dzurriyah dan penerus pesantren.Dua Pesantren, Satu Jalur SejarahSiwalanpanji dan Sono menunjukkan bahwa Islamisasi Sidoarjo berlangsung melalui pendidikan, jaringan ulama, dan keteladanan hidup, bukan melalui pemutusan tradisi. Dari dua pesantren tua inilah watak Islam Sidoarjo terbentuk: Islam desa, Islam pesantren, Islam yang tumbuh dari tanah dan air.Makam Ulama: Ingatan Kolektif dan Simbol SpiritualitasSelain pesantren, penyebaran Islam di Sidoarjo juga ditandai oleh keberadaan makam ulama dan tokoh agama yang hingga kini menjadi pusat ziarah dan ingatan kolektif masyarakat.Kompleks Makam Aulia Sono di Buduran menjadi salah satu situs terpenting. Di tempat ini dimakamkan:KH Muhayyin, pendiri Pesantren SonoKeluarga dan dzurriyah beliau, termasuk KH Abu Mansur, KH Zarkasyi, KH Said, dan KH Ma’shumKompleks makam ini menunjukkan kesinambungan antara ilmu, dakwah, dan keturunan ulama, sebuah pola khas Islam Jawa.Tak jauh dari sana, terdapat pula Makam KH Ali Mas’ud (Mbah Ud) di Pagerwojo, Buduran. Ia dikenal sebagai ulama sepuh yang dihormati masyarakat dan merupakan bagian dari jaringan ulama pesantren Sono. Hingga kini, makamnya ramai diziarahi sebagai simbol keteladanan hidup sederhana dan keteguhan iman.Dalam perspektif budaya, ziarah ke makam ulama bukan sekadar ritual religius, tetapi juga cara masyarakat menjaga ingatan sejarah.Budayawan Jawa Timur Radhar Panca Dahana menegaskan:“Makam ulama di Jawa bukan simbol kematian, melainkan penanda kesinambungan nilai. Ia mengikat masa lalu dengan masa kini.”Islam, Air, dan Identitas SidoarjoIslam yang berkembang di Sidoarjo tidak terlepas dari karakter wilayahnya sebagai negeri air. Nilai-nilai Islam berkelindan dengan etika agraris, kehidupan tambak, dan solidaritas desa. Inilah yang melahirkan karakter santri-agraris: religius, pekerja keras, dan adaptif terhadap alam.Proses Islamisasi ini memperlihatkan bahwa identitas Sidoarjo dibangun bukan dari pemutusan sejarah, melainkan dari penumpukan lapisan-lapisan peradaban. Dari Hindu-Buddha, Majapahit, Islam, kolonial, hingga modern—semuanya meninggalkan jejak.Islam datang ke Sidoarjo bukan untuk mengganti masa lalu, tetapi untuk menyambungnya.Sidokare: Fondasi Administratif (1851–1859)Dalam arsip kolonial, wilayah ini dikenal sebagai Sidokare/Sidokarie sejak sekitar 1851. Saat itu masih berada di bawah Kabupaten Surabaya dan dipimpin Patih R. Ng. Djojohardjo di Pucang Anom. Sejarawan lokal Soedjito menegaskan:“Sidokare sudah memiliki struktur pemerintahan dan ekonomi sebelum menjadi kabupaten. Ia bukan wilayah baru.”Pemisahan Wilayah dan Perubahan Nama31 Januari 1859 – Sidokare dipisahkan dari Kabupaten Surabaya dan menjadi kabupaten mandiri (Bupati pertama: R.T. Notopuro / R.T.P. Tjokronegoro I, Staatsblad No. 9 Tahun 1859)28 Mei 1859 – Nama Sidokare diubah menjadi Sidho-Ardjo (Sidoarjo) atas prakarsa Tjokronegoro I (Staatsblad No. 32 Tahun 1859)Kota, Alun-alun, dan Masjid Agung: Empat Adipati Awal Kabupaten Sidoarjo1. R.T.P. Tjokronegoro IMasa jabatan: 1859 – ±1863R.T.P. Tjokronegoro I adalah bupati pertama Kabupaten Sidoarjo setelah wilayah Sidokare resmi dipisahkan dari Kabupaten Surabaya pada 31 Januari 1859 (Staatsblad van Nederlandsch-Indië No. 9 Tahun 1859).Ia sebelumnya bernama R.T. Notopuro, kemudian memperoleh gelar kebangsawanan Raden Tumenggung Prawiro (R.T.P.) Tjokronegoro setelah pengangkatan sebagai bupati.Peran pentingnya antara lain:Mengonsolidasikan pemerintahan kabupaten baruMenginisiasi perubahan nama Sidokare menjadi Sidho-Ardjo (Sidoarjo) pada 28 Mei 1859 (Staatsblad No. 32 Tahun 1859)Memperbaiki masjid di Pekauman yang kini dikenal sebagai Masjid Jami` Al-Abror. Memindahkan pusat pemerintahan dari kawasan Pandean/Kauman ke Wates–Pucang (cikal bakal Alun-alun Sidoarjo)Dalam sejarah lokal, Tjokronegoro I dikenang sebagai arsitek administratif awal Sidoarjo.2. R.T. Tjokronegoro II (Kanjeng Jimat)Masa jabatan: ±1863 – ±1873R.T. Tjokronegoro II dikenal luas oleh masyarakat Sidoarjo dengan sebutan Kanjeng Jimat—sebuah gelar kehormatan kultural yang mencerminkan kharisma dan pengaruh sosialnya.Pada masa pemerintahannya:Struktur birokrasi kolonial-lokal semakin mapanTata kota administratif di sekitar alun-alun diperkuatHubungan antara pemerintahan kabupaten dan elite agama mulai lebih terlembagaDalam tradisi tutur lokal, Kanjeng Jimat sering digambarkan sebagai pemimpin yang menjaga keseimbangan antara kekuasaan kolonial dan nilai-nilai Islam masyarakat.3. R.T. Tjondronegoro IMasa jabatan: ±1873 – ±1883Pergantian dari dinasti Tjokronegoro ke Tjondronegoro menandai fase baru kepemimpinan Sidoarjo. R.T. Tjondronegoro I memerintah di tengah penguatan kontrol kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.Ciri utama masa jabatannya:Penertiban administrasi pertanahan dan pajakPenguatan sistem kawedanan dan distrikAwal penataan kawasan keagamaan sebagai elemen resmi tata kotaIa menjadi jembatan antara kepemimpinan awal yang bersifat konsolidatif dengan fase simbolik-religius berikutnya.4. R.T. Tjondronegoro IIMasa jabatan: ±1883 – awal abad ke-20R.T. Tjondronegoro II memiliki tempat khusus dalam sejarah Sidoarjo karena pada masanya dilakukan pendirian atau perluasan Masjid Jami’, yang kemudian dikenal sebagai Masjid Agung Sidoarjo.Peran historisnya meliputi:Menegaskan masjid sebagai pusat spiritual sekaligus simbol kekuasaan Islam localMenyatukan fungsi masjid, alun-alun, dan pendapa kabupaten dalam satu poros kotaMenjadikan kawasan Masjid Agung sebagai pusat kehidupan sosial dan keagamaanMakam keluarga adipati, termasuk Tjondronegoro I dan II, berada di belakang Masjid Agung—menegaskan keterikatan antara kekuasaan, agama, dan ruang kota.Sejarawan Agus Sunyoto menyebut tata ruang ini mengikuti kosmologi kota Jawa: masjid, alun-alun, dan kekuasaan dalam satu garis makna. (Irwan/Diskominfo Sidoarjo)Sumber Referensi:1. Arsip Kolonial Hindia Belanda (ANRI), laporan kolonial Jawa Timur abad XIX2. Mashuri, M., Sejarah Sosial Sidoarjo, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo3. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur4. Azyumardi Azra, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, Mizan5. KH Ahmad Mun’im DZ, kajian dan wawancara tentang pesantren Jawa Timur6. Radhar Panca Dahana, kajian budaya Jawa Timur7. NU Online Jawa Timur, dokumentasi Makam Aulia Sono8. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, dokumentasi sejarah pesantren dan ulama

Selengkapnya
9 Feb 2026

Jelang Ramadan, Bupati Sidoarjo Ajak Jaga Stabilitas dan Saling Toleransi

KOMINFO, Sidoarjo - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Bupati Sidoarjo H. Subandi mengajak semuanya untuk menjaga stabilitas daerah. Hal itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Tim Pemantauan Perkembangan Politik di Daerah, yang digelar di Fave Hotel Sidoarjo, Senin (9/2/2026) bersama pimpinan DPRD, Kepala Dinas Bakesbangpol Kabupaten Sidoarjo Fredik Suharto, Kapolresta Sidoarjo, Dandim 0816 Sidoarjo, jajaran Forkopimda, serta organisasi keagamaan.Dalam sambutannya, Subandi mengajak semuanya menjaga stabilitas politik, keamanan, dan kenyamanan menyambut bulan suci Ramadan. “Termasuk kegiatan-kegiatan yang biasanya ada perbedaan seperti jumlah rakaat tarawih jangan diperdebatkan, yang penting saling menghormati dan berkoordinasi di wilayah masing-masing,” ujarnya.Subandi turut memberikan arahan kepada jajaran OPD, khususnya Satpol PP, untuk aktif melakukan pemantauan ketertiban umum selama Ramadan dan memperhatikan aktivitas pedagang kaki lima (PKL). “PKL makanan kadang nggak ditutup dagangannya terutama pada siang hari. Saya minta disosialisasikan, biar bulan puasa ini saling menghormati. PKL juga ditoleransi dengan baik, jangan sampai mengganggu,” katanya.Selain itu, Subandi meminta Dinas Pendidikan agar lebih tegas mengawasi kegiatan sekolah, termasuk outing class yang dinilai tidak sesuai arahan. “Outing class itu kalau bisa cukup di wilayah Kabupaten Sidoarjo atau sekitar. Kemarin kita kecolongan, masih ada yang menutupi kegiatan dan tidak transparan, kepala sekolah harus memberi contoh yang baik.” ungkapnya.Ia juga menyoroti salah satu kebiasaan masyarakat yang perlu diperhatikan, yakni kegiatan pengajian malam hari yang terkadang berlangsung hingga larut. Menurutnya, perlu ada kesepakatan bersama terkait batas waktu kegiatan agar tidak mengganggu waktu istirahat warga. “Biasanya sampai jam 12 malam kalau ngaji. Minimal nanti disepakati sampai jam berapa. Intinya kita mengikuti, yang penting tidak mengganggu aktivitas, terutama orang istirahat, nanti akan dibuatkan Surat Edaran (SE) sebagai pedoman penyesuaian kegiatan selama Ramadan,” tegasnya.Selain itu, Subandi juga menyinggung tradisi takbiran menjelang Idulfitri yang selama ini dilakukan dengan cara berkeliling. “Takbiran itu diperbolehkan keliling atau tidak, nanti kita rundingkan kembali. Kalau tidak boleh keliling, cukup di lingkungan masing-masing atau di lingkungan sekolah,” katanya.Meski demikian, Subandi tidak ingin tradisi dan kearifan lokal yang sudah mengakar justru ditinggalkan. “Kita tidak boleh meninggalkan kearifan lokal. Anak-anak takbiran dengan obor biarkan tetap berjalan. Biar nanti semarak untuk menyambut lebaran ini tetap berjalan dengan baik,” pungkasnya. (Mar)

Selengkapnya
9 Feb 2026

Bupati Tegaskan Komitmen Pemkab Sidoarjo Bersinergi Dengan Dunia Pendidikan

KOMINFO, Sidoarjo - Bupati Sidoarjo H. Subandi menegaskan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen untuk terus bersinergi dengan dunia pendidikan. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Milad ke-37 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo/Umsida di Auditorium KH. Ahmad Dahlan Umsida, Senin, (9/2). Pada peringatan hari lahir Umsida kali ini juga dibarengi dengan pengukuhan guru besar Umsida Prof. Dr. Sigit Hermawan.Bupati H. Subandi mengatakan kemajuan daerah tidak bisa dilepaskan dari peran perguruan tinggi. Dari perguruan tinggi seperti Umsida akan tercetak SDM berkualitas yang akan membangun Kabupaten Sidoarjo.“Atas nama Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, saya mengucapkan selamat Milad ke-37 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Semoga semakin maju, berdaya saing, dan menjadi kebanggaan kita semua,” ucapnya.Bupati H. Subandi juga mengatakan Milad ke-37 Umsida bukan sekadar peringatan usia. Namun dapat menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam mencetak generasi unggul, berakhlak mulia, dan berdaya saing. “Selama lebih dari tiga dekade, Umsida telah menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Sidoarjo dan Jawa Timur,”ujarnya.Dalam kesempatan tersebut ia juga menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya atas pengukuhan guru besar Umsida Prof. Dr. Sigit Hermawan. Disampaikannya gelar akademik tertinggi tersebut bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan institusi dan masyarakat Sidoarjo. Ia berharap kontribusi nyata terus diberikan guru besar Umsida dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.“Kepada guru besar yang baru dikukuhkan, semoga amanah ini menjadi ladang amal dan inspirasi bagi generasi penerus,”ucapnya. Git

Selengkapnya
9 Feb 2026

Dinas PUBMSDA Sidoarjo Intensifkan Normalisasi Sungai untuk Cegah Banjir

KOMINFO,Sidoarjo – Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PUBMSDA) terus memacu proyek normalisasi sungai di berbagai titik strategis. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mitigasi banjir dan pembersihan sedimen yang mulai menumpuk.Kepala Dinas PUBMSDA Sidoarjo, Mohammad Mahmud, mengungkapkan bahwa fokus pengerjaan saat ini berada di sunga kawasan belakang Pabrik Gula (PG) Krembung, tepatnya di wilayah Mojoruntut, Kecamatan Krembung, Sidoarjo. “Hari ini kita melakukan normalisasi sungai di belakang PG Krembung karena sedimennya sudah sangat banyak. Kita perlu melakukan intervensi normalisasi pada pagi hari ini,” ujar Mahmud saat meninjau lokasi pengerjaan, Senin (9/2/2026). Menurut dia, pengerjaan di titik Mojoruntut ini ditargetkan mencakup aliran sungai sepanjang kurang lebih 3 kilometer. Pihaknya optimistis pengerjaan di lokasi tersebut akan rampung dalam waktu dekat agar alat berat dapat segera digeser ke titik lain yang membutuhkan penanganan serupa.“Target kami dua sampai tiga hari lagi sudah selesai di sini. Setelah itu, kami akan berpindah ke lokasi yang lain secara simultan,” tambahnya.Selain di Krembung, Mahmud menjelaskan bahwa pihaknya telah menjadwalkan normalisasi di empat lokasi berbeda mulai esok hari, di antaranya adalah Normalisasi Avour Kajartrengguli, Desa Kedung Kembar. Kemudian Normalisasi Afvoer Wilayut di Sukodono. Kemudian Pembersihan Sampah rutin di sungai, lantas di daerah Kedondong, Tulangan.Disampaikan bahwa hasil pengerukan sedimen dari normalisasi sungai ini tidak dibuang percuma. Dinas PUBMSDA bersinergi dengan TNI melalui Kodim dan Koramil untuk memanfaatkan sedimen tersebut sebagai bahan pengurukan dalam program Karya Bakti TNI Terpadu (KDMP).“Sedimen hasil normalisasi ini kami manfaatkan untuk menunjang pengurukan KDMP, bersinergi dengan rekan-rekan dari Kodim dan Koramil sehingga memberikan nilai manfaat lebih bagi masyarakat,” jelas Mahmud.Hingga saat ini, Mahmud menegaskan tidak ada kendala berarti di lapangan. Pihaknya terus memantau progres harian, baik untuk perbaikan jalan maupun normalisasi sungai, agar berjalan sesuai dengan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) yang telah ditetapkan.(Mas).

Selengkapnya

Pengumuman

Agenda / Kegiatan

Visitors : 953669