Berita

23 Sep 2026

BABAD SIDOARJO Seri I: Babad Kahuripan, Bagian 5 Warisan Kahuripan: Fondasi Peradaban yang Masih Mengalir di Tanah Sidoarjo

"Sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia tetap hidup melalui sungai yang mengalir, tanah yang ditanami, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya."Kerajaan Telah Tiada, Warisannya Tetap AdaKOMINFO, Sidoarjo - Lebih dari seribu tahun telah berlalu sejak Raja Airlangga memerintah Kahuripan. Istana kerajaan telah lama hilang, nama para pejabatnya sebagian besar hanya dikenal melalui prasasti, sementara kota-kota kunonya telah berubah menjadi desa, sawah, dan permukiman modern.Namun, jejak Kahuripan tidak benar-benar lenyap. Jejak itu masih dapat dibaca melalui prasasti, jaringan Sungai Brantas, sistem pengairan, hingga bentang alam Delta Brantas yang membentuk kehidupan masyarakat di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo.Dalam perspektif sejarah, Kahuripan bukan sekadar sebuah kerajaan. Kahuripan adalah fondasi lahirnya tatanan politik, ekonomi, dan kebudayaan Jawa Timur pada abad ke-11.Delta Brantas yang Terus MenghidupiSejak masa Airlangga, kawasan hilir Sungai Brantas telah menjadi ruang hidup yang sangat strategis. Sungai menyediakan air bagi pertanian, menjadi jalur perdagangan, sekaligus menghubungkan berbagai permukiman. Keunggulan geografis inilah yang kemudian mendorong tumbuhnya pusat-pusat kehidupan baru di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Krian, Tarik, Balongbendo, Wonoayu, Porong, hingga Sidoarjo.Meskipun nama wilayah terus berubah mengikuti perkembangan zaman, fungsi Delta Brantas sebagai penyangga kehidupan tidak pernah hilang.Dari Kahuripan Menuju JenggalaMenjelang akhir pemerintahannya, Airlangga menghadapi persoalan suksesi yang berpotensi memicu konflik. Untuk menghindari perang saudara, wilayah Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu (Kadiri). Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Jawa Timur.Pembagian tersebut bukanlah akhir dari Kahuripan, melainkan awal dari babak sejarah baru. Dari Jenggala kemudian berkembang jaringan perdagangan Delta Brantas, sementara beberapa abad kemudian kawasan barat Sidoarjo menjadi bagian dari kisah besar pembukaan Alas Tarik oleh Raden Wijaya yang melahirkan Majapahit.Dengan demikian, perjalanan sejarah Sidoarjo merupakan mata rantai yang saling berkaitan: Kahuripan melahirkan Jenggala, Jenggala menjadi bagian dari dinamika politik Jawa Timur, dan dari kawasan Tarik kemudian lahir Majapahit.Perspektif SejarawanDr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), menegaskan bahwa untuk memahami Airlangga dan Kahuripan, para peneliti harus kembali kepada sumber-sumber primer, terutama prasasti—karena Prasasti Pucangan merupakan peninggalan penting di Nusantara yang mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap.Melalui prasasti tersebut, para ahli dapat menelusuri perjalanan Airlangga sejak masa pengungsian, membangun Kahuripan, hingga kebijakan yang mengubah wajah Jawa Timur.Sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016), turut menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membaca sejarah. Carey menempatkan prasasti sebagai sumber primer yang menjadi dasar rekonstruksi sejarah Jawa Kuno, karena dokumen semacam ini dikeluarkan langsung oleh otoritas kerajaan pada masanya.Pandangan tersebut mengingatkan bahwa sejarah lokal harus dibangun di atas bukti arkeologi, prasasti, dan kajian ilmiah, sehingga tidak terjebak pada mitos ataupun legenda yang belum dapat dibuktikan.Sementara itu, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, dalam berbagai kajian pelestarian cagar budaya, menekankan bahwa tinggalan arkeologi seperti prasasti dan situs kuno bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga sumber pengetahuan untuk memahami perkembangan masyarakat, teknologi, dan tata kelola wilayah pada masa lampau. Oleh karena itu, pelestarian tinggalan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya.Menjaga Ingatan, Merawat IdentitasSejarah Kahuripan bukan sekadar kisah seorang raja besar. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah negeri bangkit dari kehancuran melalui kepemimpinan, kerja sama, pengelolaan alam, dan keberpihakan kepada rakyat.Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga kini. Sidoarjo yang tumbuh di atas Delta Brantas masih bergantung pada sungai, irigasi, perdagangan, dan semangat gotong royong masyarakatnya.Mengenal Kahuripan berarti mengenal akar dari perjalanan panjang daerah ini. Tanpa memahami masa Airlangga, sulit memahami lahirnya Jenggala. Tanpa memahami Jenggala, sulit memahami mengapa Alas Tarik dipilih sebagai tempat membangun kekuatan baru yang kemudian berkembang menjadi Majapahit.Karena itu, sejarah Kahuripan bukan sekadar milik masa lalu. Ia adalah fondasi yang menghubungkan perjalanan panjang Sidoarjo dengan peradaban besar Nusantara. (Ir)Tamat Seri I: Babad Kahuripan.Bersambung pada seri berikutnya — Babad Sidoarjo, Seri II: Babad Jenggala: "Ketika Delta Brantas Menjadi Pusat Perdagangan dan Awal Sejarah Sidoarjo."

Selengkapnya
23 Sep 2026

Bupati Subandi: Pemerintah Dukung Pembinaan Prestasi sekaligus Pendidikan Atlet

KOMINFO, Sidoarjo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tidak hanya mendorong atlet untuk berprestasi di arena pertandingan, tetapi juga memberikan perhatian kepada pendidikan dan masa depan mereka. Komitmen tersebut disampaikan Bupati Sidoarjo H Subandi SH MKn saat memberangkatkan 57 atlet Pagar Nusa Sidoarjo menuju Kejuaraan Wilayah (Kejurwil) Ke-10 Pagar Nusa Jawa Timur di Banyuwangi.  Pemberangkatan berlangsung di Pendopo Delta Wibawa pada Rabu (23/9/2026). Kejurwil Ke-10 Pagar Nusa Jawa Timur digelar 24-27 September 2026. Kontingen Sidoarjo terdiri atas 57 atlet serta 13 ofisial dan pelatih. Bupati Subandi mengatakan, para atlet merupakan anak-anak berprestasi yang harus mendapat dukungan agar prestasi olahraga dapat berjalan seiring dengan pendidikan. “Anak-anak ini atlet Sidoarjo, masa depan Sidoarjo. Pemerintah akan terus support. Pendidikan juga harus diperhatikan. Jangan sampai karena menjadi atlet kemudian pendidikannya tertinggal,” katanya.  Dukungan pendidikan tersebut diberikan mulai jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Untuk atlet yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Pemkab Sidoarjo juga akan mendorong kerja sama dengan kampus di Sidoarjo dan Surabaya. Dukungan melalui program beasiswa bagi atlet berprestasi. Menurut Subandi, perhatian kepada atlet juga tidak berhenti pada pendidikan dan pertandingan. Pembinaan dan pelatihan perlu terus diberikan. Itu akan menjadi bekal bagi atlet untuk menghadapi masa depan setelah tidak lagi aktif bertanding. “Saya minta Pak Sekda dan jajaran, anak-anak ini juga dipikirkan ke depannya, termasuk pekerjaannya. Jadi, pemerintah tidak hanya mendampingi mereka saat bertanding, tetapi juga mendampingi masa depannya,” ujarnya. Subandi menegaskan, Sidoarjo memiliki banyak atlet berprestasi. Mereka mengharumkan nama daerah. Karena itu, pembinaan atlet akan terus didukung agar mereka berkembang dan mengikuti berbagai kejuaraan. Baik tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional. Salah satunya, Porprov Jawa Timur. “Anak-anak harus berani mengubah mindset.  Prestasi yang dimiliki atlet juga harus menjadi bekal untuk pendidikan dan masa depan,” tuturnya. Kepada 57 atlet Pagar Nusa yang akan bertanding di Banyuwangi, Bupati Subandi berpesan agar mereka berjuang bagi Kabupaten Sidoarjo. Berupaya meraih prestasi yang membanggakan.  “Saya pesan kepada anak-anakku. Selalu jaga kesehatan. Bawa nama baik keluarga. Lakukan yang terbaik. Panjenengan semua hadir di sana untuk Sidoarjo. Nama baik dan harumnya Sidoarjo ada di tangan Panjenengan semua,” pesannya. Subandi berharap para atlet mampu memberikan penampilan terbaik dan membawa pulang prestasi dari Kejurwil Ke-10 Pagar Nusa Jawa Timur. “Berjuanglah sebaik-baiknya untuk Sidoarjo,” pungkasnya. (Dew/mas)

Selengkapnya
23 Sep 2026

Bupati Ajak Warga Dukung Wakil Sidoarjo dalam Ajang Narapati Kencana Duta Budaya Jawa Timur 2026

KOMINFO, Sidoarjo – Dua putra-putri Sidoarjo mendapat kesempatan mengharumkan nama daerah di ajang Narapati Kencana Duta Budaya Jawa Timur 2026. Mereka adalah Muhammad Rasya Islami Athaillah dan Az-Zahra Andaya Kurnia Putri. Rasya telah menyandang gelar Narapati Rasya dan Az Zahra menyandang Kencana Andaya dalam ajang tersebut. Rabu (23/9), keduanya menemui Bupati Sidoarjo, Subandi di Pendopo Delta Wibawa untuk meminta restu sekaligus dukungan. Subandi menyambut baik capaian keduanya. Dia berharap Rasya dan Andaya mampu terpilih sebagai Narapati Kencana Duta Budaya Jatim 2026. Karena itu, Subandi mengajak masyarakat Sidoarjo ikut memberikan dukungan melalui voting daring. Dukungan dapat diberikan melalui laman VotePoly untuk Narapati Rasya di https://votepoly.com/narapatidutabudayajatim2026 dan Kencana Andaya di https://votepoly.com/kencanadutabudayajatim2026. Dukungan juga dapat diberikan melalui barcode yang tersedia di akun Instagram @rasyaislm._ dan @aandayanr_. “Mari kita dukung Narapati Rasya dan Kencana Andaya untuk menjadi Narapati Kencana Duta Budaya Jatim 2026,” kata Subandi. Menurut Subandi, keberadaan duta budaya bukan sekadar soal gelar. Mereka diharapkan menjadi agen perubahan dalam mengenalkan sekaligus menjaga kebudayaan lokal di tengah perkembangan zaman. “Narapati Rasya dan Kencana Andaya akan menjadi agen perubahan untuk mengenalkan kearifan lokal Sidoarjo, wisata Sidoarjo dan UMKM Sidoarjo ke masyarakat luas,” ujarnya. Subandi juga berharap keduanya dapat ikut membantu pemerintah daerah merawat tradisi, kesenian, serta berbagai kearifan lokal agar tetap hidup dan tidak tergerus zaman. Sementara itu, Kencana Andaya mengaku bersyukur dapat menjadi salah satu finalis Duta Budaya Jawa Timur 2026 yang mewakili Kabupaten Sidoarjo. Proses tersebut dilalui sejak pendaftaran yang dibuka pada Agustus lalu. Dia menyebut terdapat sekitar 250 peserta yang mendaftar dalam ajang Duta Budaya Jawa Timur 2026. Dari Sidoarjo sendiri terdapat 12 perwakilan yang mengikuti proses seleksi. “Alhamdulillah kami mendaftar sebagai Duta Budaya Jawa Timur terhitung sejak bulan Agustus. Tercatat ada 250 pendaftar dan alhamdulillah sampai proses semifinal, kami terpilih menjadi salah satu finalis Duta Budaya Jawa Timur perwakilan Kabupaten Sidoarjo,” ujar Andaya. Menurut dia, dirinya bersama Rasya memiliki program kerja yang saling berkaitan, yakni bergerak di bidang UMKM dan cagar budaya. Program tersebut juga telah dijalankan. “Kami berdua ini salah satu yang memiliki program kerja satu jalur melalui bidang UMKM dan cagar budaya. Alhamdulillah kami berdua punya program kerja yang satu linier dan sudah terlaksana juga,” katanya. Andaya menuturkan, keikutsertaannya dalam ajang tersebut juga didorong keinginan untuk ikut menjaga cagar budaya, khususnya di Kabupaten Sidoarjo. Selain itu, dia ingin ikut mengenalkan potensi wisata Sidoarjo kepada masyarakat di luar daerah. Dia berharap Sidoarjo semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Menurutnya, masih banyak potensi Sidoarjo yang bisa diperkenalkan kepada masyarakat luas. “Ketika ditanya oleh tamu-tamu dari Jawa Tengah, Jawa Barat, kami itu bisa menjawab bahwasanya selain Surabaya, kita punya Sidoarjo yang begitu indah,” pungkasnya. (Git/mas) 

Selengkapnya
23 Sep 2026

Pemkab Sidoarjo Siap Dukung Deltras Menuju Liga 1 asalkan Manajemen Profesional

KOMINFO, Sidoarjo - Pemkab Sidoarjo siap mendukung Deltras FC untuk mengejar target promosi ke Liga 1. Namun, dukungan tersebut perlu dibarengi komitmen, keterbukaan, serta roadmap yang jelas dari manajemen klub. Semua pihak bergerak bersama.  Bupati Sidoarjo, Subandi mengatakan, Klub Sepak Bola Deltras adalah bagian tak terpisahkan dari Kabupaten Sidoarjo. Perjuangan membawa tim berjuluk The Lobster itu ke kasta tertinggi Liga 1 sepak bola Indonesia memerlukan kerja sama semua pihak. Pemkab Sidoarjo, suporter, manajemen, hingga swasta harus duduk bersama demi menyelaraskan visi untuk masa depan Deltras FC. Diperlukan gerak bersama-sama. "Deltras ini kan milik Sidoarjo, rumah kita bersama. Kita harus bergerak bareng mulai dari tingkat desa, kecamatan, sampai kabupaten. Tetapi, ini tidak akan berhasil kalau tidak ada keterbukaan dari manajemen," kata Bupati Subandi setelah audiensi dengan Deltamania di ruang Transit Pendopo Delta Wibawa pada Rabu (23/9/2026).  Subandi yang juga hobi sepak bola itu menegaskan, Pemkab Sidoarjo siap mendukung Deltras. Namun, sebelum Pemkab Sidoarjo melangkah lebih jauh dalam memberikan support, manajemen Deltras FC diharapkan memaparkan roadmap Deltras. Baik kondisi keuangan, rencana menghadapi putaran kompetisi saat ini, maupun target setelah kompetisi usai nanti.  "Manajemen harus mau duduk bersama. Kami ingin melihat kejelasan rencana jangka pendek dan jangka panjang seperti apa. Transparansi keuangan, rencana seusai leg kedua, hingga kesiapan jika berhasil promosi ke Liga 1. Semuanya harus jelas," tegas Subandi. Menurut rencana, pertemuan antara Pemkab Sidoarjo, manajemen Deltras FC, serta  Deltamania akan digelar paling lambat pekan depan. Bupati Subandi juga menggarisbawahi pentingnya profesionalisme dalam pengelolaan klub dan tim. Posisi manajer maupun jajaran pengelola klub tidak diisi secara asalasalan. Perlu sosok yang punya jam terbang tinggi.  "Manajer tidak bisa dicomot begitu saja. Harus diisi orang yang punya kemampuan dan pengalaman sepak bola. Punya jejaring luas, serta menguasai pengelolaan logistik," jelas Bupati Subandi yang berlatar belakang pengusaha tersebut.  Sementara itu, Ketua Umum Deltamania Moh. Firdaus Azzabidy mengatakan, suporter melihat ada potensi besar bagi Deltras untuk berkembang. Namun, potensi tersebut membutuhkan sinergi antara manajemen, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya agar dapat dikembangkan secara maksimal. "Kami melihat potensi Deltras sangat besar. Suporternya ada. Masyarakat Sidoarjo juga punya kecintaan terhadap Deltras. Tetapi, sinergi antara pemerintah daerah, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya harus dibuktikan secara nyata," katanya.  Firdaus menekankan pentingnya komitmen manajemen Deltras dalam membangun tim untuk jangka panjang. Terutama keseriusan mempertahankan para pemain kunci serta menjaga stabilitas posisi pelatih. "Jangan sampai pemain yang performanya sedang naik justru dijual. Pelatih yang sudah bekerja dengan baik juga jangan mudah diganti. Kita ingin ada arahan yang jelas dan perencanaan yang baik," tegas Firdaus. Dia menilai target Deltras seharusnya tidak cuma bertahan di Liga 2. Para suporter menginginkan visi jangka panjang untuk bisa menembus kompetisi Liga 1. "Kami optimistis, bukan sekadar berharap. Potensi Sidoarjo besar. Tinggal bagaimana kita semua bergerak bersama menuju Liga 1," pungkasnya. (Mar) 

Selengkapnya
22 Sep 2026

Pertimbangkan Kapasitas Lalu Lintas hingga 30 Tahun, Pemkab Sidoarjo Ajukan Opsi Enam Jalur pada Flyover Gedangan

KOMINFO, Sidoarjo – Pemkab Sidoarjo ingin pembangunan Flyover (FO) Gedangan menjadi solusi kemacetan jangka panjang. Kapasitas lalu lintas hingga 30 tahun mendatang mulai menjadi pertimbangan dalam pematangan desain jembatan layang tersebut. Opsinya dengan membangun enam jalur di bawah flyover. Pembahasan itu mengemuka pada rapat rencana pembangunan FO Gedangan di ruang Delta Wicaksana Setda Sidoarjo, Selasa (22/9). Pemkab Sidoarjo membahasanya bersama Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Wilayah V Jawa Timur-Bali. Hadir pula pihak-pihak terkait. Di antaranya, pihak yang menangani proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) serta PDAM Surabaya yang jalur pipa distribusi airnya terkena dampak pembangunan FO Gedangan. Rapat dipimpin Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Sidoarjo Bahrul Amig. Ia meminta Satker Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) Provinsi Jatim yang hadir sebagai perwakilan BBPJN Wilayah V Jawa Timur-Bali memaparkan  penyesuaian Detail Engineering Design (DED) FO Gedangan. Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air Sidoarjo Mahmud menuturkan, Pemkab Sidoarjo mendorong opsi enam jalur dua arah pada pembangunan FO Gedangan. Enam jalur itu dibagi pada masing-masing sisi bawah jembatan. Tiga jalur di sisi timur dari arah Surabaya ke Sidoarjo dan tiga jalur di sisi barat dari arah Sidoarjo ke Surabaya. Opsi itu mempertimbangkan kapasitas lalu lintas jangka panjang.  ”Pertimbangannya nanti kemacetannya. Kalau 6 jalur itu di titik jenuhnya kita hitungnya 30 tahun. Tapi kalau 4 jalur, maka titik jenuhnya nanti di 15 tahun,” ungkapnya.  Opsi enam jalur dipilih juga untuk menghindari kebutuhan pelebaran jalan di masa mendatang, meski kebutuhan lahannya akan lebih besar. Jika dipilih empat jalur, ada sebagaian lahan warga yang tidak akan masuk dalam pembebasan kebutuhan lahan FO Gedangan.  ”Mending kita ukur sampai dengan 30 tahun. Jadi jangka panjangnya supaya tidak ada lagi pembebasan lahan kanan kirinya karena pasti lebih sulit ke depannya nanti, mending sekarang daripada dilakukan pembebasannya nanti,” ucapnya.  Mahmud mengatakan, opsi pembangunan enam jalur itu juga berkaitan dengan kebutuhan lahan KAI. Pasalnya, pada tahun 2027, KAI juga berencana membangun jalur ganda kereta api. Rencana proyek pembangunan SRRL jalur ganda KAI itu perlu diselaraskan dengan pembangunan FO Gedangan.  Jika tidak diperhitungkan sejak awal, dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan pada tahap pembangunan selanjutnya. Untuk itu, pembahasan desain dan kebutuhan lahan masih harus dibicarakan lagi bersama KAI.  ”Ya kendalanya ini. Hanya itu saja. Ini kebetulan KAI belum bisa hadir, maka kami akan koordinasi lebih lanjut,” ucapnya.  Satker P2JN Jatim Indi Sasongko menyatakan butuh kesepahaman bersama untuk menyelesaikan DED FO Gedangan. Terutama pihak KAI sebagai pemilik lahan yang juga akan mengembangkan proyek SRRL.  ”Hasil rapat kita masih butuh kesepahaman dengan pihak Kereta Api terkait lahanlahan yang dibutuhkan. Mau menggunakan enam jalur per masing-masing sisi tiga atau dua jalur di masing-masing sisi. Tapi, dari Pemkab berharap tiga jalur per masingmasing sisi di bawah flyover," ujarnya. Idealnya, kata dia, jalur di bawah FO Gedangan menggunakan 6 jalur. Masing-masing sisi terdapat tiga jalur dari arah Sidoarjo ke Surabaya dan sebaliknya. Tiga jalur dari arah Surabaya ke Sidoarjo untuk melayani belok kiri ke arah Sedati dan belok kanan ke arah Sukodono serta jalan lurus ke arah Sidoarjo. Opsi pemilihan enam jalur tersebut juga sangat berkaitan dengan perhitungan kepadatan arus lalu lintas untuk 30 tahun mendatang.  ”Kalau empat jalur dengan masing-masing sisinya dua jalur artinya lahan Kereta Api yang terdampak memang lebih sedikit. Tapi, memang secara lalu lintas itu memang lebih ideal kita menggunakan enam jalur. Enam jalur itu maksudnya masing-masing tiga jalur,” ujarnya. (Git) 

Selengkapnya
22 Sep 2026

Sedekah Bumi Desa Pabean, Bupati Subandi Ajak Masyarakat Perkuat Silaturahmi dan Kebersamaan

KOMINFO, Sidoarjo – Sedekah Bumi tidak sekadar tradisi tahunan bagi masyarakat Desa Pabean, Kecamatan Sedati. Momentum itu juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan kebersamaan warga. Pesan itu disampaikan Bupati Sidoarjo H. Subandi saat menghadiri pengajian dalam rangka Sedekah Bumi Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Selasa (22/9/2026).  ”Sedekah bumi ini merupakan bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan. Momentum seperti ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga,” ujar Subandi. Pada pengajian tersebut bupati datang bersama Ketua TP PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Sriatun Subandi. Turut hadir pula Dandim 0816 Sidoarjo Letkol Infanteri Abraham Priyadi, anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo, jajaran Forkopimka Kecamatan Sedati, seluruh kepala desa se-Kecamatan Sedati, Kepala Desa Pabean beserta perangkat desa, tokoh masyarakat, RT/RW, serta sahabat Ansor dan Banser. Sedekah Bumi yang berlangsung di Lapangan Bola Desa Pabean tersebut menghadirkan Gus Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam bersama Hadrah Pusat Sabilu Taubah. Ribuan jamaah hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan dengan khidmat hingga selesai. Bupati Subandi mengapresiasi terselenggaranya kegiatan Sedekah Bumi Desa Pabean yang dirangkai dengan pengajian bersama Gus Iqdam dan Hadrah Pusat Sabilu Taubah. Antusiasme ribuan warga yang hadir juga mendapat apresiasi dari Subandi. Menurut bupati, kebersamaan antara pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan serta kondusivitas wilayah. ”Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan seluruh masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, Ansor, Banser dan seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk bersama-sama membangun Sidoarjo,” lanjutnya. Subandi berharap kegiatan keagamaan dan tradisi masyarakat seperti Sedekah Bumi dapat terus dilestarikan. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta kepedulian sosial yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Sementara itu, Gus Iqdam bersama Hadrah Pusat Sabilu Taubah memberikan tausiah dan pengajian kepada ribuan jamaah yang hadir. Masyarakat antusias dan mengikuti jalannya pengajian dengan tertib dan khidmat. Kegiatan tersebut menjadi momentum kebersamaan masyarakat Desa Pabean dan sekitarnya, sekaligus mempererat silaturahmi antara masyarakat, pemerintah daerah, tokoh agama, dan berbagai unsur masyarakat lainnya. (Son/iad)

Selengkapnya
21 Sep 2026

Wabup Mimik Idayana Sidak Perbaikan Rumah Pompa Jati, Perkuat Mitigasi Banjir

KOMINFO, Sidoarjo -  Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana bersama Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air (PU BMSDA) Kabupaten Sidoarjo melakukan sidak terhadap progres perbaikan rumah pompa di Jalan Raya Jati, Kecamatan Sidoarjo, pada Senin (21/9/2026). Pengerjaan harus memenuhi standar kualitas sekaligus selesai tepat waktu.  Lokasi sidak berada di seberang Lippo Plaza Sidoarjo. Rumah pompa tersebut menjadi salah satu infrastruktur yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memperkuat langkah mitigasi banjir. Khususnya di kawasan Jati dan sekitarnya. Selama beberapa tahun terakhir kerap terjadi genangan saat hujan deras.  Dalam sidak tersebut, Wabup Mimik Idayana menyaksikan progres pekerjaan sekaligus memastikan pembangunan berjalan sesuai perencanaan. Dia berharap perbaikan selesai dalam tiga bulan sehingga dapat segera difungsikan sebelum memasuki puncak musim hujan. “Ini saya cek secara langsung. Karena daerah Lippo beberapa tahun ini mengalami banjir. Rumah pompa ini diharapkan bisa menjadi solusi,” ujarnya.  Menurut Wabup Mimik Idayana, selain mengejar ketepatan waktu penyelesaian, kualitas pekerjaan juga harus menjadi perhatian utama. Ia meminta material yang digunakan, khususnya untuk bagian fondasi dan penampungan air, memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan. Wabup Mimik Idayana secara khusus menyoroti penggunaan material pasir dan campuran semen. Ditegaskan, konstruksi rumah pompa yang berhubungan langsung dengan air membutuhkan struktur yang kuat agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. “Penampungan air ini harus benar-benar kuat. Kualitasnya harus bagus dan sesuai standar. Jangan sampai material yang digunakan tidak sesuai karena ini berkaitan dengan kekuatan bangunan,” tegasnya. Wabup Mimik Idayana juga meminta agar material yang kurang memenuhi standar, terutama pasir yang digunakan untuk fondasi, segera diganti. Tujuannya, mengantisipasi terjadinya rembesan maupun kebocoran pada konstruksi. Lebih-lebih, kondisi tanah di bawah bangunan rumah pompa memiliki kandungan air yang cukup tinggi. Selain persoalan kualitas pekerjaan, Wabup Mimik Idayana juga memberikan perhatian terhadap sistem pembuangan air dari rumah pompa. Dia minta Dinas PU BMSDA Sidoarjo memastikan arah pembuangan tidak menimbulkan persoalan baru bagi wilayah lain. Terutama kawasan Sidokare yang juga memiliki kerawanan banjir.“Ini juga harus segera dipikirkan. Kalau sungai itu nanti menjadi tempat pembuangan, harus segera dinormalisasi. Jangan sampai air dari sini justru menambah persoalan di daerah Sidokare yang juga selama ini mengalami banjir,” ujarnya. Wabup Mimik Idayana meminta jajaran teknis segera menghitung kembali kapasitas tampungan, kedalaman, serta kemampuan saluran dalam menerima aliran air. Hal tersebut dinilai penting mengingat musim hujan diperkirakan segera tiba. “Waktunya tinggal dua sampai tiga bulan menuju musim hujan. Jangan sampai ada keterlambatan. Semua harus dipikirkan dengan matang, termasuk kapasitas dan arah pembuangan airnya,” katanya. Perbaikan rumah pompa di Jalan Raya Jati ini diharapkan mampu menjadi pengendali air di kawasan tersebut. Dengan pengaturan dan pengendalian volume air yang lebih baik, keberadaan rumah pompa diharapkan dapat menekan risiko luapan air dan mengurangi potensi banjir di sekitar Jati, termasuk kawasan depan Lippo Plaza Sidoarjo. Wabup Mimik Idayana menyatakan akan terus memantau progres pekerjaan tersebut. Ia meminta pelaksana dan jajaran teknis memperhatikan kualitas pekerjaan sekaligus memastikan target penyelesaian dapat tercapai sesuai jadwal. “Ini harus benar-benar diperhatikan. Kita ingin rumah pompa ini nantinya menjadi solusi. Bukan justru menimbulkan persoalan baru ketika musim hujan datang,” pungkasnya.(Son) 

Selengkapnya
21 Sep 2026

Sidak Proyek Jembatan Candinegoro yang Terlambat, Wabup Mimik Idayana Temukan Deviasi 28 Persen

KOMINFO, Sidoarjo – Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana melakukan inspeksi mendadak (sidak) pembangunan jembatan di Desa Candinegoro, Kecamatan Wonoayu, pada Senin (21/9/2026). Sidak dilakukan untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai target. Harus tuntas sebelum memasuki musim hujan. Dalam sidak tersebut, Wabup Mimik menemukan progres pembangunan masih jauh dari target. Pekerjaan yang seharusnya telah mencapai 45 persen ternyata baru terealisasi sekitar 17 persen. Terjadi deviasi keterlambatan 28 persen. Wabup Mimik menyatakan kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian serius dari kontraktor. Terlebih, pembangunan jembatan berkaitan dengan kelancaran lalu lintas masyarakat di wilayah tersebut.  “Saya sidak langsung, ternyata deviasi keterlambatannya 28 persen. Padahal, ini sudah mau musim hujan. November atau Desember ini sudah harus selesai. Fakta di lapangan kondisinya masih seperti ini. Sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.  Wabup Mimik meminta kontraktor segera melakukan percepatan pekerjaan dengan menambah jumlah tenaga kerja. Tenaga kerja yang berada di lokasi saat disidak hanya sekitar 10 orang. Itu tidak cukup. Harus lembur dan harus segera selesai sesuai target pekerjaannya.  "Kontraktor harus bertanggung jawab,” tegasnya. Selain progres pekerjaan, Wabup Mimik juga menemukan persoalan pada material yang digunakan dalam pembangunan. Salah satunya berkaitan dengan besi pada bagian pancang yang disebutnya tidak sesuai dengan spesifikasi pekerjaan. Menurut dia, material yang tidak sesuai spesifikasi harus segera diganti agar pekerjaan memenuhi ketentuan teknis yang telah ditetapkan dalam perencanaan. “Tadi ada temuan besi yang tidak sesuai spek. Harus diganti. Speknya seperti apa di perencanaannya. Harus disesuaikan,” jelasnya. Anggaran pembangunan Jembatan Candinegoro sekitar Rp1,46 miliar. Wabup Mimik meminta kontraktor tidak mengabaikan standar spesifikasi teknis maupun target waktu yang telah ditetapkan. Dia mengingatkan adanya konsekuensi terhadap kontraktor apabila pekerjaan tidak segera diperbaiki dan dipercepat sesuai ketentuan. Wabup Mimik berharap percepatan pengerjaan segera dilakukan dengan tetap memperhatikan kualitas konstruksi. Hal tersebut penting agar jembatan selesai sesuai target dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Candinegoro dan sekitarnya. (Mar) 

Selengkapnya
21 Sep 2026

BABAD SIDOARJO Seri I: Babad Kahuripan, Bagian 4 Kehidupan Rakyat Kahuripan: Desa Sīma, Sawah, dan Jalur Dagang Delta Brantas

"Kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya diukur dari luas wilayahnya, tetapi juga dari kesejahteraan rakyat yang mengolah tanah dan menjaga kehidupan di sekitarnya."Di Balik Kebesaran AirlanggaKOMINFO, Sidoarjo - Nama Airlangga selalu dikaitkan dengan keberhasilannya mempersatukan kembali Jawa Timur setelah masa Mahapralaya. Namun, kebesaran seorang raja sesungguhnya tidak hanya tercermin dari kemenangan politik atau militer.Di balik istana Kahuripan, ribuan petani menggarap sawah, para pedagang mengarungi Sungai Brantas, para perajin menghasilkan berbagai kebutuhan masyarakat, sementara pejabat desa mengatur kehidupan sehari-hari. Mereka adalah wajah lain dari Kerajaan Kahuripan yang jarang diceritakan.Prasasti-prasasti pada masa Airlangga menunjukkan bahwa kerajaan tidak hanya mengurus peperangan, tetapi juga memberi perhatian pada irigasi, perdagangan, perpajakan, serta perlindungan terhadap desa-desa yang berjasa bagi negara.Desa Sīma: Penghargaan bagi PengabdianPada masa Jawa Kuno dikenal istilah desa sīma, yaitu desa yang memperoleh penetapan khusus dari raja. Penetapan ini umumnya diberikan sebagai penghargaan atas jasa masyarakat, misalnya menjaga tempat suci, membantu pembangunan infrastruktur, atau mendukung kepentingan kerajaan.Status sīma biasanya disertai hak-hak tertentu, seperti pembebasan sebagian kewajiban pajak atau pengaturan hasil bumi. Prasasti menjadi dokumen resmi yang mencatat keputusan tersebut, sehingga hak masyarakat terlindungi secara hukum.Bagi para sejarawan, keberadaan desa sīma menunjukkan bahwa pemerintahan Airlangga telah mengenal tata administrasi yang rapi dan hubungan yang erat antara kerajaan dengan masyarakat desa.Sawah Adalah Sumber KehidupanDelta Brantas sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang subur. Endapan lumpur dari sungai menjadikan tanahnya cocok untuk pertanian, terutama padi.Keberhasilan panen sangat bergantung pada kelancaran sistem pengairan. Karena itu, pembangunan bendungan dan saluran air menjadi kebijakan penting pada masa Airlangga. Prasasti Kamalagyan menunjukkan bahwa pengelolaan air dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab negara.Dengan irigasi yang baik, hasil pertanian meningkat. Surplus produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan rakyat, tetapi juga menjadi penopang perdagangan antardaerah.Sungai sebagai Jalan RayaPada abad ke-11, perjalanan melalui darat masih menghadapi banyak kendala. Hutan lebat dan kondisi alam membuat transportasi sungai menjadi pilihan utama.Sungai Brantas menjadi jalur distribusi hasil bumi dari pedalaman menuju kawasan pesisir. Perahu-perahu mengangkut beras, garam, hasil hutan, kain, hingga berbagai komoditas lain yang diperdagangkan di bandar-bandar niaga.Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo berada di bagian hilir jaringan sungai tersebut. Letak geografis ini menjadikan kawasan Delta Brantas berkembang sebagai simpul ekonomi yang menghubungkan pedalaman dengan laut.Perspektif SejarawanDr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), menegaskan bahwa Prasasti Pucangan merupakan sumber utama untuk memahami masa pemerintahan Airlangga, karena mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap dibanding prasasti lain yang ditemukan di Nusantara.Menurut Ninie Susanti, prasasti-prasasti dari masa Airlangga memperlihatkan bahwa kebijakan kerajaan tidak hanya berorientasi pada stabilitas politik, tetapi juga menyangkut pemulihan kehidupan masyarakat setelah masa konflik.Sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016), turut mengingatkan pentingnya membaca sejarah melalui sumber primer. Carey menjelaskan bahwa Prasasti Pucangan adalah piagam resmi yang dikeluarkan langsung oleh Sri Maharaja, sehingga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber sejarah pemerintahan Airlangga.Baginya, prasasti merupakan dasar untuk memahami bagaimana pemerintahan Airlangga membangun kembali tatanan politik, ekonomi, dan sosial di Jawa Timur secara bertahap.Nilai yang Tetap RelevanSejarah Kahuripan menunjukkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pemerintahan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.Air, tanah, dan sungai menjadi modal utama yang dikelola untuk kepentingan bersama. Semangat inilah yang masih relevan bagi Sidoarjo hingga kini—daerah yang tumbuh di atas Delta Brantas dan terus bergantung pada pengelolaan sumber daya air, pertanian, serta konektivitas antarwilayah.Warisan terbesar Airlangga bukan hanya kerajaan yang ia dirikan, melainkan sistem pemerintahan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai bagian penting dari keberlangsungan negara. (Irwan)Bersambung ke Babad Sidoarjo — Seri I: Babad Kahuripan, Bagian 5: "Warisan Kahuripan di Sidoarjo Modern: Dari Delta Brantas hingga Identitas Daerah."

Selengkapnya
20 Sep 2026

Buka CFD dan Bazar UMKM Durungbedug, Candi, Wabup Mimik Idayana Tawari UMKM Pinjaman Lunak tanpa Jaminan

KOMINFO, Sidoarjo - Ribuan masyarakat menyambut gembira pelaksanaan car free day ((CFD) perdana yang digelar Pemerintah Desa Durungbedug, Kecamatan Candi, Minggu (20/9/2026). Hari bebas kendaraan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk senam bersama. Ratusan UMKM pun berjajar di jalan sepanjang sekitar 1 kilometer. Beragam produk ditampilkan.  Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana menyambut gembira pelaksanaan CFD sekaligus bazar UMKM di Desa Durungbedug tersebut. Total ada 360 UMKM ambil bagian. Wabup Mimik menyatakan acara tersebut sangat berdampak positif bagi kesehatan masyarakat. Sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga desa. "Mudah-mudahan setiap hari Minggu diadakan acara seperti ini. Ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian Desa Durungbedug," ucapnya. Wabup Mimik Idayana mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo akan terus mendorong UMKM naik kelas. Salah satunya, menyiapkan bantuan permodalan. Pemkab Sidoarjo memfasilitasi pinjaman lunak melalui BPR Delta Artha Perseroda. Bank milik Pemkab Sidoarjo itu menggelontorkan pinjaman permodalan lewat Program Kurda (Kredit Usaha Rakyat Daerah). Bunga pinjaman sangat ringan. Hanya 2 persen per tahun atau 0,16 persen per bulan. Tanpa jaminan pula.  "Jadi, warga Durungbedug yang ingin mengembangkan usaha UMKM-nya bisa mendapatkan pinjaman lunak. Minimal Rp 5 juta sampai Rp10 juta. Syaratnya, cukup ber-KTP warga Sidoarjo," ujarnya.Mimik meminta para pelaku UMKM Sidoarjo memanfaatkan Program Kurda tersebut. Dia juga berharap  para pelaku UMKM mendaftarkan izin usaha mereka. Dokumen tersebut dapat menjadi akses ke berbagai fasilitas bantuan permodalan. Pemkab Sidoarjo siap memfasilitasi para pelaku UMKM untuk mendapatkan izin usaha tersebut.  "Yang mau bikin usaha, daftarkan sekarang. Nanti bisa tetap berjualan di sini. Insya Allah ke depannya akan kita bantu gerobak jualannya. Tapi, penempatan gerobaknya yang rapi. Saya juga minta tolong jaga kebersihanp. Terutama masalah sampahnya," pesannya.  Dalam kesempatan itu,  Mimik juga mengajak warga Durungbedug untuk ikut mempercantik lingkungan. Salah satunya, menanam bunga bougenville. Bunga tersebut sangat mudah dirawat. Tahan panas dan bunganya indah. Harganya pun murah. Bahkan, potongan tangkai bunganya saja bisa langsung ditanam.  "Ayo tanam di rumah masing-masing. Setiap jalan ditanami. Kalau sudah berbunga, akan membuat lingkungan itu cantik," ajaknya.  Sementara itu, Kepala Desa Durungbedug M. Iskaq berterima kasih atas dukungan Pemkab Sidoarjo. Pelaksanaan kegiatan CFD sekaligus bazar UMKM tersebut akan dijadikan agenda rutin Pemdes Durungbedug. Setiap Minggu Jalan Desa Durungbedug akan ditutup mulai pukul 06.00 sampai 09.00 WIB untuk kegiatan CFD. "Kegiatan ini sudah beberapa bulan kita rencanakan. Alhamdulillah, dengan dukungan pemerintah kecamatan dan pemerintah kabupaten, kegiatan sukses terlaksana," ucapnya.  M. Iskaq menambahkan, bazar UMKM tidak hanya diisi oleh warga Desa Durungbedug. Para pelaku UMKM desa lain juga diperbolehkan mengisi stanstan penjualan. Pemdes Durungbedug hanya menarik retribusi kebersihan dan keamanan Rp 5 ribu per lapak.  "Ini sementara sekitar 360 UMKM. Khusus warga Durungbedug 300. Selebihnya warga lain," ujarnya. Git 

Selengkapnya

Pengumuman

Agenda / Kegiatan

Visitors : 2227932