KOMINFO, Sidoarjo - Di tengah kawasan agraris Kabupaten Sidoarjo, sebuah sendang tua masih bertahan di antara permukiman dan sawah warga. Airnya tetap mengalir, menjadi saksi perubahan zaman yang terus bergerak dari generasi ke generasi. Warga menyebutnya Sendang Agung (20/5/2026).
Bagi masyarakat sekitar, sendang itu bukan sekadar sumber air. Ia adalah ruang hidup yang menyimpan jejak sejarah desa, tradisi, hingga hubungan panjang manusia dengan alam.
Di pagi hari, suasana di sekitar sendang masih terasa teduh. Pepohonan menaungi area mata air, sementara warga datang silih berganti. Sebagian sekadar beristirahat, sebagian lain masih memanfaatkan airnya untuk kebutuhan tertentu.
Menurut cerita turun-temurun masyarakat, Sendang Agung diperkirakan telah ada jauh sebelum bangunan pelindung modern dibangun. Tidak ada prasasti atau catatan resmi yang menjelaskan kapan tepatnya sendang itu muncul. Namun ingatan kolektif warga menjadi penanda bahwa keberadaannya telah menyatu dengan kehidupan desa sejak lama.
Secara historis, kawasan ini berada dalam lanskap budaya Delta Brantas yang sejak masa lampau dikenal sebagai wilayah agraris penting di Jawa Timur. Pada masa pengaruh Majapahit, daerah-daerah seperti Urang Agung diduga menjadi bagian dari kawasan pertanian dan sistem pengairan tradisional penyangga kehidupan kerajaan.
Sejarawan Denys Lombard menyebut struktur air tradisional di Jawa memiliki kemampuan bertahan lintas zaman meski bentuk fisiknya berubah.
“Struktur air tradisional di Jawa sering kali bertahan lintas zaman, meski bentuk fisiknya berubah, sementara asal-usulnya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.”
Pernyataan itu terasa relevan dengan kondisi Sendang Agung hari ini. Meski lingkungan sekitar mengalami perubahan, keberadaan sendang tetap menjadi pusat memori budaya masyarakat desa.
Pada masa lalu, sendang memiliki fungsi yang sangat penting. Airnya dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, pengairan lahan pertanian, hingga menjadi tempat berkumpul warga. Di ruang seperti inilah interaksi sosial tumbuh secara alami.
Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, menjelaskan bahwa ruang komunal tradisional di Jawa memiliki peran penting dalam membangun solidaritas sosial masyarakat.
“Ruang komunal tradisional seperti sendang mencerminkan nilai gotong royong, spiritualitas, dan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.”
Tak hanya berfungsi secara praktis, Sendang Agung juga memiliki dimensi spiritual yang masih terasa hingga kini. Dalam tradisi masyarakat Jawa, air sering dipandang sebagai simbol kehidupan dan kesucian. Karena itu, sendang kerap menjadi bagian dari ritual budaya seperti bersih desa maupun doa bersama.
Tokoh masyarakat Urang Agung, Sutrisno, mengatakan sendang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga sejak zaman leluhur.
“Sendang ini sudah ada sejak zaman leluhur kami. Dulu semua warga bergantung di sini. Airnya tidak pernah kering, bahkan saat kemarau panjang. Ini bukan sekadar sumber air, tapi bagian dari kehidupan kami,” ujarnya.
Di tengah modernisasi dan hadirnya teknologi air seperti sumur bor serta jaringan perpipaan, fungsi praktis sendang memang mulai berkurang. Namun justru dari situ muncul makna baru: sendang berubah menjadi simbol identitas budaya desa.
Keberadaan Sendang Agung kini dinilai memiliki nilai penting dari sisi sejarah, budaya, sosial, hingga pendidikan. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, situs yang berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai penting sejarah maupun budaya dapat diusulkan sebagai objek cagar budaya.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya tidak hanya berfokus pada bangunan fisik, tetapi juga nilai dan makna yang hidup di tengah masyarakat.
“Pelestarian dilakukan tidak hanya pada bentuk fisik, tetapi juga pada nilai dan makna yang terkandung di dalamnya.”
Melihat potensi tersebut, Sendang Agung dinilai layak dikembangkan sebagai ruang edukasi sejarah lokal, wisata budaya desa, hingga pusat pelestarian tradisi masyarakat.
Di tengah arus perubahan zaman, keberadaan sendang tua seperti ini menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum atau prasasti kerajaan. Kadang, sejarah hidup dalam aliran air yang tetap dijaga warga desa dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Urang Agung, Sendang Agung bukan sekadar mata air. Ia adalah penanda identitas, ruang budaya, sekaligus saksi perjalanan panjang sebuah desa yang terus bertahan tanpa kehilangan akarnya. (Ir)
Visitors : 1773277