"Sejarah tidak pernah benar-benar berlalu. Ia tetap hidup melalui sungai yang mengalir, tanah yang ditanami, dan ingatan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya."
Kerajaan Telah Tiada, Warisannya Tetap Ada
KOMINFO, Sidoarjo - Lebih dari seribu tahun telah berlalu sejak Raja Airlangga memerintah Kahuripan. Istana kerajaan telah lama hilang, nama para pejabatnya sebagian besar hanya dikenal melalui prasasti, sementara kota-kota kunonya telah berubah menjadi desa, sawah, dan permukiman modern.
Namun, jejak Kahuripan tidak benar-benar lenyap. Jejak itu masih dapat dibaca melalui prasasti, jaringan Sungai Brantas, sistem pengairan, hingga bentang alam Delta Brantas yang membentuk kehidupan masyarakat di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Dalam perspektif sejarah, Kahuripan bukan sekadar sebuah kerajaan. Kahuripan adalah fondasi lahirnya tatanan politik, ekonomi, dan kebudayaan Jawa Timur pada abad ke-11.
Delta Brantas yang Terus Menghidupi
Sejak masa Airlangga, kawasan hilir Sungai Brantas telah menjadi ruang hidup yang sangat strategis. Sungai menyediakan air bagi pertanian, menjadi jalur perdagangan, sekaligus menghubungkan berbagai permukiman. Keunggulan geografis inilah yang kemudian mendorong tumbuhnya pusat-pusat kehidupan baru di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Krian, Tarik, Balongbendo, Wonoayu, Porong, hingga Sidoarjo.
Meskipun nama wilayah terus berubah mengikuti perkembangan zaman, fungsi Delta Brantas sebagai penyangga kehidupan tidak pernah hilang.
Dari Kahuripan Menuju Jenggala
Menjelang akhir pemerintahannya, Airlangga menghadapi persoalan suksesi yang berpotensi memicu konflik. Untuk menghindari perang saudara, wilayah Kahuripan kemudian dibagi menjadi dua kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu (Kadiri). Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Jawa Timur.
Pembagian tersebut bukanlah akhir dari Kahuripan, melainkan awal dari babak sejarah baru. Dari Jenggala kemudian berkembang jaringan perdagangan Delta Brantas, sementara beberapa abad kemudian kawasan barat Sidoarjo menjadi bagian dari kisah besar pembukaan Alas Tarik oleh Raden Wijaya yang melahirkan Majapahit.
Dengan demikian, perjalanan sejarah Sidoarjo merupakan mata rantai yang saling berkaitan: Kahuripan melahirkan Jenggala, Jenggala menjadi bagian dari dinamika politik Jawa Timur, dan dari kawasan Tarik kemudian lahir Majapahit.
Perspektif Sejarawan
Dr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), menegaskan bahwa untuk memahami Airlangga dan Kahuripan, para peneliti harus kembali kepada sumber-sumber primer, terutama prasasti—karena Prasasti Pucangan merupakan peninggalan penting di Nusantara yang mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap.
Melalui prasasti tersebut, para ahli dapat menelusuri perjalanan Airlangga sejak masa pengungsian, membangun Kahuripan, hingga kebijakan yang mengubah wajah Jawa Timur.
Sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016), turut menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah dalam membaca sejarah. Carey menempatkan prasasti sebagai sumber primer yang menjadi dasar rekonstruksi sejarah Jawa Kuno, karena dokumen semacam ini dikeluarkan langsung oleh otoritas kerajaan pada masanya.
Pandangan tersebut mengingatkan bahwa sejarah lokal harus dibangun di atas bukti arkeologi, prasasti, dan kajian ilmiah, sehingga tidak terjebak pada mitos ataupun legenda yang belum dapat dibuktikan.
Sementara itu, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, dalam berbagai kajian pelestarian cagar budaya, menekankan bahwa tinggalan arkeologi seperti prasasti dan situs kuno bukan hanya benda bersejarah, tetapi juga sumber pengetahuan untuk memahami perkembangan masyarakat, teknologi, dan tata kelola wilayah pada masa lampau. Oleh karena itu, pelestarian tinggalan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya.
Menjaga Ingatan, Merawat Identitas
Sejarah Kahuripan bukan sekadar kisah seorang raja besar. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah negeri bangkit dari kehancuran melalui kepemimpinan, kerja sama, pengelolaan alam, dan keberpihakan kepada rakyat.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga kini. Sidoarjo yang tumbuh di atas Delta Brantas masih bergantung pada sungai, irigasi, perdagangan, dan semangat gotong royong masyarakatnya.
Mengenal Kahuripan berarti mengenal akar dari perjalanan panjang daerah ini. Tanpa memahami masa Airlangga, sulit memahami lahirnya Jenggala. Tanpa memahami Jenggala, sulit memahami mengapa Alas Tarik dipilih sebagai tempat membangun kekuatan baru yang kemudian berkembang menjadi Majapahit.
Karena itu, sejarah Kahuripan bukan sekadar milik masa lalu. Ia adalah fondasi yang menghubungkan perjalanan panjang Sidoarjo dengan peradaban besar Nusantara. (Ir)
Tamat Seri I: Babad Kahuripan.
Bersambung pada seri berikutnya — Babad Sidoarjo, Seri II: Babad Jenggala: "Ketika Delta Brantas Menjadi Pusat Perdagangan dan Awal Sejarah Sidoarjo."
Visitors : 2227978