Ke Berita

BABAD SIDOARJO Seri I: Babad Kahuripan, Bagian 4 Kehidupan Rakyat Kahuripan: Desa Sīma, Sawah, dan Jalur Dagang Delta Brantas

21 Sep 2026 | Dewi Zumrotus Sholihah Dilihat : 78

"Kejayaan sebuah kerajaan tidak hanya diukur dari luas wilayahnya, tetapi juga dari kesejahteraan rakyat yang mengolah tanah dan menjaga kehidupan di sekitarnya."


Di Balik Kebesaran Airlangga

KOMINFO, Sidoarjo - Nama Airlangga selalu dikaitkan dengan keberhasilannya mempersatukan kembali Jawa Timur setelah masa Mahapralaya. Namun, kebesaran seorang raja sesungguhnya tidak hanya tercermin dari kemenangan politik atau militer.


Di balik istana Kahuripan, ribuan petani menggarap sawah, para pedagang mengarungi Sungai Brantas, para perajin menghasilkan berbagai kebutuhan masyarakat, sementara pejabat desa mengatur kehidupan sehari-hari. Mereka adalah wajah lain dari Kerajaan Kahuripan yang jarang diceritakan.


Prasasti-prasasti pada masa Airlangga menunjukkan bahwa kerajaan tidak hanya mengurus peperangan, tetapi juga memberi perhatian pada irigasi, perdagangan, perpajakan, serta perlindungan terhadap desa-desa yang berjasa bagi negara.


Desa Sīma: Penghargaan bagi Pengabdian


Pada masa Jawa Kuno dikenal istilah desa sīma, yaitu desa yang memperoleh penetapan khusus dari raja. Penetapan ini umumnya diberikan sebagai penghargaan atas jasa masyarakat, misalnya menjaga tempat suci, membantu pembangunan infrastruktur, atau mendukung kepentingan kerajaan.


Status sīma biasanya disertai hak-hak tertentu, seperti pembebasan sebagian kewajiban pajak atau pengaturan hasil bumi. Prasasti menjadi dokumen resmi yang mencatat keputusan tersebut, sehingga hak masyarakat terlindungi secara hukum.


Bagi para sejarawan, keberadaan desa sīma menunjukkan bahwa pemerintahan Airlangga telah mengenal tata administrasi yang rapi dan hubungan yang erat antara kerajaan dengan masyarakat desa.


Sawah Adalah Sumber Kehidupan


Delta Brantas sejak dahulu dikenal sebagai kawasan yang subur. Endapan lumpur dari sungai menjadikan tanahnya cocok untuk pertanian, terutama padi.


Keberhasilan panen sangat bergantung pada kelancaran sistem pengairan. Karena itu, pembangunan bendungan dan saluran air menjadi kebijakan penting pada masa Airlangga. Prasasti Kamalagyan menunjukkan bahwa pengelolaan air dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab negara.


Dengan irigasi yang baik, hasil pertanian meningkat. Surplus produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan rakyat, tetapi juga menjadi penopang perdagangan antardaerah.


Sungai sebagai Jalan Raya


Pada abad ke-11, perjalanan melalui darat masih menghadapi banyak kendala. Hutan lebat dan kondisi alam membuat transportasi sungai menjadi pilihan utama.


Sungai Brantas menjadi jalur distribusi hasil bumi dari pedalaman menuju kawasan pesisir. Perahu-perahu mengangkut beras, garam, hasil hutan, kain, hingga berbagai komoditas lain yang diperdagangkan di bandar-bandar niaga.


Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo berada di bagian hilir jaringan sungai tersebut. Letak geografis ini menjadikan kawasan Delta Brantas berkembang sebagai simpul ekonomi yang menghubungkan pedalaman dengan laut.


Perspektif Sejarawan


Dr. Ninie Susanti, Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, dalam bukunya Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI (Komunitas Bambu, 2010), menegaskan bahwa Prasasti Pucangan merupakan sumber utama untuk memahami masa pemerintahan Airlangga, karena mencatat riwayat hidup Raja Airlangga secara paling lengkap dibanding prasasti lain yang ditemukan di Nusantara.


Menurut Ninie Susanti, prasasti-prasasti dari masa Airlangga memperlihatkan bahwa kebijakan kerajaan tidak hanya berorientasi pada stabilitas politik, tetapi juga menyangkut pemulihan kehidupan masyarakat setelah masa konflik.


Sejarawan Peter Carey, Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia, dalam kajiannya "The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816" (IIAS Newsletter, Leiden, No. 74, 2016), turut mengingatkan pentingnya membaca sejarah melalui sumber primer. Carey menjelaskan bahwa Prasasti Pucangan adalah piagam resmi yang dikeluarkan langsung oleh Sri Maharaja, sehingga memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai sumber sejarah pemerintahan Airlangga.


Baginya, prasasti merupakan dasar untuk memahami bagaimana pemerintahan Airlangga membangun kembali tatanan politik, ekonomi, dan sosial di Jawa Timur secara bertahap.


Nilai yang Tetap Relevan


Sejarah Kahuripan menunjukkan bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pemerintahan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Air, tanah, dan sungai menjadi modal utama yang dikelola untuk kepentingan bersama. Semangat inilah yang masih relevan bagi Sidoarjo hingga kini—daerah yang tumbuh di atas Delta Brantas dan terus bergantung pada pengelolaan sumber daya air, pertanian, serta konektivitas antarwilayah.


Warisan terbesar Airlangga bukan hanya kerajaan yang ia dirikan, melainkan sistem pemerintahan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai bagian penting dari keberlangsungan negara. (Irwan)


Bersambung ke Babad Sidoarjo — Seri I: Babad Kahuripan, Bagian 5: "Warisan Kahuripan di Sidoarjo Modern: Dari Delta Brantas hingga Identitas Daerah."

Visitors : 2228294