KOMINFO Sidoarjo - Dinas Kesehatan/Dinkes Sidoarjo terus masifkan skrining HIV untuk mencegah penyebaran penularan HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo. Lokasilokasi berisiko tinggi penularannya akan dijamah untuk mendeteksi keberadaan virus mematikan tersebut. Dalam satu tahun ini, Dinkes Sidoarjo akan melakukan kegiatan skrining HIV sebanyak 60 kali. Sampai saat ini sudah 30 kali kegiatan skrining HIV itu dilakukan. Hasilnya tercatat 7.230 penderita HIV/AIDS yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Jumlah tersebut tercatat mulai dari tahun 2001 sampai pertengahan tahun 2026 ini.
Besarnya jumlah penderita HIV/AIDS itu bukan berarti penyebaran penyakit HIV di Sidoarjo semakin meningkat. Namun karena kegiatan skrining dan deteksi dini dari Dinkes Sidoarjo yang semakin meluas. Bulan Juli ini, Dinkes Sidoarjo akan kembali memulai skrining HIV. Sasarannya 30 titik tempat-tempat yang berpotensi tinggi terhadap penularan HIV. Pemeriksaan medis kepada pengunjung tempat tersebut akan dilakukannya. Seperti di lokalisasi terselubung maupun tempat hiburan malam. Harapannya ketika skrining HIV itu dimasifkan, penderita HIV/AIDS akan lebih awal memperoleh pengobatan Antiretroviral (ARV) untuk menjaga sistem kekebalan tubuh mereka. Dengan begitu, pencegahan perkembangan virus HIV menjadi AIDS dapat dilakukan dan akan memutus rantai penularannya ke orang lain.
“Harapannya nanti ketika ada skrining, ini viral load-nya (partikel virus HIV) juga sudah semakin sedikit dan tidak terdeteksi lagi, sehingga dia tidak berisiko untuk menularkannya,” ucap Kepala Dinas Kesehayan Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, usai mendampingi Sekda Sidoarjo Fenny Apridawati menggelar pertemuan dengan Delta Crisis Center di kantor Bupati Sidoarjo, Rabu sore kemarin, (22/7).
dr. Lakhsmie menyampaikan pendampingan akan terus dilakukan kepada mereka-mereka yang dinyatakan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Pendampingan dilakukan untuk memberikan dukungan emosional kepada mereka. Harapannya mereka dapat mengabaikan stigma masyarakat yang keliru terhadap penularan penyakit HIV/AIDS. Selain itu pendampingan penting dilakukan agar penderita HIV/AIDS lebih peduli terhadap penyakitnya dengan rajin minum obat ARV. Pendampingan juga melibatkan pihak-pihak yang peduli terhadap kondisi mereka seperti Yayasan Delta Crisis Center.
“Selain dari Dinas Kesehatan, juga ada sejawat yang melakukan pendampingan pada mereka-mereka yang dinyatakan dengan ODHA, seperti Yayasan Delta Crisis Center ini. Jadi pendampingan sifatnya adalah untuk memberikan support supaya stigma masyarakat ini juga berkurang, kemudian yang bersangkutan juga rajin untuk minum ARV,” ucapnya.
Ia juga mengatakan sosialisasi HIV/AIDS juga akan terus dilakukan. Seluruh Puskesmas telah rutin memberikan sosialisasi bahaya penularan HIV/AIDS kepada masyarakat. Rencananya ia akan mengggandeng sekolah maupun perusahaan agar upaya penanggulangan penyebaran HIV/AIDS lebih masif lagi. Lewat sosialisasi tersebut diharapkan akan mendorong perubahan perilaku masyarakat, khususnya kalangan remaja dan usia produktif terhindar dari aktivitas berisiko tertular HIV/AIDS. Seperti perilaku seksual berisiko dan penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) menggunakan jarum suntik bergantian.
“Seluruh Puskesmas sudah memberikan sosialisasi. Dan ini rencananya kami juga akan bekerjasama dengan sekolah, dengan perusahaan, supaya pencegahan penularan HIV ini lebih masif lagi,” bebernya.
dr. Lakhsmie juga mengatakan terdapat 60 kasus penderita HIV/AIDS di usia 11 sampai dengan 17 tahun. 60 kasus itu terhitung sejak tahun 2001 sampai dengan pertengahan tahun 2026 ini. Dari 60 kasus sejak 25 tahun lalu itu diketahui 7 anak telah meninggal dunia. Sehingga saat ini terdapat 53 penderita HIV/AIDS ber usia 11 sampai dengan 17 tahun. Mereka saat ini masih mendapatkan pengobatan dan pendampingan intensif dari Dinkes Sidoarjo. Ia sampaikan penularan HIV/AIDS usia pelajar tersebut akibat pergaulan yang tidak sehat. Temuan dilapangan yang cukup besar karena hubungan sesama jenis. Hubungan Lelaki Sama Lelaki (LSL) menjadi faktor pemicu penularan HIV/AIDS kepada pelajar.
“Karena ini usia-usia yang relatif rasa keingintahuannya besar, bisa jadi karena dampak dari media sosial, kemudian dari coba-coba, kemudian juga dari pergaulan bisa. Sehingga akhirnya kami temukan di lapangan LSL-nya tuh cukup besar, seperti itu. Itu yang kami temukan di lapangan,” ucapnya.
Ia menghimbau masyarakat agar tidak memiliki stigma negatif terhadap penderita HIV/AIDS. Apalagi mendiskriminasikan mereka. Masyarakat perlu paham cara penularan virus HIV tersebut. Sentuhan fisik biasa seperti berjabat tangan atau berpelukan tidak menularkan virus HIV. HIV juga dipastikan tidak menular lewat keringat, air mata, maupun gigitan nyamuk. Virus HIV sendiri tidak dapat bertahan hidup lama di luar tubuh manusia. “Penularan virus HIV umumnya terjadi melalui hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, atau dari ibu positif HIV ke bayi selama kehamilan dan menyusui,” jelasnya.
Disampaikannya, ODHA atau penderita HIV/AIDS harus rajin minum ARV. ARV wajib dikonsumsi meski penderita merasa kondisi tubuhnya sudah sehat. Berobat rutin sesuai jadwal yang ditentukan, minum ARV sesuai dosisnya dan waktunya akan menekan pertumbuhan virus mematikan tersebut.
“Meski dia tidak berisiko untuk menularkan, tetap dia harus minum ARV-nya. Jadi jangan sampai kondisi sudah merasa enak tidak melanjutkan. Jadi saran kami adalah tetap berobat rutin sesuai dengan yang ditentukan, baik dosisnya maupun waktunya,”pungkasnya. Git
Visitors : 2007407