Ke Berita

Menelusuri Punden Kepuh Randegan: Jejak Sejarah dan Warisan Leluhur

21 Jul 2026 | Dewi Zumrotus Sholihah Dilihat : 68

KOMINFO, Sidoarjo - Rindangnya pepohonan besar menyambut setiap orang yang memasuki Punden Kepuh di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo. Di balik keteduhan itu, berdiri sebuah kompleks makam tua yang hingga kini masih dijaga dan dihormati masyarakat sebagai bagian dari sejarah lahirnya desa.


Suasana di kawasan punden terasa tenang. Burung-burung bersahutan dari balik pepohonan, sementara angin berembus pelan di antara dedaunan. Di tengah lingkungan yang masih asri itu, lebih dari 20 makam tua berjajar rapi. Sebagian nisannya terbuat dari batu andesit dengan bentuk sederhana dan motif flora yang mulai aus dimakan usia.


Belum ada penelitian arkeologi yang memastikan kapan kompleks makam tersebut dibangun ataupun siapa saja tokoh yang dimakamkan di dalamnya. Namun bagi masyarakat Randegan, Punden Kepuh bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan ruang yang menyimpan ingatan kolektif tentang asal-usul desa dan jasa para leluhur.


Di antara makam-makam tua itu terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai tempat peristirahatan terakhir Suryo Wiryodiharjo, atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Sosro. Dalam tradisi lisan yang berkembang, Mbah Sosro dihormati sebagai pembabat alas Desa Randegan dan tokoh yang meletakkan dasar kehidupan masyarakat.


Suyadhim (72), juru kunci Punden Kepuh, mengatakan cerita mengenai Mbah Sosro dan sejarah punden diterimanya secara turun-temurun dari para sesepuh desa.


"Cerita ini saya terima dari juru kunci sebelumnya dan para sesepuh. Tugas saya sekarang menjaga makam sekaligus meneruskan cerita itu kepada generasi berikutnya agar tidak hilang," ujar Suyadhim.


Menurutnya, masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga mendoakan para leluhur yang diyakini berjasa membuka wilayah tersebut.


"Yang datang ke sini biasanya berdoa. Kami mengingat jasa para leluhur yang membuka desa ini. Itu yang selalu kami jaga," katanya.


Di kompleks Punden Kepuh, waktu seakan berjalan lebih lambat. Pepohonan tua menaungi makam-makam yang telah bertahan melewati berbagai zaman. Sebagian nisan menunjukkan bentuk yang lazim ditemukan pada makam-makam Islam kuno di Jawa. Meski demikian, penentuan usia maupun periodisasi situs tetap memerlukan penelitian arkeologi yang komprehensif sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan bentuk nisan.


Menurut penuturan Suyadhim, para sesepuh desa meyakini Mbah Sosro hidup pada masa kejayaan Kesultanan Mataram. Keterangan tersebut merupakan bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan belum didukung sumber sejarah tertulis.


Bagi masyarakat Randegan, nilai penting Punden Kepuh bukan hanya terletak pada usia makam, tetapi juga pada tradisi yang terus dipelihara hingga sekarang.


Setiap tahun, warga menggelar Tradisi Keleman, yaitu syukuran setelah masa tanam padi. Warga membawa tumpeng dan hasil bumi ke Punden Kepuh sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur. Pada malam harinya, tradisi tersebut biasanya dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi bagian dari pelestarian budaya desa.


Seorang warga Randegan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan keberadaan Punden Kepuh menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan sejarah desanya.


"Sejak kecil kami diajak orang tua datang ke punden saat ada Keleman. Kami diajari menghormati leluhur, bukan menyembahnya. Ini bagian dari sejarah desa yang harus dijaga," ujarnya.


Penghormatan terhadap leluhur, menurut warga tersebut, juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat. Tradisi tahunan itu mempertemukan warga lintas generasi dalam satu ruang kebersamaan.


Antropolog Koentjaraningrat dalam Pengantar Ilmu Antropologi menjelaskan bahwa tradisi merupakan bagian dari sistem budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui tradisi, masyarakat tidak hanya menjaga peninggalan fisik, tetapi juga mempertahankan nilai, pengetahuan, dan identitas budaya yang membentuk kehidupan bersama.


Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Warisan Budaya Takbenda yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tradisi, pengetahuan lokal, dan cerita yang diwariskan secara lisan merupakan bagian dari kekayaan budaya yang layak didokumentasikan dan dilestarikan.


Hingga kini, Punden Kepuh masih berdiri tenang di tengah Desa Randegan. Mungkin belum semua kisah yang tersimpan di balik makam-makam tua itu berhasil diungkap melalui penelitian sejarah. Namun bagi masyarakat setempat, nilai terpenting bukan semata usia situs atau siapa yang dimakamkan di dalamnya, melainkan penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka jalan bagi lahirnya sebuah desa.


Di tengah arus modernisasi, Punden Kepuh tetap menjadi ruang tempat sejarah, tradisi, dan ingatan kolektif masyarakat Randegan terus hidup. Warisan itu dijaga bukan hanya melalui cerita yang dituturkan dari mulut ke mulut, tetapi juga melalui doa, gotong royong, dan Tradisi Keleman yang terus dilaksanakan dari generasi ke generasi. (Ir)

Visitors : 2000380