Ke Berita

Masjid Bahauddin Ngelom, Sidoarjo: Menyusuri Jejak Ulama dan Warisan Dakwah Islam

8 Jul 2026 | Dewi Zumrotus Sholihah Dilihat : 32

KOMINFO, Sidoarjo – Setiap bangunan tua menyimpan cerita. Namun, tidak semua mampu menjaga denyut sejarahnya hingga melintasi zaman. Di Desa Ngelom, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, berdiri sebuah masjid yang sejak ratusan tahun lalu menjadi pusat penyebaran Islam, pendidikan pesantren, dan pembinaan masyarakat. Masjid itu adalah Masjid Bahauddin Ngelom, sebuah rumah ibadah yang tidak hanya merekam perjalanan dakwah para ulama, tetapi juga mewariskan tradisi keilmuan yang terus hidup hingga hari ini.


Memasuki ruang utama masjid, suasana teduh begitu terasa. Empat saka utama berdiri kokoh menopang bangunan, sementara mihrab yang menghadap kiblat menjadi pusat perhatian setiap jemaah. Kesederhanaan arsitekturnya seolah menegaskan bahwa kemuliaan sebuah masjid tidak diukur dari kemegahan fisiknya, melainkan dari ilmu, akhlak, dan nilai-nilai Islam yang diwariskan kepada umat.


Sejarah panjang Masjid Bahauddin tidak dapat dipisahkan dari sosok Mbah Raden Ali, ulama yang oleh masyarakat Ngelom dikenang sebagai pelopor dakwah Islam di kawasan tersebut. Berdasarkan tradisi yang diwariskan keluarga besar Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah dan terdokumentasi dalam sejumlah penelitian, Raden Ali merupakan seorang bangsawan Jawa yang datang ke Ngelom sekitar akhir abad ke-17 untuk menyebarkan ajaran Islam.


Penelitian Achmad Ghani Rahardjo, peneliti Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, menjelaskan bahwa kedatangan Raden Ali menjadi titik awal berkembangnya kehidupan keagamaan di Ngelom. Melalui sebuah langgar sederhana yang didirikan sebagai tempat salat dan mengaji, beliau mengajarkan Al-Qur`an, fikih, dan akhlak kepada masyarakat. Dari pengajian yang semula hanya diikuti segelintir warga, perlahan tumbuh sebuah komunitas santri yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah, salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Kabupaten Sidoarjo.


Tradisi keluarga Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah juga menyebutkan bahwa Mbah Raden Ali memiliki hubungan silsilah dengan kalangan bangsawan Mataram yang ditelusurkan hingga Ki Ageng Selo. Silsilah tersebut merupakan bagian dari memori sejarah keluarga yang diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini tetap dijaga oleh keturunannya.


"Masjid Bahauddin sejak awal bukan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi menjadi pusat pendidikan agama. Dari sinilah masyarakat belajar mengaji, memahami ajaran Islam, dan lahir para santri yang kemudian menyebarkan dakwah ke berbagai daerah," demikian keterangan almarhum KH. Muhammad Sholeh Qosim, sesepuh Yayasan Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah, yang terdokumentasi dalam penelitian Achmad Ghani Rahardjo.


Dalam kajiannya, Achmad Ghani Rahardjo menjelaskan bahwa perkembangan Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah tidak dapat dipisahkan dari fungsi masjid sebagai pusat pembelajaran Islam. Aktivitas mengaji yang semula berlangsung secara sederhana kemudian berkembang menjadi sistem pendidikan pesantren yang terus bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi salaf yang menjadi ciri khasnya.


Di balik nama besar masjid ini, tersimpan kisah yang sarat makna. Bahauddin bukanlah nama pendiri masjid, melainkan putra sulung Mbah Raden Ali. Menurut riwayat keluarga, Bahauddin berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu agama. Namun, beliau wafat di Tanah Suci sebelum sempat kembali ke Nusantara dan dimakamkan di sana. Untuk mengenang semangatnya dalam mencari ilmu, keluarga kemudian mengabadikan nama Bahauddin sebagai nama masjid dan pondok pesantren.


"Nama Bahauddin dipilih sebagai bentuk penghormatan kepada putra pertama Mbah Raden Ali yang wafat ketika menuntut ilmu di Makkah. Semangat mencari ilmu itulah yang terus diwariskan kepada generasi pesantren," demikian penjelasan almarhum KH. Muhammad Sholeh Qosim dalam dokumentasi penelitian tersebut.


Bagi Achmad Ghani Rahardjo, keberlangsungan Pondok Pesantren Bahauddin Al-Ismailiyah menunjukkan bahwa masjid memiliki fungsi yang jauh melampaui tempat ibadah. Dalam penelitiannya, ia menegaskan bahwa masjid merupakan pusat pendidikan, pembinaan masyarakat, dan simpul penyebaran dakwah Islam yang membentuk kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Ngelom hingga sekarang.


Kini, ketika kawasan Taman tumbuh menjadi wilayah perkotaan yang semakin berkembang, Masjid Bahauddin tetap berdiri sebagai penanda sejarah. Azan masih berkumandang lima kali sehari, para santri masih tekun membuka lembar demi lembar kitab kuning, dan masyarakat masih menjadikan masjid sebagai tempat belajar, bermusyawarah, sekaligus mempererat persaudaraan.


Masjid Bahauddin Ngelom mengajarkan bahwa warisan sejarah tidak hanya diwariskan melalui bangunan yang tetap tegak berdiri, tetapi juga melalui ilmu yang terus diajarkan, akhlak yang terus diteladankan, dan dakwah yang terus hidup di tengah masyarakat. Selama nilai-nilai itu tetap dijaga, jejak Mbah Raden Ali dan para penerusnya akan terus menjadi bagian penting dari khazanah sejarah Islam di Kabupaten Sidoarjo. (Irwan Susanto)

Visitors : 1958284