KOMINFO, Sidoarjo - Di ruang penyimpanan yang tenang, tersusun lembaran-lembaran rapuh berusia ratusan tahun. Tulisan tangan dengan aksara yang tak lagi umum dibaca itu bukan sekadar benda kuno. Ia menyimpan cerita tentang cara hidup, cara berpikir, dan nilai-nilai masyarakat masa lalu.
Naskah kuno-yang ditulis di atas lontar, daluang, atau kertas-menjadi salah satu sumber sejarah tertua yang dimiliki bangsa ini. Namun, di tengah laju teknologi dan budaya instan, keberadaan naskah-naskah tersebut kerap terlupakan.
Padahal, kajian terhadap naskah kuno bukan hanya soal masa lalu. Ia juga berkaitan langsung dengan masa depan generasi sekarang, termasuk arah pembangunan manusia dan daerah.
Kesadaran akan pentingnya warisan budaya tertulis ini mulai tumbuh di tingkat lokal. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo menggelar rapat koordinasi naskah kuno dengan menghadirkan sejarawan, budayawan, filolog, serta keluarga pemilik naskah kuno di wilayah Sidoarjo. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari, bertempat di lantai 2 kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo.
Rapat koordinasi ini menjadi ruang dialog antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam upaya menyelamatkan serta mendokumentasikan naskah kuno sebagai bagian dari literatur sejarah lokal.
Kepala Bidang Pengolahan, Layanan, dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sidoarjo, Erna Kusumawati, menyatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk memetakan keberadaan naskah kuno yang masih tersimpan di tangan masyarakat.
“Melalui rapat koordinasi ini, kami ingin menginventarisasi naskah-naskah kuno yang ada di Sidoarjo sekaligus membangun kesadaran bersama bahwa naskah tersebut adalah sumber penting bagi penulisan sejarah daerah,” ujar Erna Kusumawati.
Ia menambahkan, hasil pendataan naskah kuno ke depan akan menjadi dasar bagi upaya pelestarian dan digitalisasi.
“Jika naskah-naskah ini dapat dikaji dan dilestarikan dengan baik, maka masyarakat akan memiliki sumber literatur sejarah yang lebih lengkap. Ini penting untuk mendukung pembangunan manusia yang berakar pada identitas dan nilai lokal Sidoarjo,” tambahnya.
Mengapa Naskah Kuno Penting?
Menurut filolog dan pakar manuskrip Nusantara, Oman Fathurahman, naskah kuno merupakan sumber pengetahuan yang belum sepenuhnya tergali.
“Naskah kuno bukan hanya teks lama, tetapi memuat cara berpikir masyarakat pada zamannya, mulai dari hukum adat, pengobatan, hingga pandangan hidup,” jelas Oman Fathurahman dalam sejumlah kajiannya tentang manuskrip Nusantara.
Banyak peristiwa sejarah lokal tidak tercatat dalam buku sejarah resmi, tetapi tersimpan dalam hikayat, babad, atau syair. Tanpa penelitian filologis, isi naskah itu akan sulit dipahami karena menggunakan bahasa dan aksara lama.
Kajian naskah kuno menjadi penting untuk:
• membuka kembali sejarah yang tersembunyi,
• melestarikan identitas budaya bangsa,
• serta menyelamatkan pengetahuan tradisional.
Dalam konteks daerah seperti Sidoarjo, naskah kuno berpotensi menjadi sumber untuk merekonstruksi sejarah local-tentang asal-usul wilayah, tradisi masyarakat, hingga dinamika sosial dan ekonomi masa lalu. Literatur sejarah berbasis naskah ini melengkapi arsip kolonial dan sumber modern yang selama ini lebih dominan dalam penulisan sejarah.
Manfaat bagi Ilmu dan Masyarakat
Secara akademik, naskah kuno menjadi bahan penelitian lintas disiplin: filologi, sejarah, linguistik, hingga antropologi. Namun manfaatnya tidak berhenti di ruang kampus.
Peneliti manuskrip Nusantara, Henri Chambert-Loir, menyebut bahwa naskah merupakan “arsip ingatan kolektif” masyarakat.
“Manuskrip adalah saksi tertulis dari peradaban yang membentuk identitas suatu bangsa,” tulis Chambert-Loir dalam kajiannya tentang khazanah naskah Indonesia.
Bagi masyarakat umum, hasil kajian naskah dapat:
• memperkaya pemahaman tentang asal-usul budaya,
• menjadi sumber pendidikan karakter,
• serta menjadi inspirasi karya kreatif, seperti novel sejarah, film, dan konten digital berbasis budaya lokal.
Sejarawan pemerhati situs dan prasasti, Sudi Harjanto, menilai bahwa naskah kuno memiliki peran strategis dalam memperkuat literatur sejarah daerah.
“Selama ini sejarah daerah banyak bertumpu pada arsip kolonial. Padahal, naskah kuno dapat memberikan perspektif lokal tentang bagaimana masyarakat memahami dirinya sendiri. Ini penting untuk membangun kesadaran sejarah yang lebih seimbang,” ungkap Sudi Harjanto.
Menurutnya, literatur sejarah yang kuat akan berdampak pada arah pembangunan daerah.
“Jika masyarakat memahami akar sejarah dan budayanya, maka pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan identitas manusia di daerah tersebut,” tambahnya.
Tantangan Meneliti Naskah Kuno
Meneliti naskah kuno bukan perkara mudah. Banyak naskah telah rusak karena usia, iklim tropis, dan kurang perawatan. Sebagian bahkan tersimpan di rumah-rumah warga tanpa perlindungan khusus.
Selain itu, aksara yang digunakan tidak lagi umum dikenal, seperti Jawi, Pegon, atau Kawi. Jumlah ahli filologi pun terbatas.
Titik Pudjiastuti menegaskan bahwa tantangan terbesar kajian naskah adalah minimnya regenerasi peneliti.
“Jumlah naskah sangat banyak, tetapi tenaga ahli yang mampu membaca dan menyuntingnya masih sangat terbatas,” tulisnya dalam jurnal Manuskripta.
Filolog dari Museum Mpu Tantular, Agustin Tri Ariyani, menilai bahwa persoalan utama bukan semata rendahnya kesadaran masyarakat.
“Literatur sejarah berbasis naskah kuno bukan hanya melengkapi arsip kolonial dan sumber modern yang selama ini lebih dominan dalam penulisan sejarah, melainkan justru membuka pemahaman baru akan ‘cacatnya’ data-data sejarah yang tersedia saat ini. Dengan membuka pengkodean sastra yang tersirat dalam naskah kuno, kita akan mampu melihat sejarah dengan tampilan tiga dimensi,” jelas Agustin.
Menurutnya, kendala utama justru terletak pada kurangnya pihak yang mampu menjembatani naskah lama dengan konteks kekinian.
“Bukan karena masyarakat tidak memahami nilai ilmiah naskah kuno, sebab masyarakat memahami sisi ilmiahnya dengan caranya sendiri. Kendalanya lebih pada minimnya pelaku yang menjembatani sastra lama ke sastra baru agar pesan leluhur dapat terelevansikan di masa yang berbeda,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa filologi tidak bisa berdiri sendiri.
“Oleh karena itu, kajian naskah harus berkolaborasi dengan keilmuan lain. Filologi hanyalah pembuka gerbang menuju disiplin ilmu lainnya,” ujarnya.
Agustin juga mengungkapkan kekayaan koleksi Museum Mpu Tantular dari sisi aksara dan bahasa.
“Koleksi naskah di Museum Mpu Tantular menggunakan beragam aksara, antara lain Jawa, Bali, Pegon atau Arab, Latin, dan Batak. Bahasanya pun beragam, mulai dari Jawa Kuno, Jawa-kebanyakan aksen pesisiran-Arab, hingga Batak,” jelasnya.
Relevansi bagi Generasi Digital
Bagi generasi sekarang, naskah kuno bukan hanya dokumen sejarah, tetapi juga sumber nilai. Banyak naskah memuat ajaran tentang kesederhanaan, keadilan, dan harmoni dengan alam—nilai yang masih relevan di tengah krisis sosial dan lingkungan.
Digitalisasi menjadi jembatan antara naskah kuno dan generasi muda. Melalui pemindaian dan unggahan daring, manuskrip dapat diakses lewat ponsel dan komputer.
Badan dunia seperti UNESCO menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya tertulis merupakan bagian penting dari perlindungan memori kolektif umat manusia.
“Warisan digital dan dokumentasi budaya perlu dilestarikan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang,” tulis UNESCO dalam Charter on the Preservation of Digital Heritage.
Dengan pendekatan digital, naskah kuno tidak lagi hanya menjadi koleksi museum, tetapi bisa menjadi bahan ajar, sumber riset, dan inspirasi kreatif. Bagi pemerintah daerah, digitalisasi naskah juga dapat menjadi bagian dari pengembangan literasi sejarah lokal dan promosi kebudayaan.
Menjaga Masa Lalu untuk Masa Depan
Kajian naskah kuno sejatinya adalah upaya menjaga ingatan bangsa. Di balik huruf-huruf tua itu tersimpan jejak peradaban, cara berpikir leluhur, dan nilai yang membentuk masyarakat hari ini.
Jika generasi sekarang mampu membaca dan memahami warisan itu, maka naskah kuno tidak akan tinggal sebagai artefak bisu. Ia akan terus berbicara—memberi pelajaran tentang siapa kita dan ke mana kita melangkah.
Dalam konteks pembangunan daerah, literatur sejarah berbasis naskah kuno dapat menjadi landasan kultural dalam merumuskan kebijakan. Pembangunan manusia tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang kesadaran sejarah, identitas, dan nilai-nilai lokal yang menuntun arah perubahan sosial.
Oleh: Irwan Susanto
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo, 20 Februari 2026
Sumber Referensi
Baried, S. B., dkk. (1994). Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.
Chambert-Loir, H., & Fathurahman, O. (1999). Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Sedunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Fathurahman, O. (2015). Filologi Indonesia: Teori dan Metode. Jakarta: Prenadamedia Group.
Pudjiastuti, T. (2006). “Naskah dan Kajian Naskah.” Manuskripta, 26(1).
UNESCO. (2003). Charter on the Preservation of Digital Heritage.
Visitors : 968463