2 Februari 2026
KOMINFO, Sidoarjo - Di banyak desa di Kabupaten Sidoarjo—dari kampung pesisir hingga wilayah agraris pedalaman—waktu tidak hanya diukur oleh kalender dan jam. Waktu juga ditandai oleh ritus kolektif: slametan desa, bersih desa, tahlilan, hingga selamatan gunungan. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan mekanisme sosial yang menjaga keseimbangan spiritual, solidaritas warga, dan identitas Islam Nusantara yang hidup di tengah masyarakat.
Di tengah modernisasi dan industrialisasi yang cepat, ritual-ritual ini tetap bertahan—bahkan menemukan relevansi barunya.
Slametan Desa: Kebersamaan yang Senyap tapi Kuat
Istilah slametan berasal dari kata Jawa slamet, yang berarti selamat, tenteram, dan sejahtera. Di desa-desa Sidoarjo, slametan digelar pada momen-momen penting: awal musim tanam, panen, peristiwa desa, hingga doa keselamatan bersama.
Antropolog Koentjaraningrat menempatkan slametan sebagai inti kehidupan sosial Jawa.
“Slametan adalah upacara terpenting dalam sistem religi masyarakat Jawa karena berfungsi menjaga keseimbangan sosial dan harmoni hidup bersama.”
— Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa
Dalam praktiknya, semua warga duduk sejajar, makan dari hidangan yang sama, dan memanjatkan doa yang sama. Tidak ada jarak status sosial. Kebersamaan itu tidak riuh, tetapi justru kuat karena dilakukan berulang kali lintas generasi.
Bersih Desa: Merawat Ruang, Merawat Hubungan
Ritual bersih desa di Sidoarjo menggabungkan kerja bakti, doa bersama, dan makan kolektif. Lingkungan fisik dibersihkan, tetapi yang lebih penting adalah relasi sosial yang dirawat.
Sejarawan budaya Jawa Timur Agus Sunyoto melihat tradisi semacam ini sebagai bentuk etika sosial masyarakat Nusantara.
“Tradisi bersih desa bukan sekadar ritual simbolik, melainkan cara masyarakat membangun tanggung jawab kolektif terhadap ruang hidupnya.”
— Agus Sunyoto, sejarawan & budayawan
Bersih desa menjadi ruang temu lintas generasi. Anak-anak belajar bahwa desa bukan milik individu, tetapi milik bersama—dan karena itu harus dijaga bersama.
Tahlilan Kolektif: Empati Sosial dalam Waktu Duka
Saat duka datang, desa tidak membiarkan warganya sendirian. Tahlilan menjadi ruang kolektif untuk berdoa sekaligus menunjukkan empati sosial. Warga hadir, membantu, dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan.
Cendekiawan Muslim KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menegaskan makna sosial dari tradisi semacam ini:
“Agama di Indonesia hidup bukan hanya di kitab, tetapi di tradisi sosial yang menguatkan kemanusiaan.”
— KH. Abdurrahman Wahid
Di desa-desa Sidoarjo, tahlilan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mekanisme sosial untuk menjaga kohesi komunitas.
Gunungan Tempe Sedengan–Mijen–Krian: Simbol Syukur dan Identitas Rakyat
Di wilayah Sedengan, Mijen, dan Krian, slametan menemukan ekspresi khas melalui Selamatan Gunungan Tempe. Tempe—pangan rakyat—disusun menjadi gunungan, didoakan, lalu dibagikan kepada warga.
Tokoh budaya Sidoarjo, (alm.) Mbah Sastro, sesepuh desa Sedengan, pernah menyebut makna gunungan tempe dengan sederhana:
“Gunungan tempe itu doa yang bisa dimakan bersama. Supaya rezeki tidak berhenti di satu tangan.”
Pernyataan ini mencerminkan filosofi dasar tradisi: syukur, kebersamaan, dan keadilan sosial. Tempe dipilih karena ia merakyat, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menjadi simbol ketahanan pangan lokal.
______________
Islam Nusantara yang Hidup di Desa
Ritual slametan, bersih desa, tahlilan, dan gunungan tempe menunjukkan wajah Islam Nusantara—Islam yang tumbuh bersama budaya lokal, bukan meniadakannya.
Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menegaskan:
“Islam Nusantara adalah Islam yang ramah budaya, tidak memutus tradisi, tetapi memaknainya.”
Di Sidoarjo, Islam hadir di masjid, pesantren, sekaligus di dapur warga, balai desa, dan halaman tempat gunungan tempe dibagikan.
Makna bagi Generasi Muda
Bagi generasi muda, tradisi desa mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya terdapat nilai-nilai besar:
• Kebersamaan di tengah individualisme
• Empati sosial di era digital
• Identitas kolektif di tengah perubahan cepat
Tradisi desa bukan romantisme masa lalu, melainkan arsitektur sosial yang membuat masyarakat tetap utuh.
Referensi & Sumber
• Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa
• Clifford Geertz, The Religion of Java
• Arsip & kajian Islam Nusantara – PBNU
• Dokumentasi budaya desa Sedengan–Mijen–Krian, Sidoarjo
• Wawancara dan penuturan tokoh budaya lokal
• Dinas Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo
Visitors : 936679