Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
Workshop 1000 HPK menjawab Perrmasalahan Stunting yang terjadi di Indonesia
Dilihat
651
Penulis:
2015-12-03 04:07:29




HUMAS PROTOKOL, Sidoarjo - Ketahanan pangan selalu dikaitkan dengan masalah kekurangan gizi. Masalah kurang gizi ini bukan hanya disebabkan kurangnya pangan, tingginya angka kemiskinan dan memburuknya perekonomian juga sangat berpengaruh. Selain itu, masalah sanitasi yang buruk, pemberdayaan perempuan, fasilitas umum yang buruk, kurangnya konsumsi garam beryodium, bahkan pemberian ASI eksklusif dan imunisasi yang tidak dilakukan seorang ibu kepada anaknya.

Beberapa masalah tersebut menunjukkan bahwa masalah kekurangan gizi yang berujung pada ketahanan pangan bukan hanya masalah teknis, tetapi juga masalah kebiasaan setiap individu untuk dapat membiasakan hidupnya memenuhi gizinya sendiri termasuk gizi anak sejak kandungan.

Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Badan Ketahanan Pangan terus berupaya mengatasi masalah ketahanan pangan ini. Dan dalam rangka memperingati 1000 Hari  Pertama Kehidupan (HPK). Badan Ketahan Pangan Kabupaten Sidoarjo melaksanakan workshop Keamanan Pangan dan Gizi  1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang di buka oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo H. Vino Rudi Muntiawan, SH, dan juga selaku Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Sidoarjo, di Ruang Rapat Delta Graha Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Sidoarjo, kemarin (2/12).

Menurut Drs. Sudibyo, M.Si Kepala Bagian Administrasi Perekonomian dan SDA Setda Kabupaten Sidoarjo, selaku ketua panitia melaporkan bahwa salah satu masalah gizi yang menjadi perhatian utama saat ini adalah masalah masih tingginya anak balita pendek (stunting), terutama di Kabupaten Sidoarjo. Dan sebenarnya anak balita mengalami masalah stunting ini bukan disebabkan masalah keturunan, tetapi disebabkan oleh rendahnya asupan gizi dan penyakit berulang yang didasari oleh lingkungan yang tidak sehat.

Dan pada umumnya anak balita yang mengalami masalah stunting, tidak saja mengalami masalah pertumbuhan tetapi juga masalah kecerdasan. Umumnya balita yang mengalami stunting ini memiliki kecerdasan lebih rendah dibanding anak balita normal.

Merry sunarto, dari FKM Unair Surabaya, selaku nara sumber lebih mempertegas bahwa 1000 Hari Pertama Kehidupan diawali selama 9 bulan ibu hamil atau 270 hari dalam kandungan, serta pada 2 tahun pertama pertumbuhan anak atau selama 730 hari. Tahap – tahap pemberian Gizi ini harus disesuaikan dengan perkembangan mulai dalam kandungan hingga lahir, dengan memberikan makanan yang beragam, bergizi, berimbang dan aman, sehingga anak balita bisa tumbuh dengan baik dan mengenal rasa – rasa dari makanan dengan baik. Dan makanan yang baling baik dan pada masa balita, terutama pada fase 6 bulan pertama adalah Air Susu Ibu (ASI), mengingat 90 % potensi kecerdasan otak tercapai pada masa balita.

Kurangnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi 0 – 6 bulan juga merupakan salah satu indikator kekurangan gizi di Indonesia. Kecenderungan ibu di Indonesia lebih senang memberikan susu formula dibandingkan memberikan ASi eksklusif karena alasan kesibukan sebagai wanita karier. Permasalahan ini juga harus menjadi perhatian bagi pihak-pihak terkait yang untuk dapat mengurangi permasalahan kekurangan gizi di Indonesia. Pemerintah meluncurkan Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam upaya perbaikan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia.


Sementara itu bapak Adriyanto, SH, M.Kes Direktur Akademi Gizi surabaya dan juga Dewan Redaksi Tabloid Global Sehat, yang juga sebagai narasumber dalam workshop HPK ini menjelaskan bahwa Indonesia termasuk 17 negara dari 117 negara yang mempunyai masalah stunting, wasting dan overweight.  Dan masalah yang dihadapi generasi penerus bangsa saat ini di Indonesia adalah kurang gizi, kurang sehat dan kurang Cerdas.

Untuk itu, gerakan 1000 HPK dalam rangka mewujudkan generasi sehat, terutama di Kabupaten Sidoarjo mempunyai nilai strategis sebagai awal dalam mewujudkan generasi bangsa yang lebih berkualitas.  (humas/en)