Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
Masyarakat Sidoarjo dan Mojokerto Peringati Gugurnya KH. Nawawi
Dilihat
518
Penulis:
2015-11-08 11:53:03




HUMASPROTOKOLSidoarjo.- Gugurnya pejuang syuhada kemerdekaan KH. Nawawi diperingati oleh masyarakat Sidoarjo dan Mojokerto dengan melakukan napak tilas kemarin, Sabtu (6/11). KH. Nawawi yang gugur di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Kecamatan Sukodono menjadi tempat start napak tilas menuju Pondok Pesantren An-Nawawi Kota Mojokerto. Kegiatan untuk yang keempat kalinya digelar kemarin malam tersebut diikuti ribuan orang.


Penjabat (PJ) Bupati Sidoarjo Drs. Ec. Jonathan Judianto M.MT serta Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Sullamul Hadi Nurmawan dan Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) hadir dalam kegiatan tersebut. Secara bergiliran pejabat daerah yang hadir memberangkatkan napak tilas yang dimeriahkan dengan undian 1 unit sepeda motor tersebut.  


Sebelum dimulai napak tilas, aksi teatrikal yang mengkisahkan gugurnya perjuangan KH. Nawawi melawan penjajah Belanda disuguhkan Banser Sooko Mojokerto. Dalam teatrikal tersebut digambarkan KH. Nawawi yang kebal ditembak akhirnya gugur dengan empat luka tusukan pisau bayonet tentara belanda tepat di lehernya. Ditempat gugur itulah akhirnya di buatkan monumen gugurnya KH. Nawawi pada tanggal 22 Agustus 1946 di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Sukodono dalam melawan Belanda.


PJ Bupati Sidoarjo Jonathan Judianto merasa bangga digelarnya napak tilas tersebut. Ia mengatakan kegiatan tersebut sebagai bukti generasi muda penerus bangsa menghargai jasa-jasa pahlawannya. Ia berharap napak tilas seperti ini akan menjadi tradisi untuk dilestarikan dan dikembangkan.


Saya merasa bangga, kita sebagai generasi penerus bangsa akan terus melaksanakan dan terus mendharma baktikan hidup kita sebagai mana leluhur kita  yang telah berjasa membangun Indonesia, ucapnya.


Ketua DPRD Kabupaten Sidoarjo H. Sullamul Hadi Nurmawan mendukung kegiatan tersebut. Ia mengatakan napak tilas bukan sekedar berjalan kaki menuju tempat dimakamkannya KH. Nawawi di mojokerto. Namun kegiatan tersebut sebagai bagian untuk mengenang dan merasakan bagaimana perjuangan KH. Nawawi dalam mengusir penjajah.


Napak tilas bukan hanya sekedar berjalan tetapi bagaiman kita bisa meniru, bagaimana kita bisa merasakan perjuangan beliau melawan penjajah, ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut  salah satu cicit KH. Nawawi yang juga anggota DPRD Sidoarjo H. Khulaim Junaedi menceritakan riwayat perjuangan KH. Nawawi. Ia mengatakan KH. Nawawi yang lahir tahun 1886 di Dusun Les Padangan Desa Terusan Kabupaten Mojokerto merupakan pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pertamakali di Mojokerto. Saat remaja KH. Nawawi pernah menjadi santri KH. Hasyim Asyari di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Selain itu beliau juga pernah menjadi santri KH. Qosim Siwalan Panji Buduran Sidoarjo serta KH. Sholeh Mojosari dan KH.Kholil Kademangan Bangkalan.


Beliau aktif dalam organisasi keagamaan, beliau pendiri NU di mojokerto pertamakali pada tahun 1928, ucapnya.


H. Khulaim melanjutkan pada saat revolusi fisik, KH. Nawawi mejabat sebagai komandan laskar Sabilillah. Beliau turun langsung memimpin pergerakaan melawan penjajah. Wilayah yang menjadi pergerakannya meliputi Mojokerto, Kedamean Gresik dan sepanjang serta Sukodono Sidoarjo.


Aksinya gugur pada tanggal 22 Agustus tahun 1946 dikeroyok pasukan Belanda dengan menancapkan 4 tusukan pisau bayonet tepat dileher KH. Nawawi, ujarnya.


Masih diceritakan  H. Khulaim bahwa di Dusun Sumantoro Desa Plumbungan Kecamatan Sukodono inilah KH. Nawawi gugur dalam melawan penjajah. Jenazahnya kemudian di tandu oleh pasukan laskar Sabilillah menuju rumah duka di Kelurahan Jagalan Kecamatan Magersari Kota  Mojokerto. Dari rumah duka beliau dimakankan di pemakaman umum Desa Losari Kecamatan Gedek Kabupaten Mojokerto.


Pada malam hari inilah kita peringati perjalanan jenazah beliau dari Desa Plumbungan menuju kekediamannya pada tahun 1946 lalu, ucapnya. (humas/git)