Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
Bupati Sidoarjo Ajak Masyarakat Tidak Mendiskriminasikan ODHA
Dilihat
466
Penulis:
2015-09-14 03:26:17




HUMASPROTOKOLSidoarjo.- Perlakukan diskriminasi dan stigma buruk terhadap Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) diminta Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah SH,M.Hum tidak lagi dilakukan. Hal tersebut diungkapkannya saat membuka kegiatan Bina Kelompok Potensial Dalam Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Menuju Sidoarjo Bebas Diskriminasi HIV-AIDS di pendopo Delta Wibawa, Senin (14/9).


Ia mengatakan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA  masih sering terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Terjadinya diskriminasi tersebut dikarenakan ketidakpahaman seseorang akan HIV-AIDS. Penyakit HIV-AIDS tidak menular melalui sentuhan, udara, maupun bersalaman. Atau bahkan melalui ciuman, batuk, bersin atau memakai fasilitas umum bersama semisal memakai kolam renang atau toilet umum. Namun begitu banyak orang berfikir hal tersebut dapat menyebabkan penularan. Walaupun semua itu salah, penyakit AIDS sama dengan penyakit menular lainnya yang dapat dicegah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).


Untuk itu dalam kesempatan tersebut ia mengajak kepada seluruh masyarakat Sidoarjo untuk tidak lagi mendiskriminasikan ODHA. Sehingga upaya penanggulangan bahaya penularan HIV dan AIDS dapat terus terwujud.


Dalam kesempatan tersebut Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah mengatakan jumlah kasus HIV –AIDS di Kabupaten Sidoarjo setiap tahunnya selalu meningkat. Sampai dengan bulan Juni 2015, jumlah penderita HIV-AIDS sebanyak 1.485 orang. Ia merinci penderita dengan kondisi HIV ada sebanyak 816 orang dan kondisi AIDS 669 orang. Sedangkan yang sudah meninggal 348 orang.


Ia juga mengatakan penderita HIV-AIDS terbesar adalah kelompok  usia  produktif. Yakni berusia 25-49 tahun atau sebesar 79 %. Cara penularannya pun bermacam-macam. Seperti melalui Heteroseksual 39,9%, IDU ( Injectie Drug inUse/penguna NAPZA suntik) 19,8%, hubungan sesama lelaki 2,5%,  Perinatal (baru lahir) 2,8 %.


Melihat seperti itu, bupati Sidoarjo meminta pencegahan penularan penyakit HIV-AIDS harus benar-benar terus dilakukan. Melalui komitmen bersama serta upaya-upaya yang terkoordinasi, percepatan pelaksanaan penanggulangan bahaya penularan HIV dan AIDS akan dapat terwujud. Dengan demikian akan tercipta generasi muda yang kuat, tangguh dan berkualitas.


Hal senada juga diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Ika Harnasti bahwa peningkatan kasus HIV-AIDS dari tahun ketahun semakin cepat. Terutama dalam tiga tahun terakhir ini. Dari 34 propinsi di Indonesia, Propinsi Jawa Timur menempati urutan ke 2 setelah DKI. Kabupaten Sidoarjo sendiri termasuk lima kabupaten/kota dengan klasifikasi penderita HIV-AIDS diatas seribu kasus yang telah ditemukan. Ada 1.485 penderita yang teridentifikasi HIV-AIDS di Kabupaten Sidoarjo. Data tersebut terkumpul mulai tahun 2002 sampai hari ini.


Ia mengatakan stigma dan diskriminasi masyarakat kepada penderita HIV-AIDS berdampak pada meningkatnya jumlah kasus HIV-AIDS. Pasalnya tindakan tersebut membuat seorang yang diduga mengidap HIV-AIDS enggan untuk melakukan tes HIV-AIDS. Sehingga pengidap virus mematikan tersebut tidak berusaha untuk memperoleh perawatan yang semestinya serta cenderung menyembunyikan penyakitnya. Hal tersebut dapat memperburuk keadaan penyakit yang semestinya dapat dikendalikan menjadi meluas penyebarannya secara terselubung.  


dr. Ika juga mengatakan stigma terhadap ODHA masih terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Diskriminasi tersebut dikarenakan ketidak pahaman seseorang akan penyakit HIV-AIDS itu sendiri.   Kalau kita tahu cara penularan HIV-AIDS, saya kira masyarakat tidak perlu mendiskriminasi maupun berstigma kepada penderita HIV-AIDS, ujarnya.


Oleh karena itu melalui kegiatan tersebut masyarakat diberi pemahaman bagaimana penularan penyakit HIV-AIDS. Dengan demikian diskriminasi maupun stigma buruk kepada penderita HIV-AIDS tidak lagi terjadi. Untuk itu dalam kesempatan tersebut dua nara sumber dihadirkan. Yakni dari Dinas Kesehatan Sidoarjo serta Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sidoarjo. Dengan begitu informasi tentang HIV-AIDS dapat tersampaikan secara maksimal kesemua lapisan masyarakat.


Dalam kesempatan tersebut dr. Ika mengatakan keterlibatan tokoh agama maupun tokoh masyarakat adalah salah satu strategi untuk meminimalisir diskriminasi kepada ODHA. Peran tokoh agama maupun tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah peningkatan jumlah kasus HIV-AIDS di Kabupaten Sidoarjo. Untuk itu organisasi masyarakat dan tokoh agama di Kabupaten Sidoarjo di undang untuk mengikuti kegiatan tersebut. (humas/git)