Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
Bupati Sidoarjo : Konflik Antar Umat Beragama masih Menjadi Ancaman
Dilihat
226
Penulis:
2014-11-07 04:19:14




HUMASPROTOKOL,Sidoarjo.- Pengembangan kerukunan kehidupan beragama saat ini masih menjadi pekerjaan penting mengingat konflik antar umat beragama masih menjadi ancaman. Banyak faktor yang melatarbelakangi terciptanya konflik yang mengatasnamakan agama. Seperti kesenjangan ekonomi, perasaan pengucilan maupun ketidakadilan perilaku terhadap suatu kelompok umat beragama.


Hal tersebut diutarakan Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah SH,M.Hum dalam sambutannya saat menghadiri upacara Diksa Dwi Jati Jero Mangku Rusdiyanto di Pura Penataran Agung Margowening di Desa Balonggarut Kecamatan Krembung, Jumat (7/11). Ia mengatakan pokok utama terciptannya suasana yang kondusif tidak lain adalah kerukunan. Dengan kerukunan akan melahirkan karya-karya besar yang bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Sebaliknnya konflik pertikaian dapat menimbulkan kerusakan diberbagai segi kehidupan.


Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah mengatakan pertumbuhan industri dan jasa yang sangat pesat membuat Kabupaten Sidoarjo menjadi kota Urban dan penyangga Kota Surabaya. Sehingga lahirnya masyarakat yang heterogen atau bermacam-macam, termasuk keberadaan kehidupan umat beragama. Ia mengatakan membangun masyarakat yang heterogen bukanlah hal yang mudah. Apalagi bila dihadapkan dengan persoalan kepentingan antar umat beragama.


Untuk itu Bupati Sidoarjo H. Saiful Ilah meminta kepada masing-masing umat beragama hendaknya mempunyai rasa rendah hati terhadap sesama. Selain itu umat bergama diharapkan peka terhadap kondisi sosial dilingkungannya. Pasalnya pembangunan akan terlaksana dengan baik bila semua komponen masyarakat bisa menampilkan jati dirinya sebagai sosok yang rendah hati, responsif terhadap permasalahan sosial dan saling menghargai perbedaan yang ada.


Dengan kata lain, jika kita ingin masyarakat kita sejahtera maka tampilkan terlebih dahulu kerukunan diantara kita, ujarnya.


Sementara itu Wakil Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sidoarjo I Gusti Ketut Budiarta yang hadir mengatakan Diksa adalah upacara ritual untuk mengangkat seseorang menjadi Pandita bagi umat Hindu. Melalui Diksa, orang biasa ditahbiskan menjadi orang suci yang disebut Pandita. I Gusti Ketut Budiarta yang juga merangkap sebagai sekretaris PHDI Provinsi Jawa Timur mengatakan proses belajar untuk dapat menyandang gelar Pandita cukup lama. Selama satu tahun belajar penuh kepada guru tentang spiritual kepanditaan.


Beliau ini (Rusdiyanto yang berganti gelar Ida Romo Pandita Eko Dwijo Putra Keniten) berguru langsung di rumahnya gurunya, menginap selama satu tahun, tiap hari tidak mengenal waktu diajarkan spiritual kepanditaan, sampainya.


Dalam kesempatan tersebut Sidoarjo I Gusti Ketut Budiarta mengatakan ada tiga hal yang akan berubah jika seseorang sudah menyandang Pandita. Pertama Amaringaran atau berganti nama. Bila sudah menjadi  Pandita, nama maupun gelar akademik  yang mengikutinya akan ditanggalkan. Seperti Rusdiyanto yang sekarang berganti gelar Ida Romo Pandita Eko Dwijo Putra Keniten, nama yang telah diberikan oleh gurunya.


Gurunya sudah punya feeling cocoknya diberi nama apa, tapi depannya itu Ida Pandita, sampainya.


Yang kedua adalah Amariweise atau berganti pakaian. Pakaian yang dikenakan tidak boleh sembarangan. Seorang Pandita harus mengunakan pakaian yang memang hanya digunakan oleh seorang Pandita.


Kemanapun sudah standart, beliau mau pergi kemana tidak boleh aneh-aneh pake pakaian yang tidak semestinya, sampainya.


Dan yang ketiga yang harus berubah sampai I Gusti Ketut Budiarta adalah Amarisesana atau tingkah laku. Tingkah laku seorang Pandita adalah panutan bagi umatnya (Umat Hindu).


Jalan-jalan sembarangan apalagi melihat cewek itu tidak boleh sudah, sampainya.


Dalam upacara Diksa yang baru pertama kalinya dikukuhkan seorang Pandita asli warga Sidoarjo yakni Rusdiyanto sebagai Ida Romo Pandita Eko Dwijo Putra Keniten. Dwi Trisnawati istri dari warga asli Desa Balonggarut Kecamatan Krembung tersebut  juga di tahbiskan sebagai Ida Romo Pandita Eko Dwijo Putri Keniten. (humas/git)