Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
Wabup Cak Nur Beri Pengarahan kepada Da’i/Da’iyah Bagaimana Cara Menangkal Radikalisme
Dilihat
24
Penulis: Bidang Informasi Publik
02-04-2018




KOMINFO, Sidoarjo - Kondisi radikalisme yang kian deras di Indonesia, menjadi ancaman serius bagi bangsa ini. Keberadaan mereka dinilai akan mengancam Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu lah yang menjadi latar belakang Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ullama (LDNU) Sidoarjo menggelar Pelatihan Kader Dai, Minggu (31/3) di Aula kantor PCNU Sidoarjo Komplek Perum Airlangga.

Cak Nur selaku Wakil Bupati Sidoarjo memberikan sambutan pengarahan kepada 115 da’i/da’iyah untuk tetap menjaga niat yang tulus dalam berdakwah, lebih-lebih lagi dakwah dalam menangkal radikalisme. Menurut Cak Nur para dai/daiyah justru tidak boleh ikut anarkis dalam menangkal dakwah yang radikal, sebab metode dakwah yang dilakukan NU adalah dengan akhlak lemah lembut seperti yang dicontohkan oleh para wali songo.

“Dai/daiyah bisa menerapkan metode dakwah bagaimana strategi dakwah yang sudah dilakukan oleh walisongo bisa berhasil, pertama adalah niat yang lurus, kedua memberikan contoh yang baik atau dakwah dengan akhlakkul karimah, tanpa dasar kedua itu maka sulit dakwah kita bisa berhasil”, terang Cak Nur

Cak Nur juga menyampaikan pentingnya strategi dakwah di era digital dan kuatnya arus media sosial (medsos) sekarang, untuk itu para dai/daiyah harus aktif didunia medsos. “Penggunaaan medsos yang tepat akan menjadi strategi dakwah yang efektif dan mewarnai dunia medsos dengan tulisan yang baik, karena sekarang ini di medsos banyak berisi tulisan yang berbau SARA dan mengajak permusuhan satu sama lain, kepada para dai/daiyah pesan saya harus aktif gunakan medsos dalam berdakwah”, ujar Cak Nur

Ketua PC LDNU Sidoarjo, Qosim Wirai menjelaskan, pelatihan tersebut menekankan pada upaya pewarisan paham dan ajaran Aswaja, NU, dan Kebangsaan melalui jalur dan strategi dakwah. Upaya ini  kata dia, diharapkan dapat menekan ancaman radikalisme terhadap bangsa dan negara ke depan. "Dan sekaligus menjadi rintisan dan konsolidasi jaringan dai untuk menanamkan substansi ber-Islam dalam kesadaran umat serta membangun kecintaan hidup dan menghidupi lingkungan  di hati mereka," ujarnya. 

Untuk mewujudkan upaya-upaya di atas, pada pelatihan ini, para peserta dibekali setidaknya dengan tiga materi, yakni materi pertama Gambaran Umum Dakwah NU khususnya NU wilayah Sidoarjo. Materi ini disampaikan Ketua PWNU Jawa Timur KH. Hasan Mutawakkil Alallah. "Pada materi ini peserta dibekali konsepsi secara umum yang meliputi dakwah bil lisan, dakwah bil hal, dakwah bil qolam/bil kitabah/bit tadwin, dan dakwah bil qudwah kemudian dibawa pada situasi NU yang ada sekarang khusunya di Sidoarjo," jelasnya.

Materi kedua adalah Peta dan Strategi Dakwah Bil Kalam. Materi ini disampaikan KH. Husein Rifa’i. Pada materi ini peserta diajak menggunakan metode dakwah dengan ketrampilan menulis, baik melalui surat kabar, majalah, buku dan internet. "Tentunya dengan mendesain strategi dakwah yang efektif dan efisien yang mengcover ketiga jenis dakwah (dakwah bil lisan, dakwah bil qolam/bil kitabah/bit tadwin, dan dakwah bil medsos)," tuturnya.

Disamping itu, lanjut Qosim, peserta juga dikenalkan bagaimana strategi dakwah yang mampu menjawab maraknya radikalisme di dunia maya yang kian deras tak terbendung. Selanjutnya, untuk materi katiga adalah  Strategi Dakwah Digital, disampaikan KH. Ma’ruf Khozin. Pada materi ini para peserta diajak untuk menjelajahi cakrawala khazanah Aswaja An-Nahdliyah sebagai bekal masuk dakwah di media social. Sehingga makna aswaja yang dijadikan NU sebagai pijakan dalam ber Islam bisa dipahami orang yang lain meski mereka tidak masuk dalam organisasi NU.

Karena menurut Wosim yang terjadi sekarang ini pemahaman Aswaja diartikan sendiri-sendiri tidak ada rujukan dari Ulama, lebih banyak diambil dari internet, menurut Qosim ini bisa berbahaya, memahami Aswaja bukan dari Ulama tapi dari internet yang tidak jelas rujukannya. Untuk diketahui, pelatihan ini diikuti 115 peserta yang berasal dari delegasi MWCNU se-Sidoarjo, Lembaga dan Banom NU yang dipilih khusus untuk menjawab tantangan dakwah NU di Sidoarjo. (ir/kominfo).