Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
GOPTKI Kabupaten Sidoarjo Beri Pelatihan Strategi Pembelajaran K-13
Dilihat
224
Penulis: Bidang Informasi Publik
08-11-2017




KOMINFO,Sidoarjo- 300 orang guru TK se Kabupaten Sidoarjo mendapatkan pelatihan Strategi Pembelajaran Kurikulum 2013/K-13 oleh Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-Kanak Indonesia (GOPTKI) Kabupaten Sidoarjo, Selasa, (7/11). Kegiatan tersebut diselenggarakan di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo selama dua hari, tanggal 7 dan 14 Nopember. Dua narasumber dihadirkan dalam pelatihan tersebut. Narasumber pertama Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) DR.Hj. Gunarti Dwi Lestari M.Si, M.Pd kemudian Kepala Bidang Pembinaan Paud Dan Pendidikan Non Formal Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Dr. Dra. Sri Sutarsih, M.Si.

 

Pagi tadi kegiatan tersebut di buka oleh Ketua GOPTKI Kabupaten Sidoarjo Ny. Hj. Siti Sulandjari Djoko Sartono M.Si. Penasehat GOPTKI Kabupaten Sidoarjo Ny. Hj. Ida Nur Ahmad Syaifuddin serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo drs.H. Mustain M.Pd.i hadir dalam kesempatan tersebut.

 

Ketua GOPTKI Kabupaten Sidoarjo Ny. Hj. Siti Sulandjari Djoko Sartono mengatakan pelatihan tersebut diberikan untuk meningkatkan pembelajaran guru TK sesuai kurikulum 13. Ia katakan pembelajaran K 13 merupakan kewajiban seorang guru yang harus dijalankan. Amatlah berdosa apabila seorang guru salah melakukan strategi pembelajaran kepada anak didiknya. Untuk itu ia berharap penerapan pembelajaran K 13 dapat dijalankan oleh lembaga pendidikan TK yang ada. Lembaga TK diharapkannya melangkah sesuai dengan panduan dan pedoman yang ada. Sehingga nantinya apa yang dikerjakan dapat dipertanggung jawabkan.

 

"Ini adalah kewajiban dan harus dilaksanakan,"ucapnya.

 

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo drs.H. Mustain mengatakan kurikulum 2013 untuk TK  tidak pernah berubah sejak diterapkan. Namun pelaksanaanya masih ada sekolah TK yang belum memahaminya. Ia contohkan disekolah anaknya sendiri. Guru TK nya memberikan Pekerjaan Rumah/PR kepada anaknya.

 

Ia katakan TK bukanlah sekolah. Sesuai dengan namanya, TK adalah taman. Oleh karena itu  pembelajaran baca tulis tidak diharuskan di lembaga TK. Pemerintah juga melarang Sekolah Dasar/SD melakukan tes baca, tulis, hitung sebagai syarat penerimaan siswa didik baru. Larangan itu terus ia kampanyekan agar tidak ada lagi SD yang memberlakukan syarat penerimaan tersebut.

 

"Mari kita kembalikan pada khittahnya, khittahnya TK itu  bermain yang melekatkan karakter pada anak,"pintanya. (sigit/kominfo)