Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
P. PKK Kabupaten Sidoarjo Sosialisasikan GN-AKSA Kepada Anggotanya
Dilihat
54
Penulis: Bidang Informasi Publik
13-09-2017




KOMINFO,Sidoarjo- Kejahatan seksual terhadap anak yang banyak terjadi belakangan ini mengundang keprihatinan TP. PKK Kabupaten Sidoarjo. Upaya mencegah terjadinya kasus kejahatan seksual terhadap anak terus dilakukannya. Salah satunya dengan menggelar kegiatan sosialisasi GN-AKSA (Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak) di pendopo Delta Wibawa Sidoarjo. Kemarin, Kamis, (7/9), kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Ketua TP. PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Ida Nur Ahmad Syaifuddin. Kurang lebih 200 orang anggota TP-PKK kecamatan, desa dan kelurahan hadir dalam sosialisasi itu. Nanang Abdul Chanan narasumber dari Yayasan Plato Surabaya dihadirkan untuk memberikan informasi dan pemahaman terhadap kejahatan seksual terhadap anak.

 

Membacakan sambutan Ketua TP. PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Anik Saiful Ilah, Wakil Ketua TP. PKK Kabupaten Sidoarjo Hj. Ida Nur Ahmad Syaifuddin mengatakan anak sangat rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan. Kekerasan terhadap anak dapat terjadi dimana saja. Baik dirumah, sekolah, tempat bermain maupun tempat umum lainnya. Salah satu yang marak terjadi adalah Kejahatan seksual terhadap anak.

 

Oleh karenanya pemerintah berupaya mencegah dan memberantas kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak. Salah satunya dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual Terhadap Anak (GN-AKSA). Sejalan Inpres tersebut ia mengajak kepada seluruh anggotanya untuk memberikan pengasuhan dan perlindungan anak-anak dari berbagai bentuk kekerasan. Termasuk kekerasan dalam rumah tangga.

 

"Marilah kita asuh anak-anak kita dengan penuh kasih sayang dan penuh tanggung jawab,"pintanya.                       

 

Sementara itu Nanang Abdul Chanan narasumber dari Yayasan Plato Surabaya yang bergerak dibidang pemberdayaan mantan pecandu NAPZA mengatakan banyak faktor yang melatarbelakangi kejahatan seksual terhadap anak. Diantaranya lemahnya perlindungan terhadap anak baik dari orang tua, keluarga, lingkungan, sekolah maupun pemerintah. Selain itu maraknya pornografi melalui perkembangan tehnologi juga menjadi salah satu faktornya.

 

Ia juga mengatakan kurang peduli dan komunikasi orang tua terhadap anaknya menjadi pintu masuk kekerasan terhadap anak. Orang tua sibuk dengan pekerjaannya sehingga kurang berkomunikasi dengan anak menjadi salah satu faktor pemicu dari dalam keluarga. Kesibukan orang tua juga menyebabkan anak merasa tidak mendapatkan kasih sayang.  Faktor pemicu yang lain adalah lemahnya aturan main di keluarga.

 

Ia katakan ada beberapa ciri-ciri korban kejahatan seksual yang di identifikasi. Diantaranya selalu menarik diri dari lingkungan pergaulan, prestasi menurun, suka menghindar dari persoalan dan terkadang mimpi buruk yang berlebih. Bahkan ia katakan korban

kejahatan seksual berprilaku agresif.

 

Ia juga katakan anak korban kekerasan, berdampak pada psikologisnya. Seperti mudah curiga, tersinggung, berfikir negatif serta mudah putus asa. Sebagian terkecil mereka terjebak pembunuh, pemerkosa atau tindak kejahatan kejam lainnya. Dan sebagian kecil juga terjebak dalam narkoba maupun kehidupan malam. menggelandang. Dan sebagian besarnya mereka tetap berada didalam rumahnya.

 

Ia katakan anak yang rentan kejahatan seksual adalah anak yang penurut, tertutup maupun pendiam.

Anak dari keluarga tidak harmonis serta anak dari orang tua bercerai juga menyebabkan anak tersebut rentan terhadap kejahatan seksual.

 

Masih dikatakan Nanang ada beberapa ciri kita dapat mengenali pelaku pelaku kejahatan seksual anak. Seperti dekat dengan dunia anak, seseorang yang kesepian dan memiliki penyimpangan seksual serta orang yang tidak mampu berhubungan dengan lawan jenis yang setara dan melampiaskannya pada anak. Bahkan pelaku pernah menjadi korban kejahatan seksual.

 

Ia juga ungkapkan ada cara-cara pelaku kejahatan seksual anak untuk menggaet korbannya. Seperti memberikan perhatian lebih sehingga membuat anak merasa spesial, menampilkan diri sebagai orang yang di percaya di depan keluarga serta paham apa yang disukai dan tidak disukai anak. Cara lain pelaku mendekati korbannya adalah dengan memberikan mainan atau hadiah yang disukai sert