Kabupaten Sidoarjo
Sidoarjo Permai Bersih Hatinya
° C
664 Mahasiswa KKN – P3M UNUSA Menerima Pengarahan Wakil Bupati
Dilihat
331
Penulis: Bidang Informasi Publik
13-07-2017




KOMINFO, Sidoarjo - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Minggu (9/7) melepas 664 mahasiswa yang hendak mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) 2017. KKN tahun kedua ini dibagi dalam dua daerah berbeda yakni 520 mahasiswa akan berada di Jabon Sidoarjo, sementara sisanya akan melakukan KKN di Surabaya.

Upacara pelepasan dihadiri Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin, SH, Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unusa, Istas Pratono, dan Wakil Ketua LPPM, M.Ghofirin serta para dosen Unusa juga Camat Jabon Drs. Agus Sujoko, M.AP. 

Cak Nur sapaan akrab Wakil Bupati Sidoarjo sebelum membuka acara pelepasan menyampaikan bahwa peran mahasiswa sangatlah penting dalam pembangunan masyarakat, salah satunya melalui perwujudan KKN – P3M dari UNUSA (Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Pesantren Masyarakat) Universitas Nahdhlatul Ulama Surabaya.

Pengalaman yang paling membekas disaat menjadi mahasiswa adalah mengikuti program KKN, mahasiswa bisa langsung interaksi dengan masyarakat setempat, perserta diajak terlibat langsung menangani persoalan masyarakat sekaligus sebagai media belajar hidup dalam bermasyarakat

“Peserta KKN – P3M juga tinggal dengan masyarakat dalam jangka waktu minimal 1 bulan, untuk itu saya berharap peserta bisa memanfaatkan waktu yang singkat ini dengan sebaik – baiknya, inilah waktunya untuk mengaplikasinya ilmu selama belajar dikampus, saya harap pemerintah desa dan Camat Jabon juga memberikan dukungan dan bantuan yang diperlukan selama peserta menjalankan tugasnya di Kec Jabon ini”, terang Cak Nur

Rektor Unusa, Achmad Jazidie berpesan agar mahasiswa bisa menjaga nama baik Unusa ketika berada di tengah-tengah masyarakat. “Jaga nama baik almamater kalian. Jadilah Duta dari kampus Anda ini,” ujarnya.

Jazidie mengungkapkan KKN ini hendaknya bukan hanya dijadikan sebuah ritual untuk memenuhi tuntutan sistem kuliah semester (SKS). Namun mahasiswa harus memahami tujuan dari KKN itu sendiri sehingga mahasiswa bisa membangun kesadaran bahwa apa yang dilakukannya itu memiliki tujuan yang sangat mulia. “Kalau hanya untuk memenuhi SKS apa yang dilakukan itu tidak maksimal. Tidak akan tulus,” Tukasnya.


Selain itu, KKN ini sebagai sebuah langkah awal dan latihan bagi mahasiswa untuk belajar mengenal masyarakat luas sebelum mereka terjun langsung setelah lulusan kuliah. “Di sinilah mahasiswa bisa menuangkan ide-ide mereka. Misalnya ingin berbuat apa di desa KKNnya, silahkan dituangkan dan direalisasikan. Kalau berhasil maka hal itu akan menjadi sebuah prestasi tersendiri. Mengubah sesuatu menjadi lebih baik,” ungkapnya.

 

Kerjasama dengan Pemkab Sidoarjo

 

Dipilihnya Desa Jabon di Porong Sidoarjo bukan tanpa alasan. Unusa yang selama ini menjalin kerjasama yang baik dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo. Kerjasama selama ini adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Pemkab Sidoarjo baik di bidang pendidikan dan kesehatan.

Sehingga dengan kerjasama yang baik ini, Pemkab Sidoarjo meminta Unusa untuk mengirimkan mahasiswanya agar bisa melakukan KKN di salah satu desa di Kota Udang itu. “Kita respon dengan baik,” tandas Jazidie.

Karenanya ketika KKN kedua ini Unusa memilih Sidoarjo, Pemkab Sidoarjo langsung menunjuk Desa Jabon. Ada banyak alasan mengapa Jabon yang dipilih. Dikatakan Jazidie, Jabon memiliki potensi yang luar biasa namun belum tergarap maksimal potensi tersebut. Sehingga diperlukan peran serta mahasiswa untuk memaksimalkan potensi yang ada di desa itu.

“Di sana ada pertanian tambak, juga di sana ada bidang pendidikan yang perlu ditingkatkan. Pemkab Sidoarjo meminta kita melakukan itu. Selain itu, kami melihat Jabon juga merupakan lokasi yang menjadi sasaran Unusa untuk menjaring mahasiswa baru.

Fokus Pada Empat Program

Wakil Ketua LPPM Unusa, M.Ghofirin mengatakan untuk KKN kali ini, Unusa akan fokus pada tiga program. Yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi kreatif dan teknologi informasi. “Seperti tahun lalu kita membuatkan web untuk masyarakat agar bisa menjual potensi desa lewat dunia maya,” tuturnya.

Dari empat program itu, kata Ghofirin akan mengaku ke beberapa program unggulan di antaranya peningkatan kualitas kesehatan di masyarakat, pembelajaran dan pendidikan, seni, dan budaya. Selain itu dengan pemberdayaan ekonomi kreati